Merasa Punya Nyali Gede? Berani Terjun dari Jurang Nggak?

Dilihat 1059 kali

Saya bukan tipe orang yang begitu menyukai ketenangan ketika menentukan sebuah lokasi berwisata atau berpetualang. Saya jauh dari kata ‘anak pantai’ yang lebih menyukai duduk di pinggir pantai dan menikmati deburan ombak yang saling memburu. DCIM104GOPROG1324203. Saya justru memilih berada di tengah lautan untuk melakukan aktivitas seperti snorkeling maupun free-diving, iya, free-diving, mengingat saya belum mendapatkan lisensi untuk diving maupun kemampuan surfing. DCIM104GOPROG1324207. Seperti halnya ketika saya bermaksud mengunjungi sebuah air terjun atau yang sering orang lokal bilang sebagai curug. Saya tidak akan hanya berdiam diri dan melihat air yang terjun dari ujung tebing menuju kolamnya. “Loncat gak, Mas?” tanya saya kepada Rio, teman yang saya ajak mengunjungi Curug Kencana saat itu. Curug Kencana adalah sebuah curug yang tidak kalah terkenalnya dengan curug Leuwi Hejo, terletak tidak jauh dari Jakarta, tepatnya di Babakan Madang, Sentul. “”Gimana ya, Cen… hehe,” jawab Rio sembari menyunggingkan senyum yang sepertinya dipaksakan. DCIM104GOPROG1324208. Ya, memang perlu berpikir puluhan, mungkin ratusan kali untuk memutuskan akankah kita terjun bebas dari ujung tebing curug kencana menuju kolamnya. Sebenarnya, buat saya yang bisa dibilang cukup tinggi jam terbang terjun dari curug ke curugnya saja agak sedikit getir melihat jarak yang cukup jauh dari tebing menuju kolam, mungkin sekitar delapan  meter tingginya. Tentu saja, dengan kedalaman kolam yang saya tidak tahu berapa meter tepatnya. DCIM104GOPROG1334260. “Lo loncat?” tanya Rio balik kepada saya. GLEK. “Pasti dong, Mas! Udah sampai sini masa gak loncat? Yuk!” ujar saya menguatkan. Terutama pada diri saya sendiri. Ada tiga spot terjun bebas di Curug Kencana ini. Spot pertama berada tepat di ujung tebing curug. Terjun bersama aliran air terjun mungkin terdengar agak ekstrem dan berbahaya, terutama saat masuk ke dalam kolam dan kita tidak sanggup melawan derasnya air yang menimpa tubuh kita. Tapi sekaligus juga sangat mendebarkan! DCIM104GOPROG1334260. Spot kedua berada di dekat jalan masuk, tepatnya berada di tepi kolam, di atas bebatuan yang menjulang dengan semak-semak di sekelilingnya. Namun siapa sangka, justru di lokasi inilah titik tertinggi untuk terjun bebas. Spot terakhir berada di dekat kolam. Tidak terlalu tinggi, tapi cukup untuk membuat jantung terpacu sekaligus berpikir dua kali akan terjun atau tidak. Tak menunggu lama, saya segera melepas pakaian dan menuju spot kedua. Terjun dari tempat yang paling tinggi selalu membuat saya bersemangat. SAMSUNG CSC “Wih, tinggi juga ya!” seru saya dari atas tebing ketika melihat jarak antara lokasi saya akan terjun kepada Rio yang memutuskan akan mengambil gambar saya dari kolam. “Ayo terjun!” Saya bersiap. Sedikit mundur dari tempat saya sekarang dan mencoba berlari sekencangnya sebelum melompat. Satu, dua, tiga…. Tunggu. Ternyata saya belum siap. Jantung saya berdebar sangat kencang. Lalu saya memperhitungkan lagi ketinggian tempat saya terjun dan kolam. Nyali saya tiba-tiba menciut.   “Ayo!” seru Rio dari kejauhan sembari terbahak. Tak pelak juga orang-orang yang ada di kolam seperti menanti saya terjun.   “Damn! Tiba-tiba jiper gua!” teriak saya lagi. SAMSUNG CSC SAMSUNG CSC Saya mencoba memejamkan mata sejenak, meyakinkan hati saya bahwa semua akan baik-baik saja. Kembali saya berhitung, satu, dua, tiga. Saatnya saya terjun apapun yang terjadi! Saya berlari, lalu melompat setinggi-tingginya, dan….. “AAA!!” Saya berteriak sekencang-kencangnya. Siapa sangka perasaan ketika terhempas di udara justru semakin membuat adrenalin saya naik bersamaan dengan rasa takut yang semakin besar. Terlebih, saya tidak memejamkan mata. Saya melihat jelas pemandangan di sekitar saya bergerak cepat ke bawah. Merasakan angin kencang yang menerpa saya dan gravitasi kuat yang menarik tubuh saya jatuh ke kolam. Sayangnya, semua terjadi tidak secepat yang saya bayangkan. Cukup lambat hingga saya merasa sedang berteriak untuk selamanya. BYUR! “Sereeeeemm!” teriak saya ketika muncul lagi ke permukaan air. Meneriakkannya dengan wajah sumringah. “Ternyata kolamnya lumayan dalem, tadi kaki gak nyentuh dasarnya.” kata saya saat mencapai Rio. “Jadi gimana, Mas, loncat gak?” “Gak!” End.