Super Journey - Ilham

Dilihat 297 kali

Jam 3 dini hari saya bersama 7 orang lainnya berkumpul di Bandara Internasional Soekarno Hatta, menunggu keberangkatan pesawat pada jam 5. Kami adalah 8 orang pemenang Super Journey Challenge yang diadakan oleh Super Adventure beberapa waktu lalu. Selain saya, pemenang lainnya adalah Rico, Detha, Edy, Ayu, Aya, Alim dan Dena. Ya, sesuai yang dijanjikan sebelumnya, pemenang lomba ini akan mendapat hadiah berupa Petualangan ke Bunaken. Bersama kami ada Bang Dewe dan juga 2 orang bintang tamu. Yaitu Marischka Pruedence dan Rahung Nasution.

Kami tiba di Bandara Sam Ratulangi, Manado, sekitar jam 10 WITA. Di sana kami sudah ditunggu oleh Team Indonesia Expeditions. Ada Bang Ian dan Bang Bui yang menjemput kami menggunakan mobil. Kemudian kami pun memulai perjalanan kami.

Tujuan pertama kami adalah Desa Kilo Tiga, Amurang. Disana kami akan melakukan kegiatan rock climbing di tebing yang udah banyak mencetak banyak climber handal, Dinding Kilo Tiga namanya. Tiba di Desa Kilo Tiga, kami harus trekking lagi untuk menuju lokasi tebing. Sekitar 30 menit perjalanan, saya akhirnya bisa melihat tebing yang menjulang tinggi dengan bentuk tebing yang menggantung. Ini tebing yang bakal kami jajal. Disana juga udah ada Bang Egy, Bang Arlen, Bang Octris dan teman-teman dari Panjat Tebing Manado. Mereka udah menyiapkan peralatan panjat dan juga tenda-tenda untuk istirahat kami.

Setelah membereskan barang-barang, kami langsung menjajal Dinding Kilo Tiga. Setelah pengenalan alat, Bang Ian mendapat giliran pertama memanjat sekaligus memberikan demo pada kami semua. Dia sangat lihai ketika memanjat, pijakan demi pijakan dia lewati dengan pasti, dalam beberapa detik dia sudah naik beberapa meter ke atas. Hal itu tentu membuktikan bahwa dia sudah sangat berpengalaman dibidang panjat tebing. Melihatnya memanjat membuat saya berpikir bahwa panjat tebing adalah hal yang mudah, padahal nyatanya tidak.

Giliran berikutnya adalah Detha, Kak Prue dan Edy. Setelah itu giliran saya tiba. Bagi saya ini adalah pertama kalinya memanjat di tebing “sungguhan”. Sebelumnya saya memang pernah beberapa kali mencoba climbing tapi di tebing bohongan alias wall climbing. Yaitu papan panjat yang biasa digunakan latihan oleh anggota Sispala maupun Mapala di kampusnya. Ya, hanya sebatas itu. Dan itu saya melakukannya dengan susah payah. Apalagi di tebing beneran?

Sebelum memanjat saya sudah memakai harness (alat pengaman yang dipasang ditubuh) dan helmet. Harness dihubungkan menggunakan carabiner dan descender pada tali kernmantel yang sudah terpasang pada tebing. Lalu ada chalk bag untuk menyimpan magnesium karbonat yang berguna untuk menghilangkan keringat di telapak tangan supaya tidak licin saat memanjat. Satu lagi ada sepatu panjat. Tapi karena ukuran kaki saya yang terlalu besar, jadi nggak ada sepatu yang muat. Alhasil saya harus nyeker.

[caption id="attachment_54043" align="aligncenter" width="700"]Super Journey - Ilham 3 Trekking ke Dinding Kilo Tiga[/caption] [caption id="attachment_54044" align="aligncenter" width="700"]Super Journey - Ilham 4 Dinding Kilo Tiga[/caption]

Dalam climbing, selain climber, ada satu orang lagi yang disebut sebagai belayer, yaitu orang yang menahan beban si climber. Jadi kalau lagi manjat tiba-tiba kita jatuh, tenang karena ada belayer yang akan menahan. Sehingga nggak akan jatuh. Apalagi safety procedurenya udah lengkap. Aman pokoknya. Saat itu Bang Bui yang bertindak sebagai belayer.

Saya memanjat di jalur yang sama seperti yang lainnya. Nggak seperti kelihatannya, dalam panjat tebing membutuhkan kejelian yang tinggi untuk menemukan pegangan atau pijakan tangan dan kaki. Bagi yang pertama kali mencoba seperti saya, mungkin akan kebingungan saat mencari dan menentukan mana pijakan yang baik. Tapi lama-kelamaan akan terbiasa. Pada prosesnya saya berhasil naik sampai beberapa meter. Lalu saya sampai di bagian tebing menggantung yang bersudut 180 derajat atau disebut roof. Ketika berusaha melewati bagian itu, pegangan tangan saya pada tebing terlepas dan membuat saya seketika jatuh. Ya, jatuh dan menggantung di tali.

Panjat tebing memang bukan sekedar memerlukan niat dan nyali, tapi butuh teknik yang harus diasah secara terus-menerus kalau ingin handal seperti teman-teman dari Indonesia Expeditions atau Panjat Tebing Manado. Setelah melewati perjalanan panjang dan melakukan aktivitas yang menguras tenaga, kami menghabiskan malam bersama dengan obrolan-obrolan ringan di dekat api unggun dan tentunya kami “makang” malam dengan bumbu 3 pulau nusantara (Manado, Jawa dan Batak) untuk sayur dan ayam bakar buatan Bang Rahung. Malam itu kami tutup dengan bernyanyi bersama.

Keesokan harinya kami kembali memanjat tebing tapi dengan jalur yang berbeda. Jalur yang bisa dibilang lebih mudah, karena kebanyakan dari kami berhasil memanjat sampai bagian top (bagian tebing yang merupakan tujuan akhir pemanjatan). Selain itu kami juga mencoba yang namanya teknik ascendingdescending, yaitu teknik menaiki dan menuruni tali menggunakan alat yang disebut ascender dan descender. Banyak pengaplikasian dari teknik ini, seperti SRT untuk naik – turun di goa vertikal, rappeling, canyoning, dll.

[caption id="attachment_54045" align="aligncenter" width="750"]Super Journey - Ilham 5 Rock Climbing[/caption] [caption id="attachment_54046" align="aligncenter" width="750"]Super Journey - Ilham 6 Ascending - Descending[/caption]

Selesai melakukan aktivitas panjat tebing, kami langsung beres-beres dan bersiap melanjutkan perjalanan ke Timbukar untuk menjajal arung jeram di Sungai Nimanga. Sebelum memulai rafting, kami diberi pengarahan terlebih dahulu oleh instruktur. Tentang bagaimana cara mendayung, cara duduk pada boat dan juga instruksi yang diberikan skipper pada saat pengarungan. Alat keselamatan seperti helmet dan pelampung sudah terpasang, plus masing-masing orang memegang dayung.

“Dayung maju”, begitu kata skipper ketika aliran sungai tenang. “Stop” saat boat sudah mendekati jeram-jeram yang cukup deras. Lalu “dayung mundur” untuk mengurangi kecepatan kalau boat melaju terlalu cepat. Kadang juga skipper memberi intruksi “belok kanan”, “belok kiri” dan “BOOM” untuk menghindar kalau di depan ada rintangan seperti dahan pohon yang menghalangi.

Ini juga pertama kalinya saya melakukan rafting. Sungai Nimanga memang cocok untuk pemula seperti saya. Dengan grade 3, sungai ini memang memilki banyak jeram tapi tidak terlalu berbahaya. Pada beberapa jeram tertntu, memiliki nama-nama yang unik. Ada Jeram Golden Gate, yaitu jeram pertama dalam pengarungan Sungai Nimanga. Jeram Piton, jeram yang panjang dan meliuk-liuk seperti ular. Ada juga Jeram Superman, itu karena ada sebuah batu yang kalau dilewati akan membuat boat melompat. Terakhir Jeram Goodbye yang merupakan jeram terakhir di Sungai Nimanga.

Sekitar 2 jam mengarungi sungai, kami akhirnya sampai dititik akhir / garis finish. Sungguh pengalaman yang seru, mendebarkan dan memacu adrenalin. Mendayung selama 2 jam sukses membuat lelah dan tangan pegal. Tapi keseruan selama pengarungan sanggup membayar kelelahan itu. Suatu hari, mungkin saya akan rindu rasanya berlayar di atas perahu karet melawan ganasnya jeram-jeram di sungai.

[caption id="attachment_54047" align="aligncenter" width="750"]Super Journey - Ilham 7 Rafting[/caption] [caption id="attachment_54049" align="aligncenter" width="750"]Super Journey - Ilham 8 Finish Rafting (sumber: Indonesia Expeditions)[/caption]

Setelah asyik berbasah-basahan di sungai, kami melanjutkan perjalanan ke Tomohon. Di sana kami menginap di sebuah hotel. Malamnya setelah makan di restoran di luar hotel, kami langsung istirahat karena esok dini harinya kami akan mendaki ke Gunung Mahawu.

Sekitar jam 3 dini hari, kami semua sudah berkumpul untuk menuju ke Gunung Mahawu. Dari hotel Kami diantar dengan mobil sampai di titik awal pendakian. Setelah itu kami baru memulai trekking dengan medan jalan makadam yang cukup lebar. Di kanan kirinya adalah hutan yang cukup lebat. Suara serangga seperti jangkrik dan tonggeret saling bersautan menemani pendakian kami. Begitu juga suara burung, yang paling saya ingat adalah suara dari burung hantu. Ketika burung itu bersiul, beberapa dari kami membalasnya. Lalu burung tersebut kembali membalas dengan suara yang lebih nyaring.

Di beberapa titik terdapat shelter untuk beristirahat. Lama-kelamaan jalan semakin sempit dan menjadi jalan setapak yang hanya muat dilewati oleh satu orang. Tak lama jalan berganti lagi menjadi beton yang dilengkapi pegangan besi disisi kanannya, tapi pegangan tersebut sudah mulai rusak. Jalan akan tetap seperti itu sampai puncak. Setelah hampir 2 jam mendaki, saya sampai di puncak dibarengi dengan langit yang mulai berwarna kemerah-merahan tanda matahari akan terbit.

Di puncak masih banyak ditumbuhi oleh pepohonan tinggi sehingga pemandangannya tertutupi. Maka dari itu, di sana terdapat sebuah bangunan tak beratap setinggi 3 meter yang bisa dinaiki untuk melihat pemandangan dari atasnya. Meski tingginya hanya sekitar 1.300 mdpl, kaldera Gunung Mahawu cukup luas. Di dalamnya juga terdapat danau kawah yang berukuran kecil. Selain itu, dari atas puncak saya juga dapat melihat gunung lainnya seperti Gunung Lokon dan Gunung Empung. Sementara itu di kejauhan terlihat Pulau Bunaken, Pulau Manado Tua dan pulau-pulau kecil lainnya yang seolah mengapung di laut Sulawesi.

[caption id="attachment_54051" align="aligncenter" width="750"]Super Journey - Ilham 9 Puncak Mahawu[/caption]

Sekitar jam 7 pagi kami bersiap untuk turun gunung dengan melewati jalur lain. Jalur yang bisa ditempuh dengan waktu 10 menit. Sebelum itu kami harus mengitari puncak gunungnya, karena titik untuk turun di jalur 10 menit itu ada di sisi lain dari puncak. Setelah menuruni sekitar 160 anak tangga, kami sampai di gerbang masuk pendakian Gunung Mahawu. Di situ juga terdapat tulisan “Mahawu” yang berukuran besar.

[caption id="attachment_54052" align="aligncenter" width="750"]Super Journey - Ilham 10 Mahawu (Sumber: Bui Sondakh)[/caption]

Mobil yang menjemput kami sudah menunggu dan kami pun langsung berangkat ke destinasi selanjutnya, yaitu Pasar Beriman Tomohon atau disebut juga sebagai Pasar Extreme. Kenapa disebut begitu? Sebenernya sama seperti pasar tradisional lainnya, pasar di sana menjual berbagai dagangan seperti sembako, sayur-mayur, buah-buahan, ikan dan daging. Yang membuatnya unik adalah saat memasuki lokasi penjualan daging hewan. Daging yang dijual di sana bukanlah daging hewan yang lazim diperdagangkan di pasar Indonesia kebanyakan. Anjing, kucing, babi hutan, paniki (kelelawar), ular piton, tikus ekor putih, hingga Yaki (monyet khas Sulawesi Utara) adalah daging hewan yang dijual secara bebas di Pasar Tomohon.

Daging anjing, kucing, paniki dan tikus dijual secara utuh dengan kondisi yang sudah dibakar. Hewan-hewan tersebut dieksekusi dengan cara diikat lehernya kemudian dipukul bagian kepalanya hingga mati, baru setelah itu dibakar. Saya sempat melihat beberapa anjing hidup yang berada dalam kandang, anjing-anjing tersebut memasang wajah ketakutan. Mungkin mereka tahu, bahwa mereka tinggal menunggu giliran saja untuk dieksekusi.

[caption id="attachment_54053" align="aligncenter" width="750"]Super Journey - Ilham 11 Ular dan Anjing[/caption] [caption id="attachment_54054" align="aligncenter" width="750"]Super Journey - Ilham 12 Paniki (kelelawar)[/caption]

Setelah puas (atau lebih tepatnya nggak tahan) berkeliling di Pasar Tomohon, kami sarapan terlebih dahulu di sebuah tempat makan di daerah Wakeke. Di situ kami makan Bubur Tinutuan khas Manado. Bubur ini terbuat dari beras, jagung, labu dan sayuran lainnya. Rasanya tidak jauh beda dengan bubur pada umumnya. Namun lebih khas karena ada rasa manis dari jagung muda.

Agenda kami selanjutnya untuk melakukan canyoning terpaksa dibatalkan. Bukan tanpa alasan. Akibat hujan yang melanda selama beberapa jam, aliran air di Air Terjun Tinoor yang mau digunakan untuk canyoning menjadi sangat deras. Karena terlalu beresiko, kegiatan canyoning ditiadakan. Alhasil, agenda kami beberapa jam ke depan menjadi lowong. Lalu kami rembukan dan memutuskan untuk menonton film Captain America: Civil War di bioskop. Sisa hari itu kami habiskan dengan nongkrong di kafe, nonton, makan malam dan beristirahat.

Esok harinya dari hotel kami langsung berangkat ke Pelabuhan. Ya, kami berangkat ke tujuan utama kami, Bunaken. Di pelabuhan, kami sempatkan membeli ikan dan bahan-bahan bumbu untuk makan malam terakhir kami. Kemudian selama kurang lebih 1 jam menyebrangi laut, kami akhirnya tiba di destinasi terakhir kami. Disana kami akan melakukan scuba diving. Ini yang ditunggu-tunggu semuanya.

[caption id="attachment_54055" align="aligncenter" width="750"]Super Journey - Ilham 13 On the way Bunaken[/caption]

Dari resort, kami pergi ke salah satu spot diving bernama Alungbanua. Semua perlengkapan menyelam sudah siap. Mulai dari wetsuit, masker, fins, tabung oksigen, BCD dan alat lainnya dalam kondisi baik dan aman untuk digunakan. Sebelum nyemplung ke laut, kami diberikan arahan oleh dive master tentang kegunaan tiap alat dan cara menggunakannya. Lalu kode-kode tangan yang digunakan pada saat menyelam, karena saat di bawah air nggak mungkin untuk berbicara.

Kak Prue juga memberitahu cara equalize. Yaitu cara untuk menyamakan tekanan pada gendang telinga. Karena semakin dalam menyelam, tekanan air laut akan semakin kuat dan itu membuat telinga menjadi sakit. Caranya adalah seperti buang ingus tapi sambil mencubit lubang hidung. Equalize ini sangat penting. Kalau memaksakan menyelam dengan kondisi telinga sakit tanpa melakukan equalize, akan menyebabkan telinga terus-menerus sakit selama berhari-hari.

Setelah mendapat arahan, satu per satu kami nyemplung ke laut dengan posisi kepala terlebih dahulu. Saat giliran saya tiba, jantung saya berdebar-debar. Begitu nyebur, saya langsung menghirup nafas dari regulator. Meskipun awalnya agak panik, setelah beberapa saat saya bisa bernafas dengan stabil menggunakan regulator. Ketika saya mengalihkan pandangan ke bawah, ternyata yang lain sudah menyelam lebih dalam lagi. Sebagian masih kesulitan untuk turun lebih dalam. Sedangkan saya masih berkutat di permukaan dan dipandu oleh salah satu dive master. Untuk bisa tenggelam, harus melakukan deflate pada tombol deflator. Yaitu untuk mengeluarkan udara pada BCD. Pada prosesnya saya berhasil turun beberapa meter lebih dalam. Tapi itu mengakibatkan telinga saya terasa sangat sakit, lalu dive master menginstruksikan saya untuk melakukan equalize.

Semakin lama saya semakin terbiasa meskipun kadang masih lupa harus nafas dari mulut (bukan hidung). Membuat posisi stabil di kedalaman tertentu juga sangat sulit dilakukan. Ketika saya ingin menyelam lebih dalam, tubuh saya justru terangkat naik ke atas. Kebanyakan dari kami juga masih belum bisa mengontrol posisi di bawah air. Hingga kadang kami saling bertubrukan. Beberapa kali saya tertendang kaki orang, kejedot tabung oksigen orang. Dan yang paling parah, kepala saya nyundul kapal saat naik ke permukaan.

[caption id="attachment_54056" align="aligncenter" width="750"]Super Journey - Ilham 14 Masih ngambang di permukaan (sumber: Indonesia Expeditions)[/caption] [caption id="attachment_54057" align="aligncenter" width="750"]Super Journey - Ilham 15 Scuba Diving (sumber: Marischka Pruedence)[/caption]

Dasar laut di bawah kapal berhenti mungkin hanya sekitar 3 – 4 meter. Tapi kalau lebih jauh lagi, ada sebuah palung yang semakin jauh semakin dalam. Warna air yang sebelumnya berwarna biru bening, kalau terus ke palung akan semakin gelap. Saya tahu karena saya sempat menyelam hingga kedalaman 9 meter. Ternyata semakin dalam, aneka terumbu karang dan ikan semakin beragam. Sayangnya, saya kurang bisa menikmati pemandangan di bawah laut karena telinga saya terus terasa sakit. Oleh karena itu saya memutuskan untuk naik ke permukaan. Telinga saya masih terasa mendengung ketika saya menginjakkan kaki di atas kapal. Untung saya cepat putuskan untuk naik, kalau nggak gendang telinga saya mungkin udah kenapa-kenapa.

Itu adalah pengalaman scuba diving pertama kali dan langsung nyebur ke laut Bunaken. Sungguh pengalaman yang luar biasa. Rasanya saya ingin mencobanya lagi lain waktu. Ternyata scuba diving bikin nagih, sama kayak naik gunung. Kesempatan berikutnya sepertinya saya wajib untuk berlatih dan membiasakan memakai peralatan selam di kolam renang terlebih dahulu. Karena setahu saya, biasanya untuk pemula yang pertama kali diving akan melakukan intro dulu di kolam renang. Setelah itu baru terjun ke medan sesungguhnya.

Setelah semua naik ke kapal, kami kembali ke resort berbarengan dengan matahari yang kembali ke peraduannya. Malamnya kami makan malam dengan masakan Chef Rahung dan Bang Arlen yang luar biasa lezat. Malam terakhir itu terasa panjang, kami semua duduk membentuk lingkaran, kami mengobrol dan tertawa bersama hingga larut malam. Hingga tidak terasa saat waktu sudah menunjukkan jam 1 dini hari, kami pun mulai tumbang satu persatu.

Malam berakhir, matahari sudah naik. Saya baru bangun jam 8 pagi. Sangat telat untuk ukuran bangun pagi. Tapi bukan saya saja yang bangun kesiangan, kebanyakan dari kami juga baru bangun sekitar jam 8 – 9. Mungkin efek semalam. Hari itu adalah hari terakhir kami bersama-sama. Snorkeling menjadi kegiatan penutup kami.

Dengan bermodalkan masker, snorkel dan fins kami mulai berjalan ke arah laut menuju spot snorkeling. Karena nggak begitu mahir berenang, awalnya saya hanya berani di daerah yang dangkal, daerah dimana kaki saya masih bisa berpijak di dasar laut. Tapi semakin jauh dan semakin dalam varietas biota bawah laut semakin cantik dan berwarna. Mana yang lain juga berenang ke daerah yang dalam. Saya pun memberanikan diri berenang ke daerah itu, dimana kaki saya tidak lagi bisa berpijak di dasar laut. Dan saya berhasil. Meskipun rada khawatir kalau tiba-tiba saya tenggelam dan nggak bisa naik ke permukaan. Tapi rasa takut itu tergusur oleh rasa penasaran saya pada keindahan bawah laut yang sangat eksotis itu.

[caption id="attachment_54058" align="aligncenter" width="750"]Super Journey - Ilham 16 Snorkeling (Sumber: Rico Budiyanto)[/caption]

Sekitar 1 jam snorkeling, kami terpaksa kembali ke resort karena harus mengejar jadwal keberangkatan pesawat. 60 menit terasa kurang bagi saya untuk menikmati bawah laut dengan bersnorkeling. Keindahan taman laut Bunaken seolah membius saya, membuat saya kecanduan pada kegiatan di laut. Seperti scuba diving dan snorkeling yang bahkan pada awal tahun saja tidak pernah terpikirkan di kepala saya. Tidak ada keinginan untuk menikmati panorama bawah laut. Namun kini, setelah menyaksikan secara langsung cantiknya alam bawah laut Bunaken, saya bertekad untuk lebih mengenal Indonesia dari bawah lautnya.

Setelah membersihkan diri di resort, kami mampir ke Kota Manado untuk makan siang dan membeli oleh-oleh. Kemudian kami menuju Bandara Sam Ratulangi. Jadwal pesawat saya beda sendiri dengan yang lain. Saya langsung pulang ke Surabaya, sedangkan yang lainnya tetap ke pulang ke Jakarta. Jam 5 tepat, setelah berpamitan dengan semuanya saya buru-buru check in. Dan ternyata pesawat Lion Air yang akan saya naiki itu delay selama 1 jam. Alhasil jadwal keberangkatan saya hampir berbarengan dengan jadwal teman-teman. Meskipun lebih cepat pesawat saya beberapa menit. Mungkin kami memang ditakdirkan untuk berangkat bareng, pulang pun harus bareng. Makanya jadwal pesawat saya jadi delay. Jam 18.10 saya kembali pamit dengan semuanya. Dan kali itu pesawat saya benar-benar berangkat dan terbang meninggalkan Manado.