Ekspedisi PaGuCi : Dari Si Kecil Guntur, Si Mistis Papandayan, hingga ke Cikuray

Dilihat 1365 kali

Agenda liburan kali ini adalah mendakian kembali dengan tujuan kami adalah menuju Garut, dan langsung melakukan pendakian 3 gunung sekaligus yaitu Guntur, Papandayan, dan Cikuray, dengan waktu satu minggu full. Setelah menawarkan pada beberapa rekan-rekan ternyata yang menyanggupi hanya lima orang termasuk aku. Dan aku sebagai satu-satunya perempuan di tim ini. Setelah melakukan perhitungan matang, akhirnya kami memutuskan untuk berangkat menggunakan kendaraan pribadi karena biaya untuk pengeluaran bisa lebih hemat dibandingkan dengan menggunakan kendaraan umum.

16 Januari 2015 Hari ini adalah hari H dari pemberangakatan kami, pukul 08.00 WIB kami sudah berkumpul di rumah salah seorang dari kami. Setalah mengecek semua peralatan, dan lengkap akhirnya pukul 11.00 WIB kamii berangkat menuju Garut. Setelah melewati macet dan lain sebagainya pukul 18.00 WIB kami tiba di Garut. Dan mampir terlebih dahulu untuk mencari makan makan. Setelah makan malam kami langsung menuju rumah salah satu dari kami untuk bermalam sebelum besok pagi langsung melakukan pendakian ke Gunung Guntur.

PhotoGrid_1461048226668.jpg

17 Januari 2015 Jarak Gunung Guntur dari tempat bermalam kami tidaklah jauh, sehingga setelah kami melakukan mandi, makan pagi, dan persiapan pukul 08.00 kami sudah berangkat menuju gunung Guntur dengan jarak tempuh 30 menit, maka pukul 08.30 kami sudah sampai di basecamp Guntur, setelah melakukan registrasi pukul 09.00 WIB kami memulai perjalanan kami. Jalur yang kita pakai adalah mengunakan jalur Curug Citilis.

Setelah berdoa agar selamat dari naik hingga turun, kaki kami pun mulai melangkah. Yang kami lihat pertama kali adalah kegiatan penambanagan pasir, karena memang jalur yang kami pakai harus melewati tambang pasir. Awalnya trek yang kami lewati cenderung datar, namun lama kelamaan trek menjadi trek menanjak tajam dengan bebatuan besar dimana lututu kalian bisa dipastikan hampir menuju wajah, trek ini terus menanjak hingga ke pos 2. Di pos 2 adalah tempat trakhir kalian bisa mendapatkan air karena setelah pos 2, kalian akan langsung dihadapkan dengan trek tanah bercampur batuan kerikil yang mudah lepas tumbuhan yang tterlihat hanyalah seikit karena lebih banyak ilalang dan semak kering.

Perjalanan dari pos 2 menuju puncak 1 adalah perjalanan dimana kalian full menanjak tanpa ada bonus sedikitpun, karena tipe dari gunung ini adalah stratovolcano. Kami yang tiba di puncak 1 pukul 17.00 WIB lebih memilih beristirahat dan membangun tenda di tempat tersebut. Perjuangan belum berhenti karena membangun tenda di puncak 1 bukanlah hal yang mudah, angin yang kencang membuat membangun tenda seperti bermain laying-layang, harus extra hati-hati agar tenda yang kalian pegang tidak terbang terbawa angin. Setelah dua tenda kami berhasil di pasang, disekeliling kami juga sudah mulai banyak tenda-tenda yang berdiri.

PhotoGrid_1461048262679.jpg

Kami memang sengaja memilih sabtu untuk naik Guntur karena beberapa orang yang mengatakan bahwa Guntur rawan pencurian, makanya kami memilih weekend dengan harapan jika ramai maka resiko pencurian bisa lebih kecil. Malamnya setelah kami puas memandangi pemandangan total kota garut dengan gemerlap lampu dari puncak 1 kami memutuskan untuk masuk tenda dan beristirahat karena perjalanan kami masih panjang.

Awalnya aku di tenda sendiri, namun berhubung firasatku sedang tidak enak maka aku meminta salah seorang seniorku untuk menemani aku di tenda. Barang berharga tidak ada yang kami simpan di dekat kepala semuanya kami masukkan ke dalam sleeping bag untuk berjaga-jaga. Malamnya entah sekitar pukul berapa aku mendengar bunyi gesekan seperti tenda yang terkena tangan, buru-buru aku bangunkan senior disebelahku, setelah di cek ternyata tidak ada apapun. Maka kami kembali tidur.

Namun paginya ternyata di tenda yang satunya lagi mereka mengatakan beberapa barang sudah hilang, karena carriel mereka yang di taruh di luar namun isinya sudah masuk kedalam tenda, barang yang hilang adalah payung, beras beserta telur mentah, dan sebungkus pakaian. Namun ada topi yang tertinggal di tenda itu entah punya pencurinya entah punya siapa. Awalnya aku kira di tenda yang aku tempati aman, namun saat kami bersiap turun dan membongkar tenda ternyata tenda yang menjadi tempatku tidur sudah disobek paksa dengan silet seukuran tangan tepat sejajar dengan kepala.

Selesai dengan permasalah barang hilang, dan kami telah makan dan persiapan segala macam, kami langsung kembali turun karena akan melanjutkan perjalanan ke papandayan. Setelah sampai di bawah dibasecamp Guntur, kami pun melaporkan kehilangan yang terjadi dan kami ternyata tidak sendiri beberapa orang juga sedang melaporkan kehilangan, namun orang yang ada disitu juga tidak bisa berbuat apapan akrena terlalu sulit untuk menangkap malingnya. Sorenya kami sudah sampai di basecamp Papandayan. Lupakan soal kehilangan yang terjadi dan soal tendaku yang di sobek. Sekarang kami sudah beristirahat sambil menikmati udara dingin Papandayan.

PhotoGrid_1461048338033.jpg

19 Januari 2015 Pagi ini kami sudah siap untuk melakukan pendakian walaupun kakiku rasanya mau di lepaskan saja sekalian. Setelah berdoa, pukul 10.00 WIB kami memulai lagi langkah kami, tidak perlu waktu lama untuk sampai di kawah papandayan, dari kawah menuju pondak salada tiba-tiba hujan langsung mengguyur kami, maklum bulan itu bulan hujan, setalah menggunakan jas hujan perjalanan dimulai kembali pukul 14.00 kami sudah sampai di pondok salada, buru2 kami mencari tempat berteduh menunggu hujan reda karena tidak memungkinkan untuk membangun tenda di tengah guyuran hujan. Sambil menunggu kami memasak makan siang dan hujan baru berhenti di pukul 17.30 WIB.

Setelah tenda di bangun kami perlu mengakali bagaimana jika hujan kembali tendaku air tidak masuk karena ada sobekan di bawahnya. Setelah ditutup plastic itu sedikit membantu. Saat makan malam kami berkumpul di tenda yang berkapasitas 4 orang. Hingga seorang laki-laki tua menghampiri tenda kami dan berkata “aya cai?” aku melihat keempat rekanku tidak ada yang menyadari kehadiran bapak ini padahal mereka dekat sekali dengan pintu tenda. Aku yang tidak mengerti benar bahasa sunda hanya berkata “maaf pak sambil tersenyum”. Setelah dia pergi aku baru sadar, kalau sepertinya bapak yang tadi bukan manusia normal, dan aku yang memang memiliki “special gift” dari lahir baru menyadari bahwa hanya aku yang bisa melihatnya. Setelah aku sadar barulah aku bertanya apa itu artinya, yang ternyata dia bertanya “ada air?”. Aku memang sudah terbiasa melihat hal yg seperti itu namun terkadang masih sulit membedakan mana yang benar manusia mana yang bukan karena terkadang bentuk mereka pun sempurna seperti manusia.

Esok nya setelah makan dan membongkar tenda kami lanjutkan menuju tegal alun, padang edelweisnya papandayan. Dari pondok saladah kami melewati hutan mati pohon-pohon yang mati berdiri kokoh diantara putihnya warna warna tanah yang dibawahnya.dari hutan mati ternyata trek menuju tegal alun menanjak curam dan semua terbanyat dengan hamparan edelweis yang ada di tegal alun. Setelah dari tegal alun ternyata kami memutuskan untuk mencari jalan dari hutan mati langsung kawah tanpa melewati pondok saladah. Setelah kami mencar jalan ternyata jalan yang kami cari salah kami harus naik lagi ke hutan mati karena ternyata itu jurang. Belum sampai di hutan mati tiba0tiba terdengar suara wanita tertawa yang aku kira pendaki lain yang sedang bercengkrama namun disekitar situ tidak ada pendaki selain kami berlima, makin lama suara itu makin jelas hingga sesosok wanita sedang duduk di antara ranting di salah satu pohon sedang tertawa melihat kami yang salah mengambil jalur. Aku membiarkan saja dia tertawa sepuasnya namun sepertinya kami seperti sedang diputar-putar di hutan mati hingga yang tadinya ingin kembali lewat pondok saladahpun tidak bisa menemukan jalan. Aku yang mengetahui itu buru-buru meminta maaf jika salah satu dari kami ada yang tidak sopan lama dia hanya tertawa-tawa namun setelahnya dia member tahu arah jalan yg tepat, dan Alhamdulillah jalan itu langsung menuju kawah papandayan.

PhotoGrid_1461048305173.jpg

Sampai dikawah kami beristirahat sejenak karena hampir 1 jam kami di putar-putar di hutan mati. Setelah beristirahat kami langsung kembali jalan menuju basecamp untuk melanjutkan perjalanan kembali ke Cikuray.

Pukul 18.00 WIB kami baru meluncur menuju gunung Cikuray, namun hujan kembali turun dengan sangat deras, penerangan yang minim menuju pemancar akhirnya membuat mobil yang kami tumpangi terperosok ke dalam cela kebun teh. Akhirnya kami terpaksa turun untuk mendorong mobil, kecuali aku. Setelah 30 menit akhirnya mobil kami bisa berjalan kembali, setelah sampai pemancar kami beristirahat dan menghangatkan diri yang terkena hujan karena harus mendorong mobil. Namun percakapan dengan para pendaki yang baru turun akhirnya membuat kami mengurungkan niat untuk naik ke Cikuray karena medan yang terlalu bahaya menurutnya, dan kami juga dengan pertimbangan fisik yang mulai lelah. Akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Bandung bertemu dengan salah satu senior dan rekan kami di Bandung. Mumpung dia baru saja menyelesaikan ekpedisi 7 summitnya.

Dan di Bandunglah akhirnya perjalanan kami berakhir di Gedung Sate.