Perjalanan Menuju Timbuktu

Dilihat 793 kali

“Silakan masuk,” ujar Ahmed sambil menyalakan senter. “Jangan khawatir, bangunan ini tidak akan runtuh walau telah berusia lebih dari seribu tahun.” Lelaki berpakaian djellaba dengan surban oranye itu berusaha menenangkan. Saya dan dua rekan seperjalanan berjalan memasuki jantung ksar secara perlahan. Baik lantai, dinding maupun langit-langitnya terbuat dari lumpur bercampur material organik yang telah mengeras. Terasa dingin, kasar dan bergelombang. Beberapa kali ruangan yang kami lewati hanya diterangi oleh secercah sinar dari lubang jendela di ruang berikutnya. Imajinasi kami terlempar jauh ke masa ketika budak masih berkeliaran dan diperjual-belikan di tempat ini.

Kami telah berkendara sepanjang hari menuju Ait Ben Haddou, sebuah ksar atau komplek perumahan kuno yang terletak di atas Lembah Ounila, Maroko selatan. Dengan benteng pertahanan berwarna cokelat kemerahan yang senada dengan bukit pasir di sekelilingnya, bangunan ini seolah-olah muncul begitu saja dari muka bumi. Di sekeliling lembah terhampar dataran kosong dengan perpaduan warna yang kontras dan liar. Tak heran jika film-film besar seperti Lawrence of Arabia, Gladiator, Prince of Persia hingga Game of Thrones menggunakan tempat ini sebagai setting lokasi.

Timbuktu

Perjalanan kami dimulai dari Casablanca, salah satu kota perdagangan terbesar dan terpenting di Afrika. Di sana garis petualangan saya bersinggungan dengan dua pejalan Prancis yang hendak melakukan perjalanan darat menuju Gurun Sahara di dekat perbatasan Aljazair. Paul dengan bangga menunjukkan kendaraan Land Rover 4WD tua miliknya yang dibawanya dari Toulouse. Setelah dua jam melewati Marrakesh, kami segera disambut oleh Pegunungan Atlas yang pada awal bulan Desember itu telah tertutup salju. Masih sulit dicerna rasanya mendapati gurun dan salju, dua hal yang terlihat sangat bertolak belakang, bisa duduk berdampingan.

Setelah menyaksikan matahari terbenam dari atas bukit, kami memutuskan untuk meninggalkan Ait Ben Haddou dan bermalam di Ouarzazate, kota yang dijuluki sebagai ‘pintu gerbang gurun’. Jika sekarang Ouarzazate menjadi tempat persinggahan para petualang seperti kami, jaman dulu tempat ini menjadi pemberhentian para pedagang yang hendak menuju Timbuktu di seberang selatan Gurun Sahara, ribuan kilometer jauhnya. Jalur yang kami lewati sekarang dikenal dengan sebutan ‘jalur garam’. Sejak abad ke-11, Timbuktu menjadi tempat pertemuan penting untuk menukar garam dan rempah yang dibawa dari Afrika utara dengan emas, gading, atau budak dari Afrika bagian barat dan selatan.

Timbuktu

“Dulu, butuh waktu 52 hari dengan unta untuk tiba ke Timbuktu,” ujar Paul sambil menunjuk ke sebuah papan di tepi jalan, tak jauh dari pintu masuk Zagora. Di papan tersebut tertulis ‘Tombouctu 52 jours’ dengan latar belakang musafir mengendarai unta di tengah gurun pasir. Ribuan pohon zaitun, kurma, serta ratusan ksar dan kasbah tua di sekitar Zagora mengingatkan kami bahwa tempat ini merupakan sebuah perkampungan oasis di tengah Lembah Draa yang telah tumbuh berkembang menjadi sebuah kota. Penduduknya merupakan percampuran antara suku pribumi Berber, Arab, dan Haratin—orang kulit hitam keturunan budak dari Sudan, yang sekarang hidup dari berjualan kerajinan tembikar.

Timbuktu

Pada hari berikutnya kami tiba di M’Hamid, peradaban terakhir sebelum memasuki Sahara. Di sana kami melihat jalan beraspal kian mengecil hingga akhirnya berhenti dan menghilang di tengah padang pasir. Nyali kami serta-merta menciut. Dari situ kami tahu kami butuh pemandu agar bisa kembali dengan selamat. Tak berapa lama kami telah duduk berdesakan di sebuah kantor pemandu perjalanan yang ada di sana. Semua lelaki termasuk dua rekan perjalanan saya berbicara dalam bahasa Prancis sambil mengembuskan asap rokok ke udara. Ada dua gumuk pasir yang bisa kami tuju, Erg Lehoudi (bukit pasir para Yahudi) yang mudah diakses dan Erg Chigaga yang lebih jauh dan terpencil. Tentu saja kami memilih yang kedua.

Timbuktu

Mobil melaju cepat di tengah kekosongan padang pasir tandus dan berkerikil. Permukaannya tampak datar namun badan kami sering tergoncang hebat. Kami berhenti sejenak di L'Oasis sacrée d'oum Lâalag, sebuah oasis yang disucikan karena dipercaya ada peri yang menjaga mata air yang terdapat di dalamnya. Pemandu kami bercerita bahwa barang siapa mencuri kurma dan minum dari mata air ini niscaya ia akan terkutuk menjadi kalajengking. Kami segera melanjutkan perjalanan karena masih ingin hidup sebagai manusia. Setelah satu jam berkendara, hamparan kerikil dan bebatuan mulai berangsur-angsur menghilang. Pasir kusam mulai berganti menjadi kuning keemasan dan bergelombang. Akhirnya, kami melihat kelokan bukit dan lembah Gurun Sahara.

Timbuktu

Setelah mengambil papan sandboarding dari mobil, Paul dan Pierre segera mengajak saya untuk berjalan ke bukit pasir tertinggi. Kami mengikuti sisa jejak kaki yang sebagian telah terhapus tiupan angin. Berjalan di atas bukit pasir sangatlah menantang. Sadar bahwa tidak mungkin menyamakan kecepatan dengan mereka, saya segera tertinggal di belakang. Dengan sebotol air minum di tangan saya berjalan zig-zag untuk mencari pijakan padat agar tidak terperosok terlalu dalam. Setelah jatuh bangun selama lebih dari 30 menit, dari puncak bukit saya bisa melihat kedua pemuda Prancis itu telah bergantian meluncur cepat di atas permukaan pasir.

Timbuktu

Ketika tiba giliran saya untuk sandboarding, saya segera memasang tali di atas papan dan berdiri menjejak pasir dengan berdebar. Saya harus menutupi wajah dengan kain agar tidak menghirup pasir tipis yang terbawa angin sebelum melaju turun. Yang bisa saya pikir dan lakukan hanyalah berusaha untuk tetap berada di garis lurus dan apapun yang terjadi sebisa mungkin tetap berdiri. Kemiringan bukit pasir yang curam mendorong saya turun dengan kecepatan penuh hingga akhirnya melambat dan terjerembab dengan muka mencium pasir.

Dua puluh menit kemudian saya kembali bergabung dengan rekan-rekan saya yang telah duduk terdiam sambil memandang lautan pasir luas yang tak terbatas. Tanpa sadar saya berbisik, ‘Timbuktu ada di seberang sana’. Di seberang gurun pasir terluas di dunia setelah gurun Arktik dan Antartika. Bagaimana sekumpulan pedagang dengan karavan bisa bertahan melewati gurun seluas ini saya tidak bisa membayangkannya. Kami tinggal di sana menyaksikan angin menerbangkan pasir hingga matahari mulai turun dan jatuh di balik cakrawala.

Timbuktu

Sekembalinya di Erg Chigaga kami disuguhi dengan Berber “Whisky”, sepoci teh mint dengan aroma dan cita rasa tajam. Seorang lelaki tua duduk tak jauh dari kami. Dengan piawai ia memainkan bendir, alat musik menyerupai gendang khas Suku Berber yang mampu membuat siapapun yang mendengarnya tak kuasa bergoyang mengikuti irama. It’s a trip of a lifetime, kami bersulang mengangkat gelas. Sementara itu, langit telah dipenuhi bintang dan beberapa di antaranya jatuh menghiasi malam.

Timbuktu