Liat Surga? Gak Perlu Mati Dulu Bro, Cukup Dateng Ke Rinjani!

Dilihat 743 kali

Indonesia harus berbangga karena berdiri dengan hiasan gugusan pegunungan megah yang mempunyai pesona alam tersendiri. Belum lagi lautan yang kaya akan biota cantiknya. Banyak banget surga – surga tersembunyi yang berada di Indonesia, sayang banget kalo elu hanya menghabiskan waktu di mall atau berdiam diri di kamar. Karna melihat surga gak harus di telapak kaki Ibu ajah, contohnya di salah satu Gunung Cantik ini – Rinjani.

Gunung Volcano ini terletak di Nusa Tenggara Barat, gunung yang berdiri di 3726 meter di atas permukaan laut ini termasuk dalam salah satu bucket list gue saat pertama kali suka dengan kegiatan outdoor. Saat gue berumur 13 tahun, Bokap gue bilang “nanti setelah dari Semeru, jangan lupa ke Rinjani – itu adalah gunung impian Papa” . Gunung ini memang selalu menjadi target para pendaki karena Rinjani merupakan gunung tertinggi ke tiga di Indonesia setelah Carstenzs Pyramid dan Kerinci.

Keindahan Rinjani memang memukau banyak mata, tidak salah ketika banyak pendaki yang berbondong – bondong untuk datang kesana. Diantara berbondong – bondong itu salah satu nya ada gue dong… Ini memang bukan kali pertama gue ke Rinjani, perjalanan ini memang sudah direncanakan bersama sahabat – sahabat gue untuk membuat reunian di gunung.

Bulan July – September menjadi salah satu musim terbaik untuk pendakian ke Rinjani, tapi jangan salah cuaca yang cerah ini bisa bikin elu mengkerut di malam hari karena temperature bisa drop sampai 3 derajat. Tentunya persiapan perlengkapan yang aman menjadi acuan dalam sebuah pendakian, bukan hanya soal fisik yang kuat tapi soal otak yang cermat dan cerdas dalam mempersiapkan sebuah pendakian.

Kali ini gue bersama ke empat sahabat gue, memulai pendakian via Sembalun dan berencana akan turun via Senaru. Jalur ini merupakan jalur umum yang sering dilalui pendaki. Gue menyempatkan diri untuk tinggal lebih awal di Desa Sembalun sekaligus untuk aklimatisasi agar badan gue bisa beradaptasi dengan ketinggian gunung Rinjani.

Pendakian akan ditempuh dalam waktu 4 hari 3 malam, kali ini gue lebih memilih santai supaya bisa menikmati sajian dari Dewi Anjani. Buat gue, pemandangan di setiap sudut di Rinjani memang gak ada habisnya buat dinikmati, bahkan ribuan jepretan foto pun gak akan bisa menggantikan apa yang dipandang oleh mata.

Padang Savannah Sembalun di Rinjani menjadi pembukaan perjalan gue, sejauh mata memandang akan diberikan suguhan ilalang – ilalang yang hampir menguning yang berayun tertiup angin. Gugusan bukit – bukit kecil yang mengelilingi Padang Savannah tersebut memberikan sentuhan manis untuk setiap pendaki yang melewatinya. Eiittss jangan senang dulu, setelah ini kaki akan diberikan kejutan oleh “Bukit Penyesalan”, tanjakannya Brooooooohh!!! Bikin dengkul lemes, apalagi kalo elu jarang olah raga. Inget naik gunung kudu persiapan fisik, olah raga itu penting. Bukan Cuma olah raga jari yah Bro (baca : main handphone) x__x

Salah satu bagian yang paling gue suka adalah saat menikmati makanan di Palawangan Sembalun dengan pemandangan Danau Segara Anak dari Kejauhan. Saat sore pun, matahari akan terbenam tepat di depan muka elu, gimana gak bahagia coba dikasih sajian alam yang super keren! Palawangan Senaru pun gak kalah kerennya, mata elu akan dimanjain dengan pemandangan Danau Segara Anak dihiasi oleh Puncak Dewi Anjani. Gokils! Gue gak pernah bosen ngeliat pemandangan kaya gini.

Setelah puas menikmati suguhan di Palawangan Sembalun, perjalananpun dilanjutkan untuk menuju Puncak Rinjani, titik tertinggi di Gunung Rinjani. Perjalanan biasanya memakan waktu kurang lebih 3-4 jam, yah berhubung gue lambat dan masuk dalam kategori “PBB” (red : Pasukan Baris Belakang) biasanya tiba di Puncak sudah terang. Sebenernya sih alesan klise, paling males antri foto saat semua orang tiba di Puncak lebih awal. Karena nikmatin surga itu gak enak kalo rebutan J))))

Kalau menurut beberapa orang perjalanan muncak Rinjani adalah yang terberat, mungkin buat gue perjalanan turun ke Danau Segara Anak adalah yang terberat lebih dari beban hidup ahahhahaha… Karena buat gue turunan itu lebih butuh endurance kaki elu supaya tuh dengkul, paha, jari – jari kaki dan pinggang gak sakit. Hidup itu adil, untuk melihat tempat yang indah harus ada usaha.

Menikmati pagi di pinggir Segara Anak juga menjadi moment favorit gue. Pemandangan Gunung Baru Jari yang terletak di tengah danau tersebut memang memberi kesan tersendiri buat gue. Letusan Gunung Rinjani abad ke 13 ini melahirkan sebuah kerucut di kaldera yang luas, kemudian kerucut itu terus bertumbuh dan dikenal sebagai Gunung Baru Jari.

Setelah lelah pendakian, jangan lupa mampir ke Sumber Air Panas yang terletak tidak jauh dari Danau Segara Anak. Buat gue ini bonus banget bisa relaksasi berendam di air panas, berasa bath tub pribadi. Jika ditelusuri lagi disekitaran Sumber Air Panas ini juga ada Goa Susu, Goa dimana menjadi kepercayaan penduduk local untuk melakukan sembayang dan ritual.  Rinjani memang punya keistimewaannya sendiri, setiap sudut bisa menjadi daya tarik untuk semua pendaki yang datang.

Kalo gue bilang Rinjani adalah salah satu gunung dengan “Paket Komplit” mulai dari Savannah, bukit penyesalan, jalur bebatuan, jalur pasir, danau, air panas, goa, dan hutan – semuanya jadi satu berkolaborasi dan gue namakan “Surga”. So, mau liat Surga? Gak perlu mati dulu Broooohh!!, cukup dateng ajah ke Gunung Rinjani :D

“Keindahan Rinjani akan selalu dikenang oleh hati dan jalurnya akan selalu diingat oleh kaki” :D