Lembah Surga Bernama Waerebo

Dilihat 2125 kali

Jam 10 pagi saya berangkat dari daerah Marombok menuju ke Denge, desa terakhir yang ada sebelum naik ke Wae Rebo. Bermodalkan motor mio pinjaman dari teman, saya mulai menyusuri jalan yang berkelok kelok dengan pemandangan sawah, bukit dan anak-anak kecil yang selalu tersenyum dan terlihat senang, bahkan beberapa menjulurkan tangan ke saya untuk ber 'tos' ria.

Setelah sekitar 6 jam perjalanan, akhirnya saya sampai di guesthouse pak Blasius Monta yang sudah terkenal di kalangan traveller."Halo saya Blasius, jangan malu-malu ya disini anggap seperti rumah sendiri" sapa pak Blasius, yang langsung saya sambut dengan pertanyaan : 'pak saya lapar, kalau mau makan gimana ya?' (maklum kalau urusan perut gak bisa ditahan urat malu pun putus hahahaha). Pertanyaan ini pun terjawab dengan hidangan nasi merah dan mie instant yang muncul 15 menit kemudian :)

Jam 5.30 pagi alarm berbunyi dan saya pun bersiap - siap naik ke Wae Rebo, setelah cuci muka dan sarapan perjalanan pun dimulai bersama 6 orang traveler lainnya. Melewati hutan dan sungai ditemani kicauan merdu burung burung ini adalah pengalaman pertama trekking yang rasanya sulit dilupakan. Di perjalanan saya berpapasan dengan traveler lain yang turun dengan muka senang, dan memberikan semangat, cukup menjadi vitamin penyemangat perjalanan yang melelahkan.

Setelah 4 jam menempuh jalur trekking sepanjang 9 kilometer akhirnya saya menginjakkan kaki di Wae Rebo. Rumah ketua adat menjadi tujuan pertama untuk melakukan ritual bersama tetua adat, hal yang wajib dilakukan sebelum foto-foto atau berinteraksi dengan warga di Wae Rebo. Setelah ritual yang hanya berjalan sekitar 5 menit itu selesai, kami berpindah ke rumah yang diperuntukkan bagi traveler yang ingin menginap, beristirahat sejenak dan tentu saja menikmati makan siang khas Wae Rebo.

Sempat terlelap di dalam Niang Mbaru selama satu jam, saya bangun dengan perasaan setengah mimpi dan berkata dalam hati “ini mimpi atau bukan ya?”. Supaya yakin kalau saya benar benar berada di wae rebo, saya keluar dan mulai merekam indahnya desa yang berada di lembah yang sangat cantik ini. Beberapa warga terlihat sibuk menjemur dan menumbuk kopi, yang merupakan salah satu sumber penghasilan utama desa ini, dan anak – anak kecil yang bersenang-senang bermain bola.

Saat matahari mulai terbenam satu persatu warga mulai masuk ke dalam rumah yang bisa menampung 5-8 keluarga itu termasuk saya dan traveler lainnya untuk menikmati makan malam dan kemudian beristirahat. Keesokan harinya setelah menunggu sunrise yang ternyata agak malu- malu karena kabut dan awan yang tebal saya pun berpamitan dan meninggalkan Wae Rebo dan berkata dalam hati “Terima kasih Tuhan sudah mengantarkan saya ke Lembah Surga ini”.