Kesempatan Emas Berlomba Dengan Pilot Kelas Dunia

Dilihat 506 kali

Direktur Lomba Tove Heaney, 47, adalah peraih medali perunggu Kelas Putri Kejuaraan Dunia Layang Gantung 2012 asal Australia. Tahun lalu dia sudah menjadi Direktur Lomba dan amat kagum dengan teknik dasar lepas landas dan mendarat para penerbang Indonesia. “Jika pelatihnya mempunyai teknik mumpuni, maka muridnyapun akan menjadi pilot handal,. Mereka pantas ikut seri kejuaraan internasional,” ujarnya. Ibu dua anak yang berdarah Norwegia itu bahkan berujar, “Banyak pilot di Eropa yang teknik lepas landasnya masih kacau!” Tove berharap semakin banyak kejuaraan Gantolle di Indonesia agar kemampuan para pilot Nasional makin terasah dan mampu bersaing di tingkat internasional. “Hanya dengan terbang, terbang dan terus terbang, Anda akan terbiasa menghadapi kondisi medan dimanapun. Dengan begitu peta kekuatan pilot Barat dan Timur akan semakin berimbang!” serunya.  Untuk kejuaraan tahun ini, Tove berharap kondisi angin lebih bersahabat, agar semua pilot dapat menyelesaikan soal. Tahun lalu tidak semua pilot dapat mencapai garis akhir karena kondisi angin yang tiba-tiba berubah, sehingga menyulitkan mereka melewati semua titik dalam soal.

Dalam kesempatan berbincang sesudah pelaksanaan latihan resmi (27/09/2015) Tove mengingatkan lagi, bahwa cuaca adalah hal yang sangat menentukan dalam olahraga ekstrim alam bebas seperti ini. Hari ini kita mendapat banyak kabut,awan,gerimis dan juga crosswind tapi masih juga berhasil menerbangkan 22 pilot dari keseluruhan 46 pilot yang siap terbang. Telomoyo-1

Tove sangat bersemangat memimpin kejuaraan Internasional Gantolle Piala Telomoyo 2015 ini. Membandingkan dengan tahun sebelumnya, kali ini kami mendapatkan lebih banyak lagi pilot-pilot handal dari Indonesia, Korea,Australia,Jepang, dan Slovenia. Kompetisi dalam kejuaraan kali ini akan lebih ketat dari sebelumnya, tentu saja begitu.

Bagi para pilot Eropa dan Amerika, menurut Tove, Indonesia sangat menantang medannya. Sesuai sifatnya sebagai olahraga petualangan, maka bagi mereka yang belum pernah terbang di Indonesia akan terobsesi. Di situ keunggulan Indonesia dalam mengembangkan wisata olahraga udara. Topografi alamnya yang banyak pegunungan dan persawahan, unik dan sangat berbeda dengan Eropa dan Amerika,” tutur pencatat rekor dunia terbang lintas alam sejauh 370 km di Melbourne, Australia pada 2003 itu.

telomoyo-2

Juara Kategori Umum Piala Telomoyo 2014, Grant Heaney asal Australia, menyatakan sudah siap mempertahankan gelar. “Dengan semakin banyaknya jumlah peserta, tentu akan makin sulit, persaingan akan makin ketat. Tapi disitu justru tantangannya, lomba pasti akan makin seru!” ujarnya. Grant, 53, peringkat kelima Nasional Australia pada 2014, dalam kliniknya tahun lalu bagi para pilot Nasional Indonesia, selalu mengingatkan untuk bersabar dalam mencari ketinggian. “Meski itu memaksa Anda berputar sejauh 10 km dulu untuk mencapai titik sesuai soal lomba. Karena itu fisik seorang pilot harus prima. Apalagi jika saat “nyangkul”, terbang dengan pola spiral ke atas lalu maju perlahan secara berulang untuk mencari ketinggian, pilot harus melawan arah angin, jelas Grant, seorang pakar komputer.

telomoyo-3

Bagi para penerbang Nasional, Piala Telomoyo 2015 memberikan kesempatan menguji kemampuan calon lawan di PON XIX Jawa Barat dan meningkatkan teknik dengan berlomba bersama pilot kelas dunia. Ayat Supriatna, satu diantara 10 pilot tim Jawa Barat, sangat mensyukuri adanya Piala Telomoyo. “Ini kesempatan mahal dan langka untuk belajar teknik terbang yang baik dan benar dari para pilot kelas dunia. Sebagai atlit olahraga udara, tentunya maunya semakin banyak terbang. Moga-moga di propinsi-propinsi lain ada juga kejuaraan berkelas internasional setiap tahunnya,” ujar Ayat, 30. (PR/Tgr)