Menggapai Puncak Kinabalu, Atap Pulau Borneo

Dilihat 1526 kali

Malaysia, negara tetangga yang katanya kurang lebih isinya seperti Indonesia. Budaya, makanan, bahkan bahasa sehari-hari yang digunakan pun hampir sama. Tak ayal, jika ada yang pamer jalan-jalan ke Malaysia bukan lagi menjadi suatu yang wah untuk di pamerkan. Tak ada yang wah dari sekedar belanja di KL, selfie di depan twin tower, atau main-main ke Malaka. Paling hanya mendapat jawaban, ooh.., itu saja.

Namun, bagian timur Malaysia yang “numpang” di daratan Indonesia, Serawak dan Sabah, masih jarang masuk instagram. Padahal setelah kepo-kepo di internet, wilayah Sabah menawarkan wisata alam yang sangat luar biasa dibanding wilayah semenanjung. Eksotisme bawah laut Sipadan hingga gagahnya puncak tertinggi di Borneo, Gunung Kinabalu.

DSCF9570.JPG

Januari kemarin saya berkesempatan untuk menapaki puncak tertinggi di borneo ini. Januari dan Februari adalah saat yang tepat untuk mendaki gunung Kinabalu karena curah hujan tergolong kecil pada bulan tersebut. Semua registrasi saya lakukan sendiri sejak di Indonesia. Harus dilakukan jauh-jauh hari jika masih ingin kebagian tempat. Maklum, pendaki hanya dibatasi 200 orang per hari.

Untuk menuju Gunung Kinabalu cukup mudah. Ada penerbangan tiap 2 hari dari Jakarta maupun Bali ke Kota Kinabalu. Dari bandara kita bisa naik Taxi hingga ke pusat kota, atau orang Malaysia biasa menyebutnya bandar raya. Nah, dari bandar raya kita bisa naik van atau bus yang langsung menuju Kinabalu National Park.

Kali pertama saya mendaki gunung di luar indonesia, dan ini akan menjadi puncak tertinggi yang akan pernah saya capai, insyaa Allah. Ada 2 jalur pendakian, yakni jalur Timpohon dan Mesilau. Saat ini Jalur Mesilau masih ditutup semenjak Gempa Juni tahun lalu karena beberapa jalur masih terlalu riskan untuk dilewati. Jarak dari gerbang Timpohon hingga puncak sekitar 8.5km. Cukup dekat, bahkan sangat dekat jika dibandingkan dengan gunung-gunung di Indonesia yang kadang hingga puluhan kilometer meski secara ketinggian lebih pendek.

DSCF9523.JPG

Kinabalu National Park didominasi oleh hutan hujan tropis. Wajar, udara sejuk akan terus kita rasakan sepanjang perjalanan. Jalur pendakian didominasi anak tangga dari batu maupun kayu. Enteng sebenarnya, tapi naik tangga hingga 8,5km itu cukup menyita tenaga. Hampir di setiap kilometer kita akan menemukan pondok yang biasa digunakan para pendaki untuk beristirahat. Pondok-pondok ini dilengkapi dengan toilet yang relatif bersih. Jadi, tidak usah khawatir untuk mencari semak-semak jika kebelet. Dan yang lebih keren lagi, sepanjang perjalanan saya tidak menemukan sampah apapun di pinggir jalan.

Kebersihan jalur benar-benar dijaga dengan baik oleh pengelola. Setelah menempuh jarak sekitar 6km kita akan sampai di Laban Rata Hut. Disinilah para pendaki menginap. Pendaki tidak diizinkan untuk bermalam dengan tenda. Tempat tidur, kamar mandi, dan makan semuanya sudah disediakan. Wajar, inilah yang membuat ongkos mendaki Kinabalu cukup merogoh kocek.

DSCF9641.JPG

Jam 2 dini hari para pendaki harus bangun untuk persiapan summit attack. Supper sudah disediakan di Laban Rata agar nanti tak kehabisan tenaga selama summit attack. Nah, setelah melewati Laban Rata ini vegetasinya berbeda jauh dibanding sebelumnya. Kita akan melewati jalur berbatu yang tidak ada tumbuhannya sama sekali selain lumut ata rumput yang menyelinap di celah-celah batu.

Angin dingin yang kencang tidak segan-segan menusuk tulang-tulang para pendaki. Wajar, tidak ada yang menghalangi angin bertiup. Sesekali saya bersembunyi di celah-celah batu untuk berisitirahat. Speanjang jalur disediakan tali yang bisa digunakan untuk berpegangan. Maklum, beberapa jalur memiliki kemiringan yang cukup tinggi. Selain itu tali tersebut juga bisa kita jadikan sebagai penunjuk jalan agar tidak tersesat. Cukup ikuti tali, nanti kita akan sampai di puncak sendiri.

IMGP9314a.JPG

Jika lancar, kita akan menempuh perjalanan selama 3 jam. Saya tiba di puncak sekitar jam 5.30. Termasuk rombongan pertama yang mencapa puncak. Tepat saat detik-detik sunrise. Menikmati keindahan sunrise dari ketinggian 4095mdpl itu sungguh pengalaman yang tak bisa dilupakan. Sungguh maha kuasa yang bisa menciptakan pemandangan yang luar biasa seperti ini.

Dari puncak, kita akan semakin sadar bahwa manusia itu hanya mekhluk yang hanya kecil sangat tidak pantas untuk sombong. Jika dibandingkan dengan gunung sebesar ini, kita naiknya saja sudah susah payah, apalagi jika dibandingkan dengan bumi yang berisi hamparan gunung yang jauh lebih besar. Semoga dengan semakin banyak gunung yang kita jamah, akan semakin menjadikan kita pribadi yang sadar dengan keagungan Tuhan.