Super Journey - Ayu Puspitasari

Dilihat 445 kali

Hari Pertama-Menyapa  Menado, Menapaki Tebing Kilo Tiga

Bagaimana, apa kalian masih ingat dengan tantangan super journey challenge beberapa bulan yang lalu? Ya, saya adalah salah satu dari delapan orang yang beruntung menjadi pemenang dari super journey challenge.

Setelah melakukan technical meeting sebelumnya. Akhirnya pada tanggal 4 Mei 2016 kami para pemenang akan di berangkatkan ke Manado. Kami sudah di haruskan berkumpul di Bandara pukul 04.00 WIB karena penerbangan kami dengan Garuda Indonesia di lakukan pukul 05.30 WIB.

Pukul 03.30 WIB kami sudah semuanya berkumpul di terminal 2F, saat saya sampai salah satu panitia dari INEX, bang Ade sudah membagikan beberapa merchandise yaitu baju, buff, jaket dan tas. Kami pun langsung mengganti baju dengan baju yang telah disiapkan. Sebelum kami akhirnya berangkat ke Manado. Kami sempatkan dulu berfoto bersama dengan seluruh pemenang.

Pukul 05.30 WIB akhirnya pesawat kami lepas landas, setelah tiga jam perjalanan akhirnya pukul 09.55 WITA kami sudah mendarat kembali di Bandara Sam Ratulangi, Manado. Panas terik matahari sudah langsung menyambut kami, seolah tersenyum lebar dengan kedatangan kami. Setelah kami berfoto-foto sebentar di depan bandara kami pun menuju mobil yang sudah di siapkan untuk menuju tebing kilo tiga di Amurang, Minahasa Selatan.  Mobil yang di siapkan ada dua mobil yang pertama mobil elf dan mobil kecil.

Pukul 11.30 WITA kami menyempatkan diri untuk bersantap siang di city extra resto, hidangan khas laut langsung menyapa kami untuk pertama kali. Udang, cumi, ikan langsung menjadi menu makan siang kami dan tidak lupa sambal dabu-dabu menjadi pelengkap makan siang kami. Setalah makan siang pukul 13.00 WITA kami kembali melanjutkan perjalanan menuju desa kilo tiga untuk melakukan pemanjatan tebing kilo tiga.

Pukul 15.00 WITA kami sudah sampai di Desa Kilo Tiga, sayang hujan yang turun menghentikan kami sejenak untuk sampai ke tebing kilo tiga tersebut. Setelah beberapa menit menunggu hujan yang deras sudah mereda hanya tinggal rintik kecil, kami pun mulai berjalan menuju tebing kilo tiga. Kurang lebih 15 menit untuk mencapai titik yang dimaksudkan.

Super Journey - Ayu Puspitasari 2

Saat kami tiba di tebing yang dimaksud, yang ada di depan kami adalah sebuah tebing dengan ketinggian kurang lebih 90 meter berdiri megah dan gagahnya di depan kami, tebing dengan bentuk batuannya adalah seperti balok yang terbalik sehingga membuatnya unik dibanding tebing-tebing yang lainnya. Kami pun menuju tempat kami akan menginap dulu nanti malam, untuk meletakkan barang-barang dan bersiap untuk menuju kaki tebing untuk mencoba memanjat tebing tersebut.

Setibanya kami di kaki tebing kami di beri pengarahan oleh tim INEX tentang bagaimana cara pemanjatan, alat-alat yang di gunakan dan memberikan contoh cara pemanjatan. Satu persatu dari kamipun mencoba untuk melakukan pemanajatan. Aku yang baru kami ini melakukan rock climbing pun tertantang untuk mencobanya karena dari bawah terlihat sangatlah mudah untuk memanjat.

Super Journey - Ayu Puspitasari 3

Namun sayang ekspetasi tidak sesuai dengan realita. Di kenyataannya pemanjatan ini sangat sulit di lakukan, untuk bisa menarik badan keatas saja rasanya sangat susah dan berat. Walaupun sudah sampai dibantu untuk naik. Saya tetap tidak bisa dan akhirnya memutuskan untuk menyerah.

Kami selesai melakukan pemanjatan tebing kilo tiga pukul 18.00 WITA. Kami pun kembali ke tempat camp untuk membersikan badan dan perisapan untuk makan malam. Makan malam ini special karena bang Rahung yang akan memasakkan kami makan malam. Sambil kami menunggu bang Rahung dan beberapa orang dari tim INEX memasak kami para pemenang dan ka Prue serta beberapa orang yang lain bercerita berbagi pengalaman dan bercanda untuk lebih mengakrabkan diri.

Bau rempah dari masakan yang sedang di buat membangkitkan liur kami, dan menggelitik perut kami. Seolah semakin mengaktifkan sensor lapar di otak kami. Akhirnya pukul  21.00 WITA santap malam sudah siap, beberapa daun pisang juga sudah di ambil untuk alas makan. Setelah daun pisang tersebut ditata berbentuk persegi dan makanan sudah di hidangkan, kami segera mencari posisi yang terbaik untuk makan. Dan momen seperti inilah yang membuat rasa makanan menjadi sangat enak dan tidak akan bisa kalian dapatkan di restoran manapun.

Setelah santap malam saya dan ka Aya satu-satunya partner perempuan dari pemenang super journey segera masuk ke tenda untuk beristirahat sedangkan untuk yang laki-laki masih berada di luar tenda. Saat jam saya menunjukkan pukul 23.00 WITA mata saya rasanya sudah sangat berat dan akhirnya tertidur walaupun di luar tenda masih terdengar sangat ramai.

Hari Kedua-Mencicip Tebing Kilo Tiga, Membelah Sungai Nimanga

Pukul 05.30 WITA, kami sudah bangun untuk kembali mencicipi tebing kilo tiga dan mencoba untuk menaklukkannya. Setelah membersihkan diri dan menikmati segarnya air di pancuran yang berada tidak jauh dari tempat kami mendirikan tenda. Kami sudah di siapkan sarapan sepotong sandwich sebelum kembali mencoba untuk menaiki tebing kilo tiga kembali.

Pukul 07.30 WIB akhirnya kami kembali ke kaki tebing untuk kembali mencoba memanajat, namun kali ini jalur yang di gunakan dipindahkan dari tempat kemarin. Jalur saat ini katanya lebih mudah dibandingkan jalur kemarin karena untuk pegangan dan pijakannya lebih banyak.

Setelah kemarin gagal melakukan pemanjatan, kali ini saya bertekat harus bisa memanjat dan sampai keatas. Sekali dua kali badan ini masih tidak mau menarik ke atas namun untuk yang ketiga kali akhirnya saya bisa naik perlahan-lahan. Rasanya menyenangkan saat yang menjadi tantangan terbesar didalam diri berhasil di taklukkan. Dan akhirnya saya berhasil melakukan rock climbing untuk pertama kalinya.

Setelah melakukan rock climbing kami diajari sedikit tentang repling dan caranya untuk persiapan canyoning di hari ketiga. Sampai pukul 11.00 WITA akhirnya kami persiapan meninggalkan tebing kilo tiga untuk menuju sungai Nimanga untuk melakukan rafting.

Sekitar pukul 12.00 WIB kami tiba di sungai Nimanga, di desa Timbukar. Kami pun melakukan santap siang di tempat ini, santapan siang pun sudah di hidangkan, oseng kangkung dan ikan bakar sudah tersaji di atas meja. Kamipun melakukan santap siang, saat di tengah-tengah santap siang tiba-tiba muncul kembali hidangan terbaru yang bernama panike.

Super Journey - Ayu Puspitasari 4

Awalnya saya bingung apa itu panike, ternyata panike adala kelelawar dalam bahasa minahasa. Rasa penasaran saya pun kembali muncul bagaimana rasa panike itu sendiri. Saya pun mengambil untuk memuaskan rasa penasaran saya. Setelah saya mencobanya rasa dari panike itu sendiri seperti daging bebek untuk teksturnya.

Setelah santap siang selesai dan sedikit beristirahat, akhirnya pukul 13.30 WITA kami bersiap untuk melakukan rafting, menyusuri sungai Nimanga. Sebelum kami melakukan rafting kami di bekali dulu bagaimana cara memegang dayung, beberapa kata untuk perintah, seperti dayung maju, dayung mundur, boom, dkknya. Setelah dirasa cukup dalam memberikan petunjuk akhirnya kami menuju perahu kami masing-masing. Di saat itu disiapkan tiga perahu karet. Berhubung saat itu juga ada tiga wanita maka setiap perahu hanya boleh dinaiki oleh 1 wanita, yang tadinya aku ingin satu perahu dengan ka Prue menjadi tidak jadi. Akhirnya aku tidak satu perahu dengan para pemenang lainnya, melaikan satu perahu dengan tim inex dan host, yaitu dengan bang Bui, bang Ade, dan Bang Rahung.

Perahu saya adalah perahu yang pertama kali berlayar dan mengarungi sungai Nimanga Perjalanan sejauh 12 KM akan di tempuh dalam waktu 1,5 jam sampai 2 jam. Saya akui jeram di sungai Nimanga sangatlah mengasikkan beberapa kali saya harus terguncang, bahkan terjatuh untungnya masih di dalam perahu saat melewai beberapa jeram di sungai Nimanga. Hingga akhirnya kami akan mengakhiri rafting kali ini, kami diberhentikan di tempat yang sedikit agak tingga untuk kami bisa lompat ke dalam air. Saat perahu sudah menepi dan kami turun, dan sedikit berjalan keatas, maka setelah itu dalam hitungan tiga dua satu akhirnya saya lompat kedalam air, setelah itu kami lompat semua, kami kembali ke dalam perahu kami masing-masing untuk melanjutkan  kembali rafting kami menuju titik finish.

Super Journey - Ayu Puspitasari 5

Setelah sampai di titik finish, kami tidak lupa untuk berfoto terlebih dahulu. Dan menaiki mobil losbak untuk kembali ke titik start. Saat perjalanan dari titik finish menuju titik start kami diguyur hujan deras, seolah langit ikut menangis karena rafting kami telah usai. Hujan deras benar- benar menemani kami selama perjalanan. Sesampainya kami di titik start, kami pun membersihkan diri dan berganti baju.

Setelah kami bersih kembali dan sudah mengganti baju dengan yg kering kami segera meninggalkan sungai Nimanga dan beralih menuju Tomohon untuk ke hotel tempat kami menginap di hari kedua. Kami menginap di Gardenia Country Inn. Pemandangan yang saya tangkap pertama kali adalah hotel dengan kebun bunga, halaman yang luas dan berada di kaki gunung. Sungguh sangat menyengakan berada di sini. Kami tiba di hotel pukul 18.00 WITA dan berjanji untuk berkumpul kembali pukul 19.00 WITA untuk melakukan santap malam.

Tepat pukul 7 malam kami kembali berkumpul dan memasuki mobil masing-masing untuk melakukan santap malam. Kami melakukan santap malam di green garden resto. Seafood kembali menjadi menu makan malam kita kali ini. Benar-benar dimanjakan akan ikan selama dua hari berada di Manado. Setelah selesai melakukan makan malam kami kembali ke hotel dan sebelum kembali kekamar kami di breafing terlebih dahulu oleh tim inex untuk besok pagi bagimana. Setelah selesai breafing kamipun kembali ke kamar masing-masing untu beristirahat.

Hari Ketiga-Menyapa Mentari di Gunung Mahawu,  dan Mencicip Pahit Gagal Canyoning.

Pukul 02.00 WIB aku sudah dibangunkan oleh rekan sekamarku, ka Aya. Rasanya mata ini seperti masih terekat kuat dan enggan untuk membuka. Namun bayangan indah untuk menikmati matahari terbit dari atas ketinggian gunung Mahawu membuat mata ini dipaksakan untuk membuka. Setelah melakukan cuci muka membawa beberapa perlengkapan seperti jaket jas hujan kamera, dll dan memasukannya ke dalam daypack pukul 03.00 WITA kami berkumpul di lobi untuk sarapan terlebih dahulu. Sepotong sandwich tuna sudah di sediakan dalam box-box untuk kami makan terlebih dahulu sebelum naik ke gunung Mahawu.

Pukul 03.30 WITA kami pun berangkat menuju Gunung Mahawu yang tidak jauh dari tempat kami menginap. Sebenarnya gunung ini memiliki dua jalur, yang pertama yang jalur umum yang terbaru yang bisa sampai ke puncak kawah hanya dalam 10 menit dan yang kedua jalur umum yang sebelumnya yang kira-kira 2 jam untuk sampai ke puncak kawah. Karena kami lebih ingin merasakan trackingnya maka kami di bawa ke jalur umum yang sebelumnya. Saat kami sampai jalur naik full tanpa bonus langsung menyapa kamu pertama kali. Pagi –pagi kami sudah disuruh berolahraga dengan trek naik seperti itu.

Aku sedikit tertinggal di belakang bersama ka Prue, sedangkan teman sekamarku ka Aya sudah terlebih dahulu di depan. Aku sedang tidak ingin terlalu capek untuk naik, maka aku lebih memilih jalan santai dengan ka Prue hingga akhirnya kami tertinggal di belakang beruntung tim dari inex juga ada di belakang yaitu bang Arlen dan bang Ade. Sehingga kami tidak hanya wanita berdua yang jalan di belakang. Pendakian ini terus naik tanpa bonus membuat dalam hati saya rasanya ingin turun dan memilih yang jalur cepat namun apa daya karena memamg sudah kesepakatan menggunakan jalur ini maka mau tidak mau harus tetap berjalan. Sampai nantinya kita sudah sampai di di tujuan.

Semakin mendekati puncak jalurnya semakin naik dan licin karena jalurnya merupakan jalur yang sudah seperti di aspal beruntung ada pegangan besi di tengah jalur sehingga mengurangi resiko tergelincir karena licin.

Super Journey - Ayu Puspitasari 6

Pukul 05.10 WIB akhirnya saya dan ka Prue beserta tim yang di belakang akhirnya sampai di puncak. Yang lainnya sudah terlebih dahulu berada di puncak. Dan membuat air hangat untuk minum kopi, ataupun teh. Sedangkan yang lainnya sibuk mengambil gambar-gambar terbaik untuk menyapa matahari terbit pertama kali di kota Manado. Dari atas gunung Mahawu kami disuguhi lampu-lampu kota Manado, Gunung Lokon di sebrang kami dan Bunaken dari kejauhan.

Akhirnya kira-kira pukul 06.00 WITA, matahari pagi mulai mengintip dari persembunyiannya, muncul perlahan secara malu-malu layaknya anak kecil yang sedang bersembunyi. Memunculkan  semburat kuning keemasan disertai balutan awan tipis disekitarnya. Dan kamipun akhirnya menyaksikkan matahari terbit pertama kali di kota Manado. Sampai pukul 07.00 WITA akhirnya kami bersiap untuk pulang.

Untuk sampai ke jalan pulang kami harus melawati ilalang yang menjulang tinggi dan rapat. Ilalang ini sangatlah tajam sehingga kami harus berhati-hati saat melewatinya. Aku pun lebih memilih menggunakan jaket untuk menghindari kulit yang terluka tergores oleh ilalang. Namun sayang walaupun sudah menggunakan jaket tetap saja aku terkena goresan ilalang yang membuat jariku seperti terkena silet. Dan benar saja dari puncak menuju bawah kami hanya di perlukan waktu 5 menit. Berbeda jauh dari saat kami menaikinya tadi pagi.

Setelah kami meminggalkan gunung Mahawu, kami sempatkan terlebih dahulu ke pasar Beriman, Tomohon. Atau biasa di sebut pula pasar extreme. Kenapa pasar ini bisa di sebut pasar ekstrem karena dipasar ini daging yang dijual bukanlah daging sapi, ayam maupun kambing. Melainkan daging ular, babi, kucing, anjing, kekelawar, celeng (babi hutan), tikus, dll. Daging-daging yang jarang kita temui untuk masyarakat yang tinggal di Pulau Jawa.

Super Journey - Ayu Puspitasari 7

Saat saya pertama kali menginjakkan kaki di pasar ini awalnya seperti pasar pada umumnya ibu-ibu penjual sayur, dan buah. Namun saat tiba di tempat daging, maka yang saya lihat adalah daging-daging seperti yang saya sebutkan sebelumnya. Daging-daging ini berwarna hitam karena untuk kucing , anjing, tikus, dan kelelawar sudah dibakar terlebih dahulu agar tidak menimbulkan bau yang berlebihan. Namun melihat anjing dan kucing yang biasanya di pelihara di rumah tergeletak dengan tubuh menghitam dan bentuk yang sempurna membuat saya sedikit miris dan tidak tega melihatnya. Akhirnya setelah memfoto beberapa saya putuskan untuk keluar dari pasar tersebut.

Setelah dari pasar extreme kami memutuskan untuk kembali melakukan santap pagi dengan bubur Manado. Maka salah satu rumah makan yang menyajikan bubur Manadopun menjadi sasaran kami untuk melakukan santap pagi. Setelah selesai melakukan santap pagi kami kembali ke hotel untuk beristirahat sebentar dan packing untuk berpindah tempat ke air terjun tinoor untuk melakukan canyoning.

Sesampainya saya di kamar hotel, saya masih menyempatkan untuk tidur sebentar karena saat itu masih menunjukkan pukul 09.20 WITA sedangkan kami diminta berkumpul pukul 11.30 WITA. Belum begitu lama saya terpejam, ka Aya membangunkan saya untuk bersiap karena sudah waktu sudah menunjukkan pukul 11.00 WITA. Maka saya pun bergegas untuk mandi dan packing tepat pukul 11.30 WITA tiba-tiba hujan deras turun. Dan notifikasi grup belum juga berbunyi maka saya dan ka Aya memutuskan untuk menunggu notifikasi grup sebelum pergi ke depan. Dan sembari menunggu kami lebih memilih menikmati secangkir kopi ditemani rinai hujan yang turun dengan pemandangan rumput hijau dan beberapa bunga dari halaman teras bungalow kami.

Pukul 12.00 WITA notifikasi grup baru berbunyi ternyata beberapa dari mereka tertidur karena kelelahan dan hujan yang membawa suasana untuk lebih lama di dalam balutan selimut. Dalam feelingku aku sudah berfikir bahwa canyoning tidak akan terlaksana karena hujan deras yang turun tentu akan menambah debit air terjun yang turun sehingga terlalu bahaya jika diteruskan untuk melakukan canyoning namun itu masih dalam pikiranku saja.

Akhirnya pukul 12.30 WITA kami cek out dari hotel Gardenia Country Inn untuk makan siang terlebih dahulu. Saat kami makan siang tiba-tiba bang Sofyan mengatakan bahwa kami tidak bisa melakukan canyoning karena debit air yang tinggi akibat hujan yang turun baru saja. Dan ternyata feelingku terbukti. Kami gagal merasakan canyoning. Dan kamipun mencoba mencari alternative lain untuk mengisi kegiatan karena gagal canyoning. Maka pilihan kami jatuh untuk jalan-jalan di mall dan menonton bioskop, setelah di voting akhirnya film Civil War lah yang  menjadi pilihan kami.

Beres santap siang kami langsung menuju kota Manado untuk ke hotel Minahasa, tempat kami menginap di hari ke tiga. Kami tiba di hotel Minahasa pukul 15.30 WITA dan setelah pembagian kamar kami kembali dengan perjanjian berkumpul pukul 17.00 WITA di lobi untuk menuju salah satu mall di kota Manado.

Setelah kami membersihkan diri, dan bersiap-siap. Akhirnya pukul 17.00 WIB kami sudah berkumpul di lobi untuk menuju salah satu mall di kota Manado ini. Dalam perjalanan trip  selama ini mungkin bisa di bilang ini adalah trip terlengkap karena dari tebing, sungai, gunung, laut, bahkan mall masuk ke detinasi kami walaupun untuk yang terakhir ini terjadi tidak sengaja, karena kami gagal mengunjungi air terjun canda beberapa dari kami.

Mungkin bagi kalian kami aneh karena saat kami berada di hutan kami tenang-tenang saja bahkan jarang tersesat, namun saat kami di masukan ke dalam pusat perbelanjaan atau mall kami bisa tersesat bahkan untuk mencari pintu keluar setelah kami selesai menonton bioskop saja kami tersesat.

Selesai dari tragedi kami tersesat di mall, kami pun menuju restoran tidak jauh dari mall tersebut untuk bersantap malam. Menu makan malam kami saat ini adalah dada tuna. Dan kami juga di sediakan klapertaart. Aku baru pertama kali merasakan klapertaart, yang merupakan makanan khas kota Manado. Rasa dari klapertaart itu sendiri adalah lembut serta manis dan terdapat potongan kelapa muda di dalamnya. Setelah kami selesai melakukan santap malam kami pun kembali ke hotel untuk beristirahat.

Hari Keempat-Menyelami Surga Bawah Laut Bunaken

Pukul 05.30 WITA aku baru terbangun dari tidurku, aku lihat ka Aya masih terlelap dalam tidurnya. Maka aku pun segera bangun dan mandi terlebih dahulu. Setelah itu ka Aya pun terbangun dan bersiap-siap. Pukul 06.30 WITA kami beru keluar dari kamar untuk sarapan terlebih dahulu. Setelah selesai melakukan sarapan kamipun menunggu mobil yang akan menjemput kami menuju Bunaken.

Pukul 07.30 WITA kamipun melakukan perjalanan ke Pelabuhan, sampai disana bang Rahung dan tim dari inex membeli beberapa bahan-bahan makanan untuk dimasak nanti malam. Setelah selesai membeli bahan makanan, perahu yang akan membawa ke Bunaken pun tiba dan kami pun segera menuju ke sana. Perjalanan dari kota Manado ke Bunaken menggunakan speedboad memakan waktu kurang lebih 40 menit. Dan kamipun langsung di turunkan di depan Daniels Resort bukan di pelabuhan Bunakennya. Sehingga kami tidak perlu berjalan jauh menuju penginapan.

Saat pembagian kamar, awalnya saya dan ka Aya mendapakan kamar di depan, namun setelah dengan beberapa pertimbangan karena takut ada ular yang masuk ke dalam kamar karena letaknya yang paling dekat dengan bibir pantai dan tanaman bakau  maka sayapun dipindahkan ke kamar yang paling ujung dan itu berada di belakang. Setelah meletakkan barang-barang di kamar saya ikut berkumpul dengan beberapa tim inex dan pemenang lainnya di bawah pohon untuk menikmati angin pantai dan beberapa hammock juga sudah tergantung untuk bersantai menikmati siang hari di pantai.

Setelah kami makan siang kami kembali ke tempat sebelumnya dibawah pohon rindang sambil menunggu waktu untuk diving kami menghabiskan waktu untuk saling bercerita, tertawa, dan berbagi pengalaman.

Super Journey - Ayu Puspitasari 8

Akhirnya pukul 15.00 WIB kapal yang akan membawa kami ke titik diving pun tiba, kami akan melakukan intro diving di Alungbanua. Ini merupakan diving pertama kali bagi saya. Setelah sampai di titik penyelaman. Kami dibekali dengan pengetahuan dasar menyelam, cara penggunaan alat, dan bagaimana tindakan jika terjadi masalah di dalam air oleh deep master untuk penyelaman kali ini.

Setelah tabung oksigen terpasang di tubuhku, dalam hitungan tiga dua satu pun aku mulai tenggelam di dalam air, awalnya aku merasakan takut karena jika sampai selang oksigen terlepas dari mulut maka selesai sudah semuanya. Namun lama-lama hal ini menjadi biasa saja, keindahan ikan dan karang-karang yang ada di bawah mempesonaku untuk bisa lebih ke dalam kembali. Pukul 17.00 WITA kami kembali naik ke permukaan karena matahari sudah mulai tenggelam dan hari mulai gelap.

Diving kali ini di Bunaken, membuatku penasaran untuk diving kembali ke tempat lain. Setelah selesai diving kami kembali kepenginapan di temani matahari yang mulai ternggelam di ufuk barat. Setibanya kami di penginapan kami segera menuju kamar masing-masing untuk membersihkan diri dan bersiap untuk makan malam. Setelah membersihakan diri kami kembali berkumpul dibawah pohon rindang yang tadi siang untuk kembali bersenda gurau sembari menunggu hidangan makan malam yang dimasak oleh bang Rahung siap disajikan.

Pukul 21.00 WITA akhirnya makan malam kami telah siap untuk dimakan, ikan bakar, sup ikan, dan olahan ikan lainnya dengan wangi rempah khas berkat olahan bang Rahung mampu menerbitkan air liur bagi siapa saja yang menciumnya.

Setelah kami selesai makan malam, kami masih mengobrol untuk menghabiskan malam, karena malam ini, adalah malam trakhir kami bersama karena esok perjalanan ini sudah akan berakhir. Dan akhirnya kami pun kembali ke kamar masing-masing pukul 00.30 WITA untuk beristirahat.

Hari Kelima-Selamat Berpisah Manado, Sampai Berjumpa di Lain Waktu

Mungkin karena terlalu lelah atau apa, aku baru terbangun saat waktu menunjukkan pukul 07.30 WITA. Aku pun bergegas untuk packing dan mandi. Dalam benakku sepertinya snorkling tidak akan jadi karena kemarin perjanjiannya kita akan cek out dari Bunaken pukul 11.00 WITA sedangkan kami belum sarapan sampai pukul 08.00 WITA notifikasi grup belum berbunyi.

Pukul 09.00 WITA aku menuju tempat makan untuk sarapan dengan pakaian yang sudah rapi namun ternyata snorkling tetap dilaksanakan. Maka setelah makan pagi aku kembali ke kamar membongkar carriel dan berganti baju untuk snorkling. Akhirnya pukul 10.00 WIB kami mulai snorkling. Sekitar 45 menit kami snorkling, dan saat kami kembali ternyata air mulai surut sedangkan kami tidak mungkin berjalan menginjak karang.

Super Journey - Ayu Puspitasari 9

Maka kami pun berenang memutar untuk mencari jalur tanpa karang namun naas saat karena air yang telalu pendek dan beberapa karang mati berserakan ternyata menggores kulitku hingga beberapa harus terluka.

Setelah kami kembali lagi ke penginapan kami pun segera membersihkan diri dan bersiap untuk pulang. Pukul 12.00 WITA kamipun kembali ke Manado menggunakan speed boad. Setelah sampai ke Manado kamipun makan siang terlebih dahulu dan setelah itu mampir sebentar di tempat oleh-oleh untuk membeli sedikit oleh-oleh khas Manado.

Super Journey - Ayu Puspitasari 10

Setelah kami selesai di tempat oleh-oleh kami langsung menuju bandara Sam Ratulangi, di Bandara ini kami sudah akan berpisah, dan Ilham akan terlebih dahulu terbang karena dia menggunakan penerbangan langsung menuju Surabaya. Sedangkan yang lain menuju Jakarta. Pesawat yang akan membawa kami ke Jakarta pukul 18.30 WITA. Saat kami menunggu pesawat kami di temani oleh semburat jingga dari matahari yang tenggelam, tenggelam untuk mengakhiri semua perjalanan indah kami selama lima hari kami di Manado.

Bukankah setiap pertemuan itu selalu ada perpisahan? Karena tidak ada pertemuan yang abadi, yang abadi itu adalah perpisahan. Entah itu berpisah selamanya atau berpisah sementara. Namun semoga perpisahan ini hanya perpisahan sementara, agar kita bisa bertemu lagi di lain kesempatan. Terima kasih untuk lima hari yang super menakjubkan, untuk semua kenangan indah yang terukir jelas dalam memori alam bawah sadar otak kita. Terima kasih untuk kalian semua yang sudah menjadi teman seperjalanan, sahabat, dan keluarga.