Lembah Baliem Papua: Pesona Alam dan Budaya Eksotis di Tanah Papua

Lembah Baliem Papua: Pesona Alam dan Budaya Eksotis di Tanah Papua Lembah Baliem di Wamena Papua, terus terang ini adalah destinasi impian saya. Sudah bertahun tahun kepingin pergi kesini dan baru kesampaian sekarang, suatu tempat di Papua yang terletak di tengah dan perbukitan yang sangat indah. Tidak salah jika orang menyebut Lembah Baliem mutiara dari Papua. Lembah Baliem ini menjadi bukti betapa kayanya Indonesia. Jika anda ingin menyaksikan pesona alam dan budaya Papua melebur menjadi satu, maka anda wajib mengunjungi Lembah Baliem ini.

Lembah Baliem Papua merupakan lembah di pegunungan Jayawijaya. Lembah ini berada pada ketinggian 1600 meter di atas permukaan laut. Untuk menuju Lembah Baliem ini, maka harus memulai perjalanan dari Jayapura menuju Wamena. Perjalanan menuju Wamena ini pun ditempuh dengan menggunakan transportasi udara. Namun sebelumnya harus melakukan transit terlebih dahulu di Bandara Sentani Jayapura. Tidak ada jalan darat menuju kesini, karena akses jalan darat terputus dan tempat ini dikelilingi oleh perbukitan, medannya yang extreme dan susah dijangkau ini sering kita mendengar kecelakaan pesawat terjadi didaerah ini.

Karena dengan tiba tiba bisa saja kabut datang menyelimuti lembah Baliem, sehingga Wamena cukup terisolasi dibandingnkan dengan daerah daerah lainnya di Papua. Transportasi udara yang tersedia untuk menuju Wamenabanyak seperti Trigana, Wings Air, MAF, AMA, Yajasi, Manunggal Air, dan pesawat Hercules. Karena ini merupakan daerah pegunungan, maka cuaca di daerah ini juga sering kali tidak menentu.

Lembah Baliem Papua ini pertama kali ditemukan pada tanggal 23 Juni 1938 oleh seorang peneliti berkebangsaan Amerika Serikat yang bernama Richard Archbold. Penemuan lembah ini dilakukan pada saat Richard sedang melakukan perjalanan udara menggunakan pesawat terbang PBY Catalina 2 bernama Guba II.  Jika dilihat dari udara, penampakan alam dari Lembah Bale mini sangatlah cantik dan mempesona.

Lembah ini memiliki panjang sekitar 80 km dan lebar sekitar 20 meter. Iklim di Lembah Baliem ini termasuk unik karena dingin dan panas yang sangat terik di siang hari, Suasana di lembah ini masih sangat natural dan tak tersentuh. Ladang-ladang di daerah lembah ini digunakan untuk pertanian oleh warga setempat. Hasil utama pertanian adalah ubi. Selain itu terdapat hasil pertanian lainnya seperti buncis, ketimun, labu, tebu, gula, taro, dan kacang-kacangan.

Lembah yang dijuliki sebagai Baliem Valley ini ternyata sudah sangat terkenal di Dunia, karena orang orang kaya Eropa dan Amerika ditahun 60 – 70an sudah banyak yang kesini dengan menggunakan pesawat pribadi. Saat yang tepat mengunjungi Lembah Baliem ini pada saat Festival Budaya Lembah Baliem yang biasanya diadakan di bulan agustus. Festival menjadi ikon pariwista Papua yang mendunia.

Wisatawan yang datang untuk menyaksikan festival ini tidak hanya datang dari Indonesia, tapi juga mancanegara. Tema festival ini setiap tahunnya menceritakan mengenai 3 suku asli Papua yang sering terlibat konflik dan Perang. dan juga dimeriahkan oleh tari-tarian daerah Papua serta penampilan budaya lainnya. Selain itu festival ini juga ditujukan untuk memperkenalkan budaya 3 suku asli yang mendiami Lembah Baliem, yaitu Suku Dani, Suku Lani, dan Suku Yali. Yang unik dari festival ini adalah menampilkan acara perang antar Suku Dani, Suku Lani, dan Suku Yali. Festival ini sendiri pun sudah diadakan sebanyak 27 kali yaitu setiap bulan Agustus selama 3 hari.

Suku Dani adalah suku asli yang mendiami Lembah Baliem. Suku Dani ini memang terkenal dengan suku yang suka berperang. Desa Wosilimo merupakan desa yang didiami suku ini. Desa ini berjarak sekitar 27 km dari Wamena. Kontak pertama dengan Suku Dani terjadi sebelum berlangsungnya Ekspedisi kedua ke Puncak Wilhelmina pada tahun 1909-1910  dan Ekspedisi Ke New Guinea bagian tengah pada tahun 1921-1922 di bawah pimpinan Overste J. Kremer. Oleh sbeab itu kedua ekspedisi ini tidak singgah ke Lembah Baliem.

Wilayah Lembah Baliem ini sangat terisolasi sampai tahun 1938. Kelompok pertama yang datang ke lembah ini adalah sekelompok penginjil dari Amerika di bawah pimpinan Llyoyd van Stone dari Christian & Missionary Assocoation. Untuk pertama kalinya-lah orang luar dapat melihat kebudayaan dari Suku Dani di lembah ini.

Ada salah satu budaya unik dari penduduk di Lembah Baliem ini adalah potong jari. Potong jari merupakan ungkapan sedih dan berduka atas kehilangan sanak saudara. Pemotongan jari ini biasanya dilakukan dengan benda tajam, digigit hingga putus, atau mengikatnya dengan seutas tali hingga jari mati lalu baru dipotong.

Namun ternyata budaya ini makin ditinggalkan seiring berkembangnya jaman. Selain itu terdapat pula pesta bakar batu yang menjadi bukti kerukunan warga di Lembah Baliem ini. Pesta bakar batu ini dilakukan oleh Suku Dani ketika terjadi peristiwa kelahiran, pernikahan, upacara kematian, syukuran, dan perayaan setelah perang.

Lembah Baliem di Wamena adalah destinasi impian untuk fotografer, siapkan memory card yang banyak. Karena memotret disini tidaklah pernah cukup.

Teks dan Foto: Barry Kusuma

1 COMMENTS

SHARE
Semoga bisa kesana.