MAR 8, 2017

Mendaki Rinjani Dengan Gadis Jerman: Don't Die Before You Go Up

Written by:
Guri Ridola

Don’t die before you go up” celetuk Lisa kepada saya saat kami bersiap tidur di Pelawangan Sembalun, Rinjani. Malam itu adalah malam kedua dalam pendakian kami. Dini harinya kami akan melanjutkan perjalanan ke puncak.

Kata-kata yang diucapkan Lisa—gadis sependakian asal Jerman—mungkin sebagai sebagai candaan, perintah, atau harapan terhadap keadaan saya yang sedang mengalami demam saat itu. Tubuh saya meriang setelah mengambil air untuk persiapan makan malam. Ini adalah kali kedua tubuh terasa tidak enak. Sebelumnya saya muntah di awal pendakian, yaitu setengah jam perjalanan dari Bawa Nangu, tepatnya di hutan sebelum savana. Nafas jadi tersengal-sengal, detak jantung terasa kencang, kepala pusing, dan perut bereaksi mengeluarkan isinya, lalu keringat dingin membasahi tubuh. Ternyata saya mengalami gejala mountain sickness.

Mountain sickness  yang saya alami terjadi akibat proses aklimasi tubuh yang kurang bagus. Setelah sampai di Bawa Nanggu, saya dan Lisa langsung memulai pendakian. Padahal, sebaiknya kami memberi waktu bagi tubuh untuk beradaptasi dengan suhu dan lingkungan sebelum mendaki.

Di Bawa Nangu pada siang itu, setelah turun dari mobil, saya dan Lisa bergegas memulai pendakian agar bisa sampai sebelum malam di Pos 3. Jam satu siang, pendakian kami dimulai. Rencananya pendakian Rinjani akan kami lakukan selama lima hari empat malam, dengan rincian: hari pertama Bawa Nangu hingga Pos Tiga, hari kedua Pos Tiga hingga Pelawangan Sembalun, hari ketiga Pelawangan Sembalun ke Puncak lalu turun ke Segara Anak, hari keempat bersantai di Segara Anak, dan hari kelima pulang lewat jalur Senaru. Rencana ini saya susun setelah belajar dari pengalaman buruk pendakian ke gunung Tambora, beberapa minggu sebelumnya.

Pengalaman buruk dari Tambora adalah semua rombongan sependakian jatuh sakit setelah sampai di rumah masing-masing, termasuk saya sendiri. Hal ini karena kami berjalan telalu lama dan memporsir diri, serta kehujanan selama perjalanan. Misalnya, pada hari pertama, kami jalan mulai dari jam tujuh pagi hingga dua belas malam. Beristirahat hanya untuk makan dan melepas penat sejenak. Perjalanan panjang yang melelahkanpun berlanjut pada hari berikutnya, mulai dari jam lima subuh hingga sembilan malam, untuk mencapai puncak dan turun ke Pos Satu Tambora. Dari pengalaman inilah saya merancang perjalanan ke Rinjani dengan mengambil durasi lima hari empat malam. Untuk mendapatkan waktu istirahat yang cukup, guna mencegah terjadinya hal-hal buruk selama dan setelah pendakian. Karena perjalanan panjang menunggu setelahnya.

I want to sleep” kata saya kepada Lisa di awal malam itu. Tubuh saya sudah dibungkus dengan baju dua lapis, jaket, dan kantong tidur. Malam itu terasa lebih dingin karena demam yang saya alami sejak sore.

Wait..wait” Lisa mengeluarkan tas kecilnya. Dari dalam tas kecil itu dia mengeluarkan pipa putih kecil mirip sedotan. Pipa kecil itu menyimpan pil-pil warna putih ukuran kecil, “put the pill under your tongue

What pill is it?”

It’s kind of medicine that I consume when I get into specific circumstances

Saya mengikuti saran dari Lisa, setelah melihat caranya meletakan pil itu di bawah lidahnya.

Remember, don’t die before you go up” Lisa ketawa dan menutup percakapan kami malam itu.

Kami melakukan pendakian hanya berdua dan membagi semua perlengkapan dan kebutuhan ke dalam carrier masing-masing. Saya membawa perlengkapan tenda dan gas, Lisa membawa logistik dan perlengkapan masak. Karena itu, kami harus saling menjaga agar pendakian tetap berlanjut dengan lancar.

Hari itu saya belajar dari Lisa tentang mempersiapkan hal-hal pendukung dalam perjalanan, khususnya pendakian. Obat-obatan adalah sesuatu yang penting untuk membantu kelancaran perjalanan. Mulai dari hal kecil seperti plester penutup luka, balsem, hingga berbagai jenis obat lainnya. Selain itu Lisa sangat peduli pada jenis makanan yang dimasak. Karbohidrat mesti dikombinasikan dengan selain karbohidrat. Karena itu nasi dan mie hanya sekali saja menjadi pasangan dalam menu makan kami selama pendakian. Itupun karena terlanjur dimasak.

Selama pendakian di Rinjani, selain belajar banyak dari Lisa, saya juga belajar memahami pandangan orang-orang selama pendakian terhadap kami, khususnya terhadap saya. Mendaki gunung berdua dengan gadis Jerman dengan membawa carrier masing-masing, akan menimbulkan anggapan bahwa laki-laki yang menemaninya adalah seorang porter.

Teks dan Foto: Guri Ridola


Please login to comment
1 COMMENTS
Yayan Yuliansyah
January 18, 2018 at 7:51 AM

cakep cakep cakep