30 Hari Menjelajahi Alam Selandia Baru

Dilihat 250 kali

Setiap musim panas, ribuan petualang dari berbagai negara terbang mendatangi Selandia Baru dengan seribu satu alasan. Di sana ada begitu banyak tempat indah maupun aktivitas pembangkit adrenalin yang pantas berada di urutan teratas dalam bucket list mereka seperti berlayar menyusuri Milford Sound, mendaki Tongariro Crossing, bungee jumping di Queenstown, hingga skydiving di atas Lake Taupo atau Wanaka. Bagi penggemar trilogi The Lord of The Rings seperti saya, negara ini merupakan representasi paling nyata dari keelokan Middle Earth dengan hamparan pegunungan salju, danau biru dan bukit hijau yang memanjakan mata.

Sebagai seorang pejalan solo dengan anggaran dana terbatas, tantangan saya adalah mencari cara untuk menjelajahi dan menikmati setiap petualangan yang ditawarkan negara ini selama 30 hari. Dengan pertimbangan kemudahan dan fleksibilitas waktu, saya memutuskan untuk membeli sebuah tiket “hop on-hop off” dengan titik perhentian di 16 kota sepanjang Pulau Utara dan Selatan.

Wanaka skydive

Disebut hop on-hop off karena saya bebas turun dan tinggal selama yang saya mau di setiap titik tersebut dalam kurun waktu satu tahun. Setelah siap untuk melanjutkan perjalanan, saya tinggal menghubungi operator dan naik ke bus berikutnya di rute sama. Bus seperti ini juga biasa disebut sebagai backpacker bus karena hampir semua penumpangnya merupakan backpacker muda mancanegara.

Dari Auckland di utara hingga Milford Sound di bagian selatan dari Pulau Selatan, eksplorasi alamlah yang menjadi tujuan saya. Sebagian besar walking trails di pesisir pantai, taman nasional, bukit, tepi danau, hingga bekas tambang emas tua cukup mudah untuk dilakukan seorang diri serta tidak dikenakan biaya. Bagi saya, ini merupakan cara yang paling tepat untuk mengenal Selandia Baru dari dekat.

COROMANDEL PENINSULA

Cathedral Cove

Saya meninggalkan Auckland menuju Hot Water Beach, sebuah pantai di sisi timur laut Pulau Utara di mana mata air panas alami keluar dari sela-sela pasirnya. Tepat di saat air laut surut, siapapun bisa mengambil sekop dan mulai menggali untuk menciptakan kolam air panas pribadi.

Coromandel juga merupakan surga bagi pejalan kaki dengan banyaknya trek alam baik di hutan maupun pesisir pantai yang bisa ditempuh dalam hitungan jam hingga hari. Sebagai penyuka film, saya memilih untuk mendatangi Hahei dan menyusuri trek menuju Cathedral Cove, sebuah teluk dengan lengkung batu raksasa menyerupai gereja katedral yang menjadi lokasi film Narnia: Prince Caspian.

ROTORUA – TAUPO

Rotorua

Baik Rotorua maupun Taupo terkenal akan keindahan danaunya. Pemerintah setempat telah mengatur walking trails di sekitar Danau Rotorua yang terletak persis di tengah kota dan danau-danau lain di sekitarnya. Menyusuri danau seorang diri di pagi hari terasa khidmat dan menyegarkan. Berbagai tumbuhan pakis dan tanaman hijau mengiringi setiap langkah hingga tiba di geiser air panas dengan bau belerang menyengat di akhir perjalanan.

Taupo sendiri merupakan pusat beragam aktivitas seru penantang adrenalin di Pulau Utara. Meski demikian, alasan terbesar kedatangan saya ke kota ini adalah untuk melakukan pendakian Tongariro Crossing, yang didaulat sebagai ‘the best one day hike in New Zealand.’ Area ini bukanlah area pegunungan vulkanik biasa. Inilah tempat di mana Frodo berjuang melaksanakan tugasnya membuang cincin di kawah Gunung Ngauruhoe atau yang lebih dikenal dengan nama Mt. Doom.

TAMAN NASIONAL ABEL TASMAN

Abel Tasman

Setelah menyebrangi Selat Cook dari Wellington, pada minggu kedua saya tiba di Picton, kota pelabuhan di utara Pulau Selatan. Perjalanan selama hampir 3 jam membawa saya ke sebuah kota kecil bernama Kaiteriteri yang menjadi salah satu titik terdekat menuju Taman Nasional Abel Tasman. Taman nasional di tepi teluk ini memiliki jalur yang bisa dijelajahi dalam satu, tiga, hingga lima hari. Sebuah batu terbelah (split apple rock) di tepi teluk berpasir kuning keemasan dengan air laut berwarna hijau kebiruan seakan mengucapkan selamat datang. Di taman nasional ini kita bisa dengan leluasa menyaksikan singa laut dan jutaan bintang yang ada di galaksi Bima Sakti.

PUNAKAIKI

Punakaiki

Punakaiki Pancake Rocks dan Blowholes terletak di antara kota Westport dan Greymouth. Treknya bisa ditempuh dengan santai selama 20 menit dari jalan utama. Disebut batu ‘pancake’ karena struktur batunya terbentuk dari fragmen tumbuhan dan hewan laut sejak 30 juta tahun lalu di dasar laut. Gempa seismik diselingi dengan kekuatan air yang besar mengangkat lapisan bebatuan hingga ke permukaan. Perpaduan angin, hujan, dan air laut menggerus permukaannya hingga berlapis-lapis dan terlihat seperti pancake.

FRANZ JOSEF

Selandia Baru

Ketika menyusuri pantai timur Pulau Selatan, pegunungan Southern Alps mulai terlihat mendominasi. Semakin banyak salju yang menutupi puncak gunung, semakin cerah warna rumput yang menyelimuti dataran rendah di bawahnya, semakin jernih dan tenang pula perairannya. Untuk mengabadikan pemandangan tersebut, saya pergi menuju Lake Mathison, di mana hutan hijau dan puncak pegunungan salju terpantul dengan jelas di permukaannya.

Di kota Franz Josef saya mendaftarkan diri untuk ikut dalam pendakian glasier es yang memakan waktu selama delapan jam. Crampon yang terpasang di bawah sepatu boot membantu saya berjalan menapak setiap gua dan labirin es yang telah terbentuk selama ribuan tahun.

WANAKA & QUEENSTOWN

Wanaka

Wanaka merupakan tempat incaran saya untuk melakukan skydiving atau olah raga terjun payung. Adrenalin terpompa hebat karena gairah bercampur rasa takut ketika hendak melompat dari ketinggian 15 ribu kaki di udara. Perasaan campur aduk itu terbayar saat terbang bebas selama 60 detik sebelum parasut dikembangkan. Jika selama ini saya hanya menikmati keindahan Selandia Baru dengan menapak permukaannya saja, sekarang seluruh elemen alam itu terhampar cantik dilihat dari udara. Sambil mendarat turun, perlahan saya bisa mengenali puncak Fox glasier di utara hingga danau biru yang menghidupi ruang kota Queenstown dan Wanaka.

MILFORD SOUND

Milford Sound

Fiord atau perairan di sela-sela lereng gunung yang curam ini sering dinobatkan sebagai destinasi terbaik di dunia. Curah hujan di wilayah ini hampir 7 m/tahun. Artinya, Milford Sound menerima hujan sebanyak 200 hari dalam satu tahun. Ketika cuaca cerah, perairan yang tenang akan berwarna biru gelap sehingga setiap lika-liku lereng gunung terpantul dengan jelas di permukaannya. Sayangnya, hujan telah turun ketika kapal membawa saya berlayar melewati fiord yang mengalir menuju Laut Tasman.

Hujan memang menyebabkan saya tidak menjumpai cermin air yang terkenal itu, tetapi kabut dan air yang turun dari puncak bukit membuat suasana menjadi magis. Milford Sound memiliki beberapa tebing pantai tertinggi di dunia yaitu setinggi 1200 m di atas permukaan laut, dan tebing-tebing yang berada di kanan-kiri saya itu berubah menjadi ratusan cascade atau tirai air terjun berwarna putih keperakan.

***

Menjelajahi alam Selandia Baru menginspirasi pemikiran akan kehidupan sederhana yang dapat memicu rasa bahagia. Bahagia untuk berada di tengah alam yang dijaga dengan baik oleh pemerintah dan manusia yang hidup di sekitarnya.