Singgasana Sang Anjani

Dilihat 499 kali

Aroma cokelat dari kopi dalam gelas menguar ke udara. Belum lama gelas ini disajikan oleh pemilik homestay di Desa Sembalun kepada saya, namun kopi di dalamnya sudah keburu dingin. Saya menikmati kopi Sembalun di Desa Sembalun, Lombok Tengah sebelum memulai pendakian ke Gunung Rinjani. Menurut pemilik homestay rasa cokelat yang tersisa di lidah saya dating dari biji-biji kopi yang ditanam di antara pepeohonan cokelat. Entah. Saya lebih bersemangat untuk segera memasuki jalur pendakian Gunung Rinjani.

Saya melintasi perkebunan warga ketika hendak meninggalkan desa menuju pintu masuk jalur pendakian. Tahan yang subur. Erupsi delapan abad lalu mewarisi tanah yang subur bagi masyarakat setempat. Imajinasi saya melambung mundur delapan abad. Saya membayangkan kedahsyatan amuk Gunung Samalas saat itu. Menurut para vulkanolog, erupsi Gunung Samalas delapan abad lalu sempat membuat gagal panen di Benua Eropa. Abu letusan Gunung Samalas disebut beterbangan hingga hinggap di dua kutub dunia. Surono, mantan kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi menaksir kekuatan letusannya mencapai 1.000 kali letusan Gunung Merapi di Jawa Tengah pada tahun 2010. Letusan ini pula yang bertanggung jawab atas runtuhnya Kerajaan Lombok pada abad ke-13.

“Dekat di mata, jauh di kaki, Mas,” pemandu yang mendampingi kami mendaki Gunung Rinjani berkelakar, melihat saya terus-menerus menatap puncak Gunung Rinjani. Puncak Gunung Rinjani terlihat dari Desa Sembalun. Warnanya kemerahan pada pagi itu. Saya membayangkan akan seperti astronot yang tertatih-tatih menapaki Planet Mars, mungkin besok pagi, atau mungkin esok lusa. Entah. Saya tak sabar menanti kejutan-kejutan di tengah pendakian.

Begitu memasuki gerbang pendakian, saya langsung disambut oleh padang rumput. Luas sekali. Sesekali puncak Gunung Rinjani tak lagi terlihat, tertutup perbukitan. Tak tahu di mana ujungnya. Hanya terlihat jalan setapak dan hamparan rumput kuning yang menggunduk.

“Sudah empat bulan belum hujan, Mas. Kering di sini,” pemandu saya seperti bisa membaca kekecewaan saya yang mengharapkan berjalan di sabana hijau. “Tapi sumber air aman,” lanjutnya.

Semakin lama, medan perjalanan makin meletihkan. Jalur pendakian mulai menanjak. Saya ingat pernah membaca asal kata Sembalun. Sembah dan ulun, yang berarti menyembah yang lebih tinggi.

Semakin tinggi kami mendaki, pemandangan yang kami temui pun bergradasi. Padang rumput kekuningan berganti perbukitan yang makin menanjak. Selimut kabut nampak semakin tebal. Pepohonan pun kian jamak kami temui. Pucuk-pucuk pepohonan cemara seperti menyundul awan. Saya tahu, kami semakin tinggi mendaki. Saya tidak sabar menjumpai bukit-bukit berundak yang dikenal di kalangan pendaki dengan sebutan Bukit Penyesalan.

Beberapa penulis menyebut, bukit penyesalan adalah bukit-bukit yang berundak. Ketika pendaki berada di bawah bukit pertama, puncak bukit pertama nampak seperti akhir dari perjalanan menuju lahan perkemahan Plawangan Sembalun. Namun salah. Selepas puncak bukit pertama, para pendaki akan tiba di bukit kedua, dan seterusnya hingga kurang lebih tujuh puncak bukit. Inilah yang membuat rangkaian bukit ini disebut Bukit Penyesalan.

Saya ternyata merasakan sesal itu. Sesal di Bukit Penyesalan. Saya menyesal karena hanya membawa satu baterai kamera! Percayalah, pemandangan di sepanjang Bukit Penyesalan seperti candu penawar rasa letih selama pendakian. Beberapa kawanan kera terkadang terlihat sedang bertengger di ranting-ranting pepohonan yang saya lintasi. Perjalanan masih lama, saya tidak mau menghabiskan baterai kamera saya pada hari pertama pendakian. Andai saya membawa lebih dari satu batera kamera. Saya tak berhenti lama, saya harus tiba untuk berkemah di Plawangan Sembalun sebelum gulita tiba.

Target saya meleset. Ternyata saya baru tiba di puncak Bukit Penyesalan pada malam hari. Beberapa teman pendakian saya tiba lebih awal dan sudah mendirikan kemah. Saya segera bergabung, masuk ke tenda untuk menghangatkan tubuh. Tak banyak aktivitas kami malam itu. Kami menghabiskan santap malam sambal berbincang. Kami memutuskan, pendakian menuju puncak akan ditunda selama sehari. Hari kedua di Plawangan Sembalun akan kami habiskan untuk bersantai menikmati kemah di atas awan.

Perjalanan Menuju Puncak

Puncak Rinjani berada di ketinggian 3.726 meter di atas permukaan laut. Dengan ritme perjalanan yang cenderung lambat, perjalanan dari Plawangan Sembalun menuju puncak Rinjani kami tempuh selama lima jam. Saya memang tidak berencana menyaksikan terbitnya matahari dari puncak. Di atas puncak pasti dingin karena angin berhembus kencang. Saya tak akan terlalu kuat berada lama di puncak untuk menunggu hari cerah dan berfoto di puncak. Saya lebih memilih untuk menikmati sunrise di tengah perjalanan, dan menikmati puncak ketika langit sudah cerah. Semakin cerah, pemandangan pun semakin jelas terlihat.

Ternyata, jalur pendakian menuju puncak Rinjani adalah bibir kaldera Gunung Samalas yang meletus delapan abad lalu. Kawah seluas 51 km2 dengan kedalaman 800 meter. Dengan ketinggian Gunung Samalas 4.200 meter, saya menghitung, berarti letusannya delapan abad lalu telah meluruhkan separuh Gunung Samalas!

Medan yang kami daki adalah bebatuan dengan kerikil-kerikil dan pasir vulkanik. Mirip dengan medan pendakian menuju puncak Gunung Semeru. Medan seperti ini cukup membuat lebih. Ketika kaki berpijak, kaki akan terperosok lagi ke belakang. Ritme perjalanan yang lambat membuat saya punya lebih banyak kesempatan untuk menikmati pemandangan di sepanjang perjalanan. Bunga sandar nyawa tumbuh liar. Tak secantik mawar. Mungkin alasan beberapa orang yang memetiknya adalah sebagai kenang-kenangan. Bunga ini berwarna putih. Masyarakat lebih mengenalnya dengan nama bunga edelweiss.

Bernani memetik? Tanggung akibatnya. Masyarakat setempat meyakini, bunga sandar nyawa adalah perhiasan Dewi Anjani yang bertahta di puncak Gunung Rinjani. Memetik bunga sandar nyawa dianggap petaka, mereka akan tersesat di Gunung Rinjani. Percaya atau tidak, keputusan Anda, Namun saya percaya, cerita ini mengakar di tengah masyarakat setempat sebagai sebuah kearifan lokal untuk menjaga kelesatarian alam. Mempertahankan kelangsungan hidup flora di Gunung Rinjani.

Di sebelah kanan di sepanjang jalur pendakian menuju puncak, kawah vulkanik Rinjani menganga. Kian tinggi matahari, pemandangan ini makin terlihat jelas. Kawah ini adalah sisa dari Gunung Samalas yang luluh lantak akibat letusannya delapan abad silam. Letusannya tidak hanya membuat tanah di sekitarnya menjadi subur, namun juga melahirkan danau yang dikenal dengan nama Segara Anak. Di tengahnya, Gunung Barujari bertahta. Di sisi danau inilah kami mendirikan kemah untuk bermalam sebelum meninggalkan Gunung Rinjani.

Menikmati Hening Segara Anak

Pagi yang damai. Sangat hening dan tenteram. Suara para pendaki yang tengah menyapkan santap pagi terdengar dari kemah kami. Udara di tepi danau begitu dingin pagi itu, membuat saya setengah hati beringsut keluar dari tenda. Jika bukan karena rasa penasaran akan keindahan Segara Anak, tubuh ini pasti masi berselimutkan kantung tidur.

Di luar kemah, di tepi danau, beberapa pria yang terlihat seperti porter dan pemandiu pendakian sedang memancing ikan. Benang dan kailnya dilempar jauh-jauh menembus permukaan air danau biru gelap.

Pemandu pendakian kami mengisahkan, Tien Soeharto pernah menabur bibit ikan di danau ini. “Ibu Tien yang bawa ikannya ke sini,” katanya. “Naik helikopter,” lanjutnya, seolah bias membaca takjub saya membayangkan istri Presiden Soeharto berjalan kaki menembus sabana dan Bukit Penyesalan di Gunung Rinjani. Entahlah. Saya belum berhasil menemukan referensi lain yang menyebut kunjungan Tien Soeharto ke Segara Anak.

Saya kembali menyelinap ke dalam tenda. Mengeluarkan kepala dari pintu tenda, seperti kura-kura. Di depan saya, Gunung Barujari bertahta di tengah danau. Kabut mulai datang dari sisi selatan, seperti mau menyembunyikan Gunung Barujari. Alam tetaplah alam, selalu menyimpan misteri. Seperti Gunung Barujari menyimpan ancaman letusan di balik cadar pesonanya. Suatu hari mungkin saya kembali ke Rinjani, sambil menyeruput kopi Sembalun yang bercita rasa cokelat.

Teks dan Foto : Iyos Kusuma