Super Journey - Shinta

Dilihat 292 kali

Pepatah mengatakan tuliskan apa yang kamu inginkan dan pasang lekat-lekat dimatamu dimana kemudian semesta akan membantu kamu menujunya. Bermimpilah seolah tiada batas sekat untukmu mencapainya. Voilaaa… dan saya sangat mempercayai mantra tersebut. Berawal dari pm abang idos untuk mengikuti kompetisi travel blog yang diadakan Super Journey dengan Kaskus akhirnya saya pun mengirimkan beberapa tulisan dan kemudian menang. Tahu apa kata pertama saya sebelum mengetahui saya menang ? “Ah becanda kali Mbak, masa iya menang….”. Tapi takdir mengamini dan memang saya kemudian terbang ke Manado…..

Rabu 4 Mei 2016

Pesawat kami tepat pukul 05.30 akan meninggalkan Jakarta menuju Manado, sedangkan saya dan 3 orang teman lainnya yakni Alim, Rico, dan juga Detha sudah berada di bandara pada pukul 01.00 pagi, maklum tempat tinggal kami berada berdekatan disekitaran Tendean sehingga memutuskan untuk pergi bersama dengan menggunakan taksi, untuk menekan cost budget maklum namanya juga backpacker. Harga adalah hal yang sangat sensitive bagi kami hehehe….

Jarum jam menunjukkan pukul 3.00 pagi kemudian Bang Dewe dari INA Expedition yang merupakan orgnazied tour kami sampai di bandara dan kemudian mengabsen kami satu per satu dan memberikan merchandise dari Jarum Super berupa satu buah jaket, satu buas kaos kerah , satu buah keril berukuran 20 Liter, dan satu buah jaket. Dan semuanya wajib digunakan selama acara berlangsung. Kemudian terbanglah kami menuju Manado dengan durasi penerbangan 3 jam.Saya yang semalaman begadang akhirnya tertidur pulas dan bangun hanya pada saat makan saja. Hehehe….pelor alias nempel molor….

Jam 08.30 menunjukkan kami sampai di Manado, oh iya dan pada saat acara kali ini pun ada guest startnya yakni Marischka Prudence seorang travel blogger dan Rahung Nasution seorang video documenter maker. Selama lima hari kami akan ditemani mereka. Manado adalah sebuah kota yang sangat panas tapi penduduknya sangat tampan dan cantik, yang teman saya katakana 9 dari 10 orang yang ada di Manado pasti ganteng dan cantik. And it is true kawan. Mungkin karena letaknya yang berada diujung Sulawesi dan lebih dekat ke daerah Filipina secara geografis menjadikan kontur budaya termasuk genetika warganya mirip seperti ras Asia Melayu yang khas. Kata yang teringat oleh saya adalah sebuah kata yang tertera diatas Bandara Sam Ratulangi yakni “Sitou Timou Tumou Tou yang  artinya Manusia Hidup Menghidupkan Orang”.Sebuah falsafah yang sangat cantik bahwa kita hidup harus membantu orang lain dan saling menghidupkan.  Sebagian besar warga Manado adalah warga keturunan Cina.

Bertolak dari Bandara kami bergegas menuju Kalasey, waktu tempuh sekitar 1,5 jam. Ditengah perjalanan kami mampir disebuah restoran sea food terkenal di Kalasey untuk makan siang. View di restoran ini sangat cantik dengan view laut dan gunung Manado Tua. Selesai makan siang kami bergegas menuju Amurang, disini adalah destinasi pertama kami. Kami berencana akan menghabiskan malam dengan camping untuk melakukan panjat tebing. Waktu tempuh yang dibutuhkan untuk mencapai Amurang dari Kalasey sekitar 1,5 jam. Tapi ditengah perjalanan kami ditemani hujan petir dan badai sehingga menyebabkan sebagian jalanan yang dilalui banjir. Tetapi akhirnya kami berhasil melewati banjir tersebut.

Amurang sendiri adalah sebuah desa dengan rumah penduduk masih sederhana dan terutama banyak terdapat anjing disini. Agak takut sebenarnya, tapi disana satu rumah sepertinya sudah terbiasa memelihara anjing, walau katanya sama orang Manado daging anjing kadang dimakan. Ih…serem….Jam sudah menunjukkan pukul 15.00 waktu setempat, awalnya hujan deras dan kegiatan climbing akan dihentikan dan dilanjutkan esok pagi tetapi karena sudah reda tetep on schedule walau lebih singkat. Akhirnya kami mengepak barang-barang yang dibutuhkan dan menaruh sisanya di mobil yang terparkir dirumah warga.

Untuk menuju lokasi pemanjatan kami harus berjalan dulu sekitar 30 menit melewati perkebunan penduduk dan melewati sungai juga. Dilokasi tenda sudah didirikan oleh tim Indonesia Expedition dan juga sudah ada tim lokal yang membantu persiapan disana dengan memasak dan safety procedure peralatan untuk naik gunung. Kalo tidak salah tim lokal yang membantu INEX itu ada Bang Bui, Bang Arlen, Bang Christ, dan Tita. Sedangkan Tim INEX sendiri ada Ka Iyan, Ka Egi, Ka Dewe. Selesai menaruh barang-barang di tenda masing-masing kami langsung menuju tebing Kilo Tiga. Disini terdapat keunikan dari Tebing Kilo Tiga, bahwa posisi batunya terbalik dan pada saat kita memanjat akan seperti menahan batu dari bawah bukan menahan batu dari atas. Kontur batu seperti ini saya rasa tidak ditemukan di Jawa meskipun di Karst Padalarang.

Setelah diberikan pengarahan singkat mengenai bagaimana cara memanjat yang baik, descending, ascending satu persatu peserta mulai melakukan praktek memanjat tebing Kilo Tiga. Bagi saya sendiri panjat tebing tersebut adalah pertama kali dan sangat luar biasa susah karena pada saat posisi ascending dan harus berdiri untuk memindahkan kunciannya untuk menstabilkan berat badan sangatlah sulit. Kemudian saya menyerah. Hahaha… artinya ketika pulang ke Jakarta saya harus belajar kembali memanjat dengan baik dan benar.

Kegiatan panjat memanjat dilakukan sampai magrib atau senja menjelang, setelah itu kami bergegas kembali ke lokasi tenda dan mulai menyiapkan makan malam. Lokasi tenda dikelilingi oleh hutan bamboo dan kita masak pake kayu bakar loh dan disinilah Bang Rahung mulai beraksi beliau jago membuat masakan dengan bumbu rempah yang sangat enak. Kebetulan menu makan malam yang akan dibuat adalah ayam goreng dengan tahu tempe dan sambel dabu-dabu yang rasanya seperti rujak cingir tapi asem. Karena saya sendiri seorang lacto ovo vegetarian saya lebih memilih makan telur dan tempe tahu. Acara makan malam digelar dengan mengaparkan daun pisang ditanah dan makan bersama-sama hanya ditemani oleh lampu head lamp dan suara tonggerek dan burung malam. Berasa seperti pelatihan anak mahasiwa pecinta alam. Malam kami habiskan dengan bernyanyi dan membuat api unggun, dan sesaat lupakanlah dunia signal handphone dan listrik….

Kamis 5 Mei 2016

Menghabiskan malam dengan nyanyian tonggerek dan kegelapan. Buat kami peserta super journey tertidur dengan lelap ditambah dengan kualitas tenda yang disajikan adalah tenda 4 musim super duper nyaman. Thanks to INEX. Bangun pagi jam 5 saya bangun paling pagi, dan melihat kondisi diluar bahwa para abang panitia dari INEX bergelantungan di hammock yang diikat pada satu shelter yang utuh. Ditambah mereka sudah party dan bernyanyi semalam dengan Cap Tikus. Cap Tikus adalah semacam minuman hasil fermentasi khas dari Manado dengan kadar alcohol sekitar 40%. Ada satu abang kesayangan saya yang jago masak. Namanya Bang Arlen dia cowok tapi jago banget masaknya, karena saya lacto ovo vegetarian maka makanan yang saya bisa makan hanyalah telur sebagai sumber protein. Sarapan terhidang adalah roti tawar isi alias sandwich, buat orang Eropa adalah big breakfast, kalo buat saya sendiri atau kebanyakan orang Indonesia lainnya hanyalah cemilan, kurang rasanya jika tak makan nasi.

Selesai sarapan dijadwalkan kami akan belajar memanjat lagi dengan materi ascending dan descending, menurut saya materi ini lebih susah dibandingkan kemaren. Bukan saja berpacu dengan waktu yang terbatas tapi dibutuhkan sekuat tenaga untuk dapat berdiri memindahkan tali dari atas ke bawah.Dikarenakan euphoria peserta yang sangat tinggi, waktu yang disepakati hanya sekitar sampai jam 9 pagi akhirnya molor hingga jam 10.30.Panitia bergegas segera mempacking peralatan, karena hari ini kami mempunyai tujuan destinasi lainnya yaitu Rafting di Sungai Nimanga.

Perjalanan dari tempat rafting sekitar satu jam dari Kilo Tiga. Disana kami pada saat tiba di lokasi rafting hujan rintik-rintik nan romantic sudah menyambut kami. Kudapan makan siang sudah disiapkan, dengan makanan khas Manado yakni Paniki. Paniki adalah daging kelelawar yang sudah digoreng. Entah apa yang ada dipikiran saya saat itu, saya langsung menjauhi makan siang dari tim dikarenakan sedikit ngeri dan jijik. Mungkin karena faktor kebiasaan saja, karena di Pulau Jawa jarang yang makan kelelawar sehingga terkesan aneh.

Dan disini juga budaya yang aneh setiap rumah sepertinya memelihara anjing, saya sedikit takut sehingga makan menjauhi lokasi malah didekat parkiran, ketakutan saya akan anjing dan berlari sama halnya dengan saya takut kucing. Trip Manado rasanya ngeri-ngeri sadap. Tapi ada keunikannya beberapa gadis Minahasa cilik yang berusia sekitar 5-8 tahun mereka selalu mendekati saya. Kebetulan saya memegang kamera warna pink dan menyukai anak-anak. Bukanlah hal yang mudah bagi saya untuk dekat dan akrab dalam tempo yang singkat dengan mereka. Akhirnya mereka saya ajak selfie, dan mereka sangat menikmati selfie tersebut dan meminta saya take ulang beberapa gambar. Ah gadis kecil yang polos, penuh keceriaan, saya jatuh cinta dengan senyuman mereka dan rasa bahagia sesederhana itu..

Akhirnya makan siang telah usai, waktunya untuk segera bergegas rafting. Setiap perahu dibagi menjadi 4 orang peserta dan 1 skyper. Kurang lebih ada 3 perahu yang akan melakukan rafting. Menurut pemandunya Sungai Nimanga merupakan jeram dengan grade 3 sama seperti Sungai Citatih di Jawa Barat. Dan pemandu kami pun pernah menjadi instruktur disana. What a life!! Akhirnya kami melaju dan saya sangat menikmati pemandangan sepanjang track rafting 12 km rasanya hanya tim kami saja. Dikanan dan dikiri sungai penuh oleh tanaman tebu dan juga kebun. Serta ladang penyulingan cap tikus..hehehe…Tahukah kalian bahwa penyulingan Cap Tikus sangatlah sederhana hanya berupa berupa sumur sederhana dengan diberi tempat berteduh dan dilakukan penyaringan secara tradisional. Kami melakukan rafting selama kurang lebih 2 jam dan diakhiri dengan hujan besar pula. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan menuju hotel di Kota Tomohon selama kurang lebih satu jam.Dan baru menjelang magrib kami sampai disana.

Hotel itu bernama Gardenia Inn, hotel khas dataran pegunungan dengan rumah kayu, rumput yang luas, dan udara yang dingin. Mengingatkan saya pada kota Bandung. Pemandangan langsung dari hotel Gardenia Inn adalah Gunung Mahawu. Selesai check in dan beres-beres loading barang kami makan malam dan bergegas istirahat dan mengumpulkan tenaga karena kami harus bangun pada saat jam 2 pagi untuk tracking dini hari nanti.

Jumat 6 Mei 2016

Alarm sudah bernyayi dengan indahnya pada jam 02.30 dan saya segera bergegas bangun walau rasanya masih ingin terlelap dengan gulungan selimut tebal. Akhirnya saya membangunkan partner in crime saya yakni Ayu yang hanya merupakan satu-satunya peserta wanita lainnya dari 6 orang pemenang Super Jourey. Tetapi ia masih meringkuk dengan nyenyaknya. Jam 03.30 kami sudah menuju mobil dan bersiap tracking menuju kaki Gunung Mahawu. Jarak yang ditempuh dari hotel hingga menuju kaki Gunung Mahawu hanya sekitar 15 menit. Sampai disana kondisi gelap gulita dan kami sudah mulai mengeluarkan senter masing-masing dengan track menanjak dan jalanan tanah basah. Ketinggian Gunung Mahawu sekitar 1300 mdpl. Dikarenakan baru turun hujan, kami melewati track dengan jalanan yang telah disemen tetapi dengan pegangan besi ditengahnya. Saya melewati medan ini beberapa kali mengalami kesulitan dikarenakan sepatu saya untuk mount trail sehingga beberapa kali terjatuh. Kebetulan track yang kami gunakan adalah yang jarang dilewati karena sudah ada jalur baru. Kanan dan kiri track ditumbuhi ilalang nan tinggi dan track ditumbuhi lumut saking jarangnya terinjak kaki manusia,

Akhirnya setelah 1,5 jam melakukan tracking kami sampai di puncak Gunung Mahawu, kami harus menaiki semacam view point untuk dapat melihat pemandangan secara keseluruhan. Disebrang Gunung Mahawu terdapat Gunung Lokon dengan kondisi kering dan pasir menurut informasi yang disampaikan oleh Bang Iyan, dan terdapat kawah aktif yang masih mengeluarkan abu diawal track pendakiannya. Setelah puas mengabadikan momen sun rise kami bergegas turun dan melewati jalur baru untuk turun ke parkiran dan ternyata hanya membutuhkan waktu 15 menit saja. Jleeebbb… satu berbanding enam dari pada waktu yang dibutuhkan pada saat kami naik. Setelah mobil elf datang destinasi kami berikutnya adalah menuju Pasar Ekstrim. Perjalanan kami tempuh sekitar 30 menit untuk sampai di pasar Ekstrim.

Kenapa disebut Pasar Ekstrim atau Pasar Tomohon warga sekitar sini menyebutnya. Karena mereka menjual daging-daging ekstrim yang tidak umum seperti pasar yang ada di Jawa. Mereka menjual daging anjing, babi, kucing kampung, kera, kelelawar, ular bahkan daging monyet. Menyeramkan bukan? Saya sendiri memilih tidak turun dan tetap berada di mobil dan tidur. Karena saya tahu jika saya melihatnya langsung pasti akan pingsan. Melihat fotonya saja rasanya masih terbayang-bayang tidak enak. Selepas dari Pasar Tomohon kemudian kami santap pagi dan melanjutkan perjalanan menuju hotel.

Berdasarkan jadwal seharusnya kami check out pukul 10.00 tetapi dikarenakan hujan deras baru sekitar jam 1 siang kami check out. Sembari menunggu hujan reda saya dan Ayu lebih memilih untuk menghabiskan waktu dengan tea and coffee time diberanda sambil memandang langit kelabu dan hujan yang turun. Duh baper banget tapi itu adalah salah satu best moments yang saya miliki. Seharusnya kami Cannyoing dan Repelling tetapi dikarenakan arus yang cukup besar dan membahayakan keselamatan terpaksa kegiatan Canyyoing dibatalkan dan kami langsung bertolak menuju Manado untuk check in hotel dan menghabiskan malam dengan menonton bioskop. Jadwal diluar rencana..hehehe…Rasanya trip kali ini sangat komplit dengan pengalaman di gunung, tebing, kota dan jadi anak mall juga..hehehe… And the big show tomorrow is going to Bunaken…yeay….

Sabtu 7 Mei 2016

This is the day that every winner waiting for yeay akhirnya nyebrang juga ke Bunaken. Selesai persiapan check out dan sarapan kami bertolak dari hotel menuju pelabuhan. Seketika sampai di Pelabuhan Om Rahung belanjaikan dulu buat bakar-bakaran nanti di Pulau. Setelah menunggu sekian lama, maka kami pun bersiap menyebrang menuju Bunaken. Awalnya yang ada di otak saya akan menggunakan ferry atau fiber boat seperti menyebrang ke Kepulauan Seribu ternyata menggunakan kapal fiber kayu biasa berkapasitas sekitar 20 orang seperti biasa yang akan digunakan snorkeling di Kepulauan Seribu. Jarak waktu tempuh sendiri untuk menuju Daniels Dive Resort sekitar satu jam. Daniels Dive Resort adalah penginapan di pinggiran laut dengan gaya rumah panggung. Pada saat kami tiba air laut sedang surut sehingga kapal tidak bisa ditambatkan lebih dekat dengan bibir pantai, terpaksa kami harus berjalan.

Setelah dilakukan pembagian kamar dengan masing-masing 2 peserta, kami bergegas menuju kamar masing-masing, droping barang, kemudian makan siang. Setelah acara makan siang sambil menunggu snorkeling dan dijadwalkan pukul 2 siang waktu setempat. Tetapi acara kemudian sedikit mundur dikarenakan dive instructor masih dilaut..huhuhu..akhirnya kami hanya bermain di pinggiran pantai dan berhammock ria. FYI resort ini sepertinya adalah resort internasional terbukti dari banyaknya wisatawan asing yang meninginap disini. Saya dan Ayu menghabiskan waktu dengan foto-foto di pinggir pantai. Makin lama air laut makin pasang dan batas kedalaman antara laut dangkal dan laut terlihat secara jelas. Karena hanya beberapa puluh meter dari bibir pantai langsung palung laut…Huuuu seram….

Akhirnya sekitar jam 7 sore kami bertolak meninggalkan resort untuk menuju laut dan melakukan scuba intro diving. Pada trip kali ini hanyalah saya satu-satunya peerta yang mempunyai lisensi diving PADI, dan Ka Marischka serta Ka Iyan yang merupakan organizerpada perjalanan kali ini yang mempunya diving license. Sebagian besar pemenang adalah anak-anak gunung basicnya. Tempat yang dipilih merupakan tempat yang banyak memiliki pasir dan tidak memiliki banyak coral.Maklum pemula, ga lucu kalo belajar ngedive tapi nabrak dan ngerusak karang. Then satu per satu semua peserta pun turun, dengan kedalaman 3 meter semua belajar bagaimana buoyancy, equalizing, serta mask clearing dan menstabilkan nafas dan bergerak diair. Setelah semua cukup menguasai teknik dasar diving, maka kedalaman semakin ditambah dengan didampingi oleh dive instructor.

Kuncinya ketika diving adalah jangan panic ketika berada di air. Ketika saya melihat kedalam laut ternyata langsung palung booo dan udah biru banget ga kelihatan dasarnya dimana. Ya iyalah namanya palung laut, dan sepengetahuan saya palung laut Bunaken merupakan palung laut terdalam yang berdekatan dengan palunglaut Marina di Philipina bisa ribuan meter nampaknya. Wohooo…dalam sekali ya. Dan para peserta sudah mulai enjoy menikmati pemandangan bawah laut meskipun ada sedikit yang takut. Dan saya sendiri keasyikan menyelam lebih dalam sampai harus diperingatkan oleh dive buddy udah tidak terlalu dalam. Kedalaman yang saya selami sekitar 12-13 meter mungkin. Waktu berjalan begitu lambat sampai terasa oleh saya ketika naik ke atas permukaan laut ternyata sudah senja. Ah…ditambah senja Bunaken dengan indah menutup hari dengan syahdu dan kami bergegas menuju ke penginapan.Setelah sampai di penginapan kami bergegas membersihkan diri dan bersiap bersantap makan malam dibawah sinar rembulan yang cukup cerah dan ombak yang cukup tenang.

Minggu 8 Mei 2016

Hari ini adalah hari terakhir kami di Manado, yah sedih sekali…Hiks..Hiks.. But show must go on, seperti yang telah disampaikan pada saat briefing pada malam sebelumnya jam 7 pagi kami bertolak untuk melakukan snorkeling pagi,tetapi karena hujan turun terus menerus hingga pukul 08.00 pagi dan kondisi mendung sepertinya acara snorkeling dibatalkan. Akhirnya saya sendiri memilih untuk mandi dan melakukan full repacking. Dan pada saat saya check ke bungalow di pinggiran pantai Ka Dewe, Ka Iyan masih pada tidur..zzzz….hehehe menggantung dengan asyiknya di hammock.

Akhirnya kami sarapan di restoran resort dan diputuskan snorkelingdi pinggiran pantai untuk menghemat waktu, saya sendiri memilih untuk tidak snorkeling karena sudah full packing dan malas membuka peckingan lagi.Saya lebih memilih tidur di hammock dan menikmati sepoi-sepoi udara pantai yang aduhai asoy. Selesai snorkeling kami bersiap untuk check out sekitar jam 1 siang dan kembali ke Manado. Sampai di Manado langsung makan siang, menuju pusat oleh-oleh dan ke bandara untuk menunggu kepulangan kami menuju kota masing-masing. Semua peserta dan organizer kembali ke Jakarta hanya satu peserta saya yang bertolak menuju Surabaya. Sekitar jam 10 malam kami semua sudah tiba dan selamat sampai di Jakarta.

Thanks super journey atas hadiah trip ke Manadonya, perjalanan ini mengajarkan saya banyak hal dan bertemu orang-orang hebat. Bahkan pada akhirnya kita dengan semakin banyak berjalan dan melangkah menyadari bahwa kita bukan apa-apa dan makin merasa harus terus belajar dan banyak bersyukur…..