Nyali Yang Tercecer Di Pendakian Gunung Raung

Dilihat 1501 kali

Satu per satu nyali di masing-masing personal team kami tumbang. Terlihat jelas dari bagaimana wajah mereka memucat. Bukan karena matahari yang semakin terik. Tetapi, jalur yang harus kami lewati bukanlah jalur biasa. Semakin mendekati puncak, semakin ngeri pemandangan dan tentunya, track pendakian satu-satunya yang harus dilalui.

IMG_3984

“Jadi, kita harus manjat tebing ini pake tali?” tanya saya kepada team leader sembari menelan ludah.

“Iya.” katanya sambil menganggung pelan dan tersenyum. Lebih tepatnya menyeringai.

Saya melihat lagi pemandangan persis di depan wajah saya. Sebuah tebing. Yang harus saya lewati demi mencapai puncak tertinggi gunung Raung. Puncak Sejati.

IMG_4014

“Ayo, Cen!” teriak teman-teman saya menyemangati meskipun terdengar juga getir di balik suara yang lantang.

Setelah harness terpasang dengan aman, saya berdoa menguatkan hati untuk mendaki, tepatnya, memanjat tebing yang akan mengantarkan saya ke puncak nomor dua di gunung Raung ini, yang disebut dengan Puncak 17.

IMG_3986

Meskipun jaraknya tidak terlalu tinggi, juga harness terpasang dengan kencang, tetapi perasaan khawatir itu tentu saja selalu muncul. Ini baru pertama kalinya dalam sejarah hidup saya, memanjat tebing langsung di sebuah gunung.

IMG_3979

Perlahan namun pasti, saya memanjat tebing tersebut. Saya tidak mau terlalu terburu-buru, sedikit kecerobohan saja, saya pasti bisa menubruk batu. Dan,

“ADUH!”

“Ati-ati, Cen! Pijakan kaki lo salah!”

Saya sedikit terpelanting dan benar-benar menubruk tebing yang mengakibatkan kaki saya memar. Ah, tapi tak masalah, saya harus segera mengakhiri ini.

“Weits! Selamat!” sambut Harry, salah satu teman rombongan saya yang sudah lebih dulu sampai di Puncak 17. Harry meraih tangan saya agar bisa menjejak dataran puncak.

“Astaga?? Ngeriii bangett, Har!”

“Belum sengeri itu kok, lo harus liat sekeliling lo dan jalur Shirat Al-Muttaqin yang musti lo lewatin. Segera.” Jawab Harry.

GLEK. Rasanya nyali saya semakin menciut mendengar kata-kata Harry. Setelah mengambil napas sejenak, saya memutarkan pandangan. Berkeliling. Nampaknya Harry bersungguh-sungguh. Puncak 17 hanyalah dataran sempit yang tidak akan mungkin menampung 30 orang berdiri sekaligus. Di sisi kiri dan kanan kami terhampar luas jurang berlapis yang siap melahap kami bila sedikit kesalahan saja terjadi.

IMG_4106

Belum lagi jalur di depan kami yang terlihat begitu ekstrim. Hanya dari melihatnya saja, lutut saya terasa lemas. Nyali saya semakin berceceran entah kemana. Dan seketika itu juga saya ingin mundur. Saya tidak ingin melanjutkan perjalanan ini.

“Yuk! Jangan kesiangan! Kita lanjut!” seru team leader yang ternyata sudah berada bersama kami, bersama semua team kami.

“Yakin nih kita lewat sini? Gak ada jalan lain?” tanya saya semakin ragu.

“Iya, udah nanggung, berdoa aja, Cen.” Kata Herru meyakinkan. Meskipun tersirat jelas keraguan di matanya.

Satu per satu team saya mulai menuruni puncak 17 dengan perlahan dan bergerak mengikuti jalur pendakian yang tersedia. Hemat saya, jalur pendakian ini seperti sebuah jalan setapak yang hanya cukup untuk berjalan satu orang saja. Namun jalan setapak tadi berada di ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut. Di kanan kirinya terdapat jurang yang menganga. Jurang tersebut cukup dalam bahkan hingga dasarnya tak terlihat. Bisa bayangkan kengeriannya?

IMG_4176

Saya tidak cukup berani berdiri sampai saya harus merangkak ekstra perlahan untuk menyusuri track tersebut. Begitu saya mencoba berdiri, angin kencang menerpa saya.

IMG_4018

“Ya ampun! Anginnya gede banget!” teriak saya tertahan. Hati saya mencelos. Kaki saya semakin lemah.

“Jangan teriak-teriak! Cepet jalannya!” kata Wahyu, anggota rombongan yang sudah terbiasa dalam hal panjat memanjat tebing dengan kejam.

“Ah, bapak mah!”

“Jangan dirasain, langsung aja jalan. Aman!” ketusnya lagi.

Tapi, kekejaman Wahyu memberikan suntikan semangat untuk saya. Saya mencoba mempercepat rangkakan. Begitu mendapat jalur yang lebih luas, saya mencoba berdiri dan berjalan lebih cepat hingga akhirnya mencapai titik ekstrim 4.

Jalur ekstrim 4 tidak jauh berbeda seperti memanjat puncak 17 tadi, bedanya, ini merupakan versi turunannya.

Satu per satu dari kami menuruni ekstrim 4 secara perlahan dengan menggunakan tali. Meskipun ngeri, tapi jalur ekstrim 4 terlewati dengan aman. Tujuan kami selanjutnya adalah Puncak Tusuk Gigi. Untungnya, menuju Puncak Tusuk Gigi tak seseram yang dibayangkan, hanya mendaki bebatuan besar yang rapuh. Ya, meskipun besar dan terlihat kuat, ternyata bebatuan ini mudah rontok sehingga cukup berbahaya.

“Ini puncak tusuk gigi, dari sini, jalan dikit lagi dah sampai puncak sejati.” Kata Wahyu yang ternyata sudah pernah mendaki gunung ini.

Benar saja, hanya melintasi bebatuan yang tersisa dan sedikit berjalan di lereng gunung, kami telah mencapai Puncak Sejati Raung.

Sebuah puncak dengan kaldera yang luas. Di dalamnya juga terdapat semacam gunung kecil yang masih aktif dan mengepulkan asap.

“Ya Tuhan…. Gak nyangka yang bisa sampai sini.” kata Anink, satu-satunya perempuan dalam rombongan saya.

IMG_4032

“Iya, gua hampir menyerah tadi ngeliat jalurnya yang ajaib.” jawab saya.

“Jangan sedih, kita pulangnya masih lewat jalur yang sama….” Lanjut Wahyu.

“HAAAAHH???!!”

End.

IMG_4031