Melangkah Seperti Kepiting

Dilihat 612 kali

"Jalannya kaya kepiting, Na, nyamping" ujar Mafril untuk kesekian kalinya. Entah sudah berapa kali dia mengingatkan saya untuk berjalan menyamping di salah satu sisi jalur pendakian menuju pos dua Gunung Latimojong.

Kalimat itu teringat kembali saat saya akan memulai menuliskan cerita perjalanan ke sana, ke Rantemario, puncak Gunung Latimojong yang berada di ketinggian sekitar 3.478 meter diatas permukaan laut.

Sampai saya menulis cerita ini, saya masih merasa tidak menyangka ternyata kaki mungil ini bisa menginjakkan kaki disana, Di Gunung Latimojong yang berada di Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan.

Jalur pendakian menuju puncak Latimojong begitu luar biasa, dimulai dari perjalanan tujuh jam dengan mobil sewaan dari Makassar, saya dan 13 teman dari Jakarta dan Makassar tiba di desa pertama, Desa Baraka.

"Ayo siap-siap, angkutannya sebentar lagi datang," teriak Akbar, guide yang kami sewa untuk menemani kami mendaki Gunung tertinggi di pulau Sulawesi, kampung halaman almarhumah Nenekku.

Salah satu teman, Mamat Eror tiba-tiba berujar "Gua bawa webbing buat jaga-jaga aja, tapi itu si Akbar juga nyiapin webbing, hmm Okesip kebayang dah jalurnya kaya apa." Mendengar itu saya hanya diam dan bertanya dalam hati "Can I hike that mountain?."

Perjalanan selanjutnya semakin membuat saya bergumam "Oh, OK fine, let's rock and roll." Angkutan yang dimaksud ternyata truk angkutan pasar yang biasa mengangkut warga Desa Rantelemo dan Desa Karangan beserta kebutuhan sehari-hari yang dijual di kedua desa itu.

Dan kami pun berusaha untuk menempatkan tas-tas kami yang beberapa diantaranya setinggi setengah badan saya ke dalam truk yang hampir terisi penuh oleh warga desa dan barang dagangan mereka. Truk pasar tidak banyak yang beredar dan hanya beroperasi di hari tertentu saja, hari pasar Senin dan Kamis. Jika angkutan ini tidak beroperasi maka kami harus menyewa mobil jeep yang harganya diluar budget kami atau kami berjalan sehari semalam untuk sampai di desa terakhir, Desa Karangan.

Perjalanan dengan truk pasar begitu menakjubkan, bukan hanya karena pemandangan alam Sulawesi yang indah tapi juga degup jantung terasa begitu kencang karena jalur yang dilalui tidak mulus dan kami berhadapan langsung dengan sisi jurang ditambah lagi sang sopir seperti lupa bahwa ada sekitar 20 nyawa berada di bak truk miliknya. Kami seolah melayang-melayang diatas truk selama sekitar 4 jam perjalanan, apalagi ban mobil truk sempat harus diganti agar truk bisa terus berjalan dengan gagahnya.

Setelah sampai di Desa Karangan, kami langsung ke rumah bapak kepala dusun, disana kami diterima dengan hangatnya ditengah hujan dan udara dingin seolah menyapa kami " Selamat datang di kaki Desa Karangan, kaki Gunung Latimojong." Tubuh ini butuh istirahat agar esok pagi bisa mendaki gunung yang konon menurut cerita menjadi jalur perdagangan antara warga desa sekitar Latimojong dengan desa Luwu yang berada dibalik gunung.

Saat matahari pagi kembali menyapa, kami pun bersiap untuk memulai pendakian, oia ada pengalaman unik yang saya alami saat melewati rumah yang ada didepan kediaman kepala desa, seorang kakek yang sedang duduk di teras rumah itu tersenyum kepada saya dan berkata dengan bahasa bugis "alako (ambil) nak, alako (ambil)" ujarnya pelan sambil memberikan saya potongan kayu panjang. Saya ambil kayu itu dan saya jadikan sebagai trekking poll, sayangnya saat pulang saya tidak menemui kakek itu jadi saya hanya meletakkan kayu yang diberikan didepan teras rumahnya.

Kami pun bergerak perlahan, jalur pertama masih pemanasan, jalurnya tidak begitu menanjak tapi cukup melelahkan, lepas dari jalur itu kami disambut dengan kebon kopi yang jalurnya "wow" sang guide pun mengeluarkan webbing untuk membantu beberapa diantara kami. Lepas dari kebun kopi sampailah kami di pos satu, tak lama melepas lelah lalu lanjut lagi masuk ke jalur hutan "welcome to the jungle, buddies".

Hutan Latimojong termasuk dalam tepi hutan basah, pohon-pohonnya tinggi sehingga cahaya matahari tidak langsung menyapa kami. Jalur menuju pos dua tak terlupakan, mulai dari jalan menepi hingga jalan gaya kepiting. Kami berpegang pada akar-akar pohon yang kami rasa cukup kuat menahan tubuh kami, benar-benar menakjubkan jalur yang kami lewati ini.

Saat kaki dan badan mulai lelah tiba-tiba terdengar suara aliran air sungai, "sebentar lagi pos dua, nih suara aliran sungainya sudah terdengar." teriak Akbar.

Tak lama kami sampai di pos dua dengan menyebrangi jembatan yang terbuat dari dua bambu panjang, sedikit gemetar saat melewatinya karena bambu bergoyang saat dipijak.

Melihat aliran sungai yang begitu segarnya, Bang Tuah tak kuasa menahan hasrat untuk "nyemplung" ke dalam sungai, tanpa pikir panjang dia langsung mandi di sungai itu.

Perjalanan menuju Rantemario justru baru dimulai, kami lanjut menuju ke pos 3 lagi-lagi webbing dikeluarkan, tanjakannya lumayan membuat jantung kembali berdegup kencang, menelusuri hutan lebat dan jalur pun semakinlama semakin mendaki. Tiba di pos 4 sudah masuk waktu maghrib, akhirnya kami memutuskan untuk camp di pos 4 yang lahannya tidak terlalu luas tapi kami harus stay karena badan butuh istirahat. Esok paginya, kami lanjut ke pos lima dan ternyata area untuk camp disini sangat luas dan ada sumber air. Kami pun semakin penasaran dengan Rantemario, lanjut berjalan ke pos 6, tubuh pun semakin lelah namun lelah seperti terbayar saat mendaki menuju pos 7, kami disambut oleh hutan lumut Latimojong yang begitu indahnya, sampai-sampai saya berkhayal sedang berjalan di hutan lumut bersama peri-peri.

Saat tiba waktunya matahari di langit Latimojong ingin berganti tugas dengan bulan, kami sampai di telaga, disana seperti lapangan luas dengan telaga yang airnya tak selalu ada, beruntung hari itu air telaga sedang banyak. Kami pun mendirikan tenda disana dan memutuskan lanjut ke Rantemario esok subuh.

Ternyata Tuhan berkata lain, kabut subuh itu begitu tebalnya, sehingga kami menunggu hingga cuaca sedikit cerah sekitar pukul 7 pagi waktu setempat, kami baru menuju puncak Latimojong, Rantemario. Jalur yang kami lalui pun bukan hanya hutan dan pepohonan, serta bunga-bunga yang indah, tapi ada bebatuan. Empat orang teman sudah sampai puncak lebih dulu dan beberapa menit sebelum saya menyusul mereka, saya merasa aneh dengan perasaan saya tiba-tiba saja saya menangis seperti anak kecil yang permennya diambil.

Akhirnya setelah melewati perjalanan beberapa hari, saya dan 13 teman lainnya sampai juga di puncak tertinggi Latimojong, Rantemario. Lelah seperti terbayar, yang terucap hanya rasa syukur, menikmati bentangan alam sambil menikmati segelas teh hanat dan canda tawa teman-teman seperjalanan yang hebat.

Perjalanan turun gunung ternyata tidak seperti yang saya bayangkan yaitu lebih mudah dan cepat, tapi ternyata tidak, kami melewati jalur yang sama saat mendaki, namun Latimojong memang luar biasa. Suguhan alamnya yang indah dan mengajarkan kami banyak hal.

"You can never conquer the mountain. You can only conquer yourself"

Terima kasih untuk teman seperjalanan, Mamat eror jarank pulang, qibo jarank pulang, bang tuah, kang thor, aris, mafril, ade, mei, maya, indah, nia, ida, dan akbar.