Menggapai Puncak di Gunung Soerak, Korea Selatan

Dilihat 744 kali

Subuh itu saya tiba di Terminal Sokcho di Propinsi Gangwon, Korea Selatan, setelah menempuh enam jam perjalanan dari Busan. Pagi itu Sokcho begitu dingin dengan suhu mencapai 15 derajat celcius, maklum saya ke Korea Selatan pada musim gugur mendekati musim dingin. Sambil menunggu bus pertama ke Taman Nasional Soeraksan saya ngopi di minimarket terdekat yang buka 24 jam. Lumayan untuk mengusir hawa dingin.

Dengan menumpangi bus lokal selama 15 menit saya tiba di pintu gerbang masuk kawasan Soeraksan yang merupakan gunung tertinggi ketiga di Korea Selatan setelah Hallasan dan Jirisan di propinsi lain di Korea Selatan. Dari pintu gerbang Bro bisa mengunjungi beberapa tempat menarik dan melakukan aktivitas trekking. Saya sendiri sempat mampir ke air terjun Biryeong yang membutuhkan waktu sekitar satu jam trekking, dan juga kuil Sinheungsa yang jaraknya tinggal melangkah dari parkiran.

Di Soeraksan ada banyak jalur hiking dari mulai jalur terpendek dengan hiking selama satu jam hingga yang terpanjang yang membutuhkan waktu 16 jam hiking. Atau mau yang lebih mudah tanpa berpeluh tinggal naik kereta gantung untuk menuju puncak Gwongeumseong. Kurang nendang rasanya ke gunung kalau hanya naik kereta gantung tanpa hiking, jadi saya mengambil jalur hiking yang sedang-sedang saja yaitu ke puncak Ulsanbawi yang membutuhkan waktu tiga jam. Ah enteng, cuma tiga jam.

Baru juga satu jam saya sudah ngos-ngosan kepayahan. Setiap kali berpapasan dengan pendaki lain yang turun atau membalap saya, mereka teriak "Aja Aja Fighting." Kalimat sakti tersebut sering saya dengar di drama dan film Korea untuk menyemangati seseorang.

Hari itu pendaki lumayan ramai karena hari libur, pendaki didominasi lanjut usia. Duh saya jadi malu sama mereka yang sudah berumur tapi masih gesit dan cekatan. Perlu Bro ketahui kalau jalur mendaki di Seoraksan ramah untuk orang berusia lanjut. Beberapa bagian dibangun tangga kayu atau besi, sehingga manula pun bisa naik turun gunung dengan aman. Walaupun begitu menapaki anak tangga yang jumlahnya ribuan dengan kemiringan yang lumayan tetap membuat keder nyali.

Di tengah pendakian saya berhenti di Heundeulbawi dan menyesap air segar pegunungan yang tersedia di kuil Buddha di Heundeulbawi untuk melepas dahaga. Pitstop ini populer di kalangan pendaki, bahkan beberapa pendaki mengakhiri perjalanan mereka di sini dan kembali turun tanpa ke puncak Ulsanbawi. Populer karena di sini ada batu super besar di atas bukit kecil yang kalau digoyang-goyangkan tidak akan jatuh runtuh, padahal posisi batunya sangat tidak wajar dalam hukum fisika.

Beberapa menit beristirahat saya melanjutkan perjalanan. Setelah Heundeulbawi medan semakin susah dan tanjakan semakin miring. Saya semakin banyak berhenti. Sepuluh langkah saya berhenti, lima langkah saya berhenti. Hampir putus asa. Bekal air yang saya ambil di kuil tadi juga semakin menipis. Setelah tiga jam berjuang akhirnya saya sampai di puncak Heundeulbawi. Di atas saya disuguhi pemandangan indah membentang sepanjang mata memandang. Hijaunya hutan dipadu batu pegunungan yang bentuknya unik. Tak tergambarkan betapa indahnya.

Paling kampret ada yang jual teh panas di atas dengan harga sangat mahal. Harga teh segelas kecil bisa buat beli Nasi Padang lauk Daging Rendang lima piring. Tips buat Bro semua jika ingin hiking bawalah ransum yang cukup baik air minum ataupun cemilan seperti coklat untuk menambah energi. Setelah puas di atas saya harus berjuang lagi tiga jam untuk turun ke bawah. Aja-aja fighting!

Teks dan Foto : Alid Abdul