Desa Trunyan, Desa Mencekam Di Bali

Dilihat 93 kali

Pulau Dewata memang surga untuk para petualang. Bali nggak cuma punya pantai-pantai yang menawan, di sana banyak juga tempat-tempat wisata yang nggak kalah keren dari pada pantai dan lautnya. Salah satunya Desa Trunyan, sebuah kawasan yang sampai saat ini menarik perhatian domestik maupun internasional. Aura mistis ketika pertama kali menjejakkan kaki di desa ini sungguh terasa, bro.

Via dagelan.co

Trunyan adalah salah satu desa yang masuk ke dalam kawasan Kintamani. Keunikannya ada pada  tradisi pemakamannya. Pada umumnya pemakaman selalu identik dengan peti mati atau kafan kan, bro? Nah, di Desa Trunyan, jenazah masyarakatnya hanya diletakkan begitu saja di atas tanah. Tanah ini berada di bawah sebuah pohon yang sudah bertahun-tahun tumbuh disana.

Keluarga dan kerabat dari jenazah tersebut cukup menyiapkan bambu sebagai pagar di samping makamnya, sangat sederhana. Selain dipagari dengan bambu berukuran sekitar satu meter, ada pula sesajen yang di letakkan persis di area makam. Jenazah yang dibiarkan terbuka tanpa tertimbun tanah apa lagi formalin, bukannya berbau busuk tapi malah bau harum yang tercium. Heran kan?!

Nah, ternyata bau harum itu berasa dari pohon besar di area pemakaman yang bernama Taru Menyan. Masyarakat desa percaya bahwa akar pohon ini mampu menyerap bau busuk dari jenazah. Beberapa jenazah yang sudah menjadi tulang belulang dikumpulkan menjadi satu area agar jenazah yang baru dapat diletakkan di area pemakaman pohon taru.

Uniknya, nggak semua orang meninggal bisa diletakkan di makam ini. Ada persyaratan-persyaratan dari kepercayaan desa tersebut, mulai dari status sosial hingga kematian yang dianggap wajar atau tidak. Hawa mistis yang kental membuat bulu kuduk berdiri! Kalau nggak percaya, datang aja sendiri, bro!

Featured Image : wisatabaliutara.com

Referensi Artikel : travelingyuk.com