Sehari Menjelajahi Lempeng Salju Abadi Franz Josef

Dilihat 648 kali

Tidak setiap hari seseorang memiliki kesempatan menjumpai glasier berusia ribuan tahun, apalagi mendakinya. Perjalanan menjelajahi lempeng salju abadi mengingatkan saya pada kisah ekspedisi Arktik atau Antartika yang memakan waktu lama, baju super tebal, atau peralatan khusus yang tidak sembarang orang bisa mengoperasikannya. Namun, Selandia Baru sepertinya selalu mempunyai cara untuk mengelola alam menjadi aktivitas pemicu adrenalin yang bisa dilakukan oleh semua orang. Maka dari itu, ketika tiba di kota kecil Franz Josef di pantai barat Pulau Selatan, saya segera mendaftarkan diri untuk ikut pendakian selama delapan jam.

Glasier merupakan bongkahan es besar di atas permukaan tanah yang terbentuk karena akumulasi salju yang mengendap dalam kurun waktu lama. Jika biasanya glasier ditemukan jauh di puncak gunung salju yang tidak mudah dijangkau manusia, Glasier Franz Josef justru berada di tengah hijaunya hutan hujan Taman Nasional Westland, tak jauh dari tepi Laut Tasman. Tanaman yang tumbuh di sekitarnya pun bukan semak belukar atau tundra melainkan pakis hijau. Lokasinya yang mudah dijangkau memberikan kesempatan pada para petualang untuk mengeksplorasi keindahan alam yang mulai berangsur menghilang.

Salju Abadi Franz Josef

Tepat pukul 8 pagi, saya dan beberapa petualang lainnya telah berada dalam bus yang membawa kami pergi sejauh 7 km mendekati titik awal pendakian. Masing-masing dibekali dengan jaket anti air, kaus tangan wool tebal, sepatu boot dan crampons berjeruji 3.5 cm untuk berjalan di atas es. Pemandu kami, Alex, terlihat sangat gaya dengan kaca mata hitam, ransel berisi tali dan kapak besi yang tergantung di pinggang. Ketika saya bertanya kapak itu untuk apa, ia menjawab singkat sambil tersenyum “lihat saja nanti.”

Dari area parkir kami berjalan selama beberapa menit memasuki hutan. Ketika jalan setapak berakhir, kami segera disambut dengan dua buah gunung hijau yang terletak bersilangan. Dari puncak gunung di ketinggian 2700 m, glasier berwarna putih kebiruan yang hendak kami tuju “mengalir” turun di sela-selanya hampir mencapai dasar. Walaupun terlihat dekat, rupanya padang luas dan ketinggian bukit telah menipu persepsi mata manusia yang melihatnya. Kami masih harus berjalan selama satu jam sebelum mencapai dasarnya. Permukaannya cukup datar namun penuh dengan kerikil yang cukup menyulitkan perjalanan.

Salju Abadi Franz Josef

Tepat setelah tanjakan pertama, Alex meminta kami memasang crampons. Kami telah sampai di dasar glasier. Namun, bukan lapisan es berwarna biru yang kami jumpai, melainkan bongkahan dan serpihan es berwarna kehitaman. Bertahun-tahun tertimpa longsoran tebing di kanan kirinya membuat glasier pada bagian ini terpecah dan bercampur dengan tanah. Matahari bersinar semakin terik saat kami menjumpai sebuah kolam kecil yang menampung tetesan air es tak jauh dari mulut sebuah gua. Gua tersebut tidak seperti gua-gua yang pernah saya lihat sebelumnya. Permukannya halus dan berkontur seperti hasil pahatan mahakarya. Berwarna gelap di satu sisi dan putih kekuningan meneruskan cahaya matahari di sisi lainnya.

Salju Abadi Franz Josef

Berjalan menyusuri glasier di bawah sinar matahari di tengah musim panas bagai kembali ke jaman es. Terasa magis. Setiap sudut berkilau memantulkan cahaya keemasan sementara di kanan kirinya tebing hijau memancarkan keteduhan. Semakin tinggi mendaki, semakin sulit medan yang dihadapi. Permukaan es yang licin membuat kaki harus diayun hati-hati. Kami berjalan membungkuk, merangkak, memanjat, bahkan merosot turun di atas permukaan es. Alex mulai mempergunakan kapak yang sedari tadi dibawanya. Crampon-nya menjejak tajam sementara kapak terayun memecah es yang nanti akan menjadi pijakan kami.

Salju Abadi Franz Josef

Layaknya air, glasier terus-menerus bergerak ke tempat yang lebih rendah. Selama proses tersebut, glasier akan mengikis daratan yang dikenainya. Jika glasier tidak sedang dalam keadaan tertidur, pergerakannya cukup dramatis. Gua es sedalam 14 m bisa terbentuk dalam satu hari untuk kita jelajahi, tetapi bisa menghilang sepenuhnya pada keesokan hari. Itulah kenapa setiap hari para pemandu selalu membawa kapak untuk membuka jalur baru.

Salju Abadi Franz Josef

Tak jarang kami harus berjalan di antara labirin maupun celah sempit di antara dinding tinggi yang tentunya terbuat sepenuhnya dari es. “Jika ada di antara kalian yang phobia ruang sempit, sekarang adalah saat yang tepat untuk memberi tahu saya,” seru Alex. Semua peserta saling berpandangan sebelum berjalan bergantian di celah sepanjang 10 m itu. Pada separuh perjalanan tiba-tiba terbersit pikiran bagaimana jika beberapa detik ke depan glasier bergerak cepat dan mengimpit kami yang tengah berjalan di tengahnya. Ketika rasa panik mulai menyergap, sebuah tangan terjulur untuk membantu saya memanjat ke luar celah.

Salju Abadi Franz Josef

“Suku Maori menyebut tempat ini sebagai Ka Roimata o Hinehukatere, yang berarti air mata Hinehukatere.” Alex bercerita sambil mengelap peluh di dahinya. Menurut legenda, Hinehukatere dan kekasihnya Tuawe sedang mendaki pegunungan ini ketika terjadi longsor besar dari puncak gunung dan seketika membunuh Tuawe. Hine berduka sangat dalam hingga tangisannya yang tak kunjung henti itu membeku hingga membentuk glasier. Nama tersebut berubah menjadi Franz Josef sejak kedatangan bangsa Eropa di pertengahan Abad 19, sesuai dengan nama kaisar Austria yang berkuasa di saat itu.

Kami terus mendaki hingga akhirnya tak ada lagi bongkahan-bongkahan es berukuran raksasa yang merintangi. Puncak tinggal beberapa ratus meter di atas kami, tetapi permukaan glasier yang semakin curam dan terjal menjadi titik akhir pendakian hari ini. Setelah seharian berjalan dengan ekstra hati-hati di atas sepatu boot berjeruji besi, saya tak ingat lagi rasanya jalan dengan bertelanjang kaki. Tubuh ikut merinding kebingungan merasakan sensasi hangatnya matahari sementara kaki mengkerut kedinginan. Sebelum turun kami beristirahat sejenak di sebuah area yang relatif datar. Semua orang yang berada di sana berdiri dan menghadap ke belakang untuk memperhatikan jalur luar biasa yang telah kami tempuh selama enam jam.

Salju Abadi Franz Josef

Setelah kembali ke kota, bersama teman-teman pendaki lain kami segera menceburkan diri ke dalam Glacier Hot Pools—kolam air panas yang berasal dari air mata Hinehukatere. Terdapat tiga buah kolam bersuhu 360C, 380C, dan 400C dengan uap mengambang tipis di atas permukaan masing-masing kolam. Setiap riak dan kepulannya melemaskan otot-otot yang kaku dan kaki yang kedinginan serta mengeluarkan senyum kepuasan penuh kebahagiaan.

Salju Abadi Franz Josef