FEB 16, 2017

Menjamah Atap Tertinggi Sulawesi Puncak Rante Mario!

Written by:
Acen Trisusanto

"Beneran bisa nih, bang?" tanya gua kepada Bang Ipang meyakinkan sekaligus memastikan. Duduk di atas kap mobil jenis Jeep ini baru pertama kalinya gua lakukan. Terlebih dengan medan perjalanan dari Pasar Baraka, Enrekang, menuju desa terakhir di kaki gunung Latimojong, desa Karangan.

Ya, kali ini gua akan menjelajahi satu dari seven summit Indonesia, Gunung Latimojong di Makassar, Sulawesi Selatan.

Saat riset sebelum berangkat, gua sudah mendapatkan gambaran tentang perjalanan dari Jakarta hingga puncak Rantemario, puncak gunung Latimojong dengan ketinggian 3.478 mdpl.

Adrenalin gua bergejolak saat mendapat tantangan duduk di atas kap Jeep dari Pasar Baraka menuju ­­­­­Karangan. Terbayang bagaimana jalur sempit gak rata serba menanjak disertai jurang dan lembah di sisi kanan dan kirinya.

"Awas ranting berduri!!"

Benar saja. Duduk di kap mobil dengan jalur bebatuan terjal, melewati pematang sawah, jembatan besi seadanya, hingga jalur setapak menanjak yang hanya cukup dilewati satu mobil memang memberikan sensasi luar biasa. Belum cukup membuat hati berdesir, ranting-ranting pohon berduri di sepanjang perjalanan, praktis bikin gua dan teman-teman yang berada di kap mobil melakukan beragam gaya untuk menghindarinya.

Perjalanan semakin menantang saat kami harus melewati aliran sungai. Gak begitu besar, tapi hari menuju senja cukup membuat gua menyangsikan kemampuan driver. Meski nyatanya, rintangan begini sudah jadi santapan sehari-hari driver yang selalu melewati jalur ini untuk mengantar warga lokal.

Meski seru, momen paling menegangkan adalah saat Jeep ini akan mencapai desa Karangan. Jeep harus mendaki tanpa henti di tengah jurang menganga dengan jalur penuh bebatuan terjal, tikungan tajam, dan langit yang gelap perpaduan hujan menuju malam.

"Yak, sudah sampai!"

Gak ada yang lebih melegakan dari mendengar kabar baik ini. Desa Karangan, kami datang!

***

Sebuah jalur cukup terjal ada di hadapan gua dan Mas Dikta, satu dari teman pendakian gunung Latimojong. Kami berdua bergerak cukup cepat hari ini demi bisa beristirahat di Pos 2 sesegera mungkin. Trek jalur pendakian Latimojong bisa dibilang cukup menguras tenaga.

Dari desa Karangan, kami harus melintasi kebun kopi yang terus meninggi. Gak ada satu pun jalur bonus sejak melangkahkan kaki keluar dari desa Karangan menuju Pos 1. Begitu masuk hutan, jalur merupakan setapak kecil menanjak yang hanya cukup dilewati maksimal dua pendaki.

Mendekati Pos 2, jalur makin bervariasi.

Pohon tumbang yang melintang, jalur longsor, hingga rerimbunan pohon berduri. Kini, di hadapan kami terdapat tebing mini dengan webbing alami (akar pohon) sebagai pengamannya. Kami harus melewati jalur ini perlahan. Salah bergerak sedikit saja, jurang yang menganga siap memangsa kapan saja.

“Aman gak nih?” tanya Mas Dikta.

Terlihat ragu bahkan setelah melihat gua melintasi tebing mini dengan cukup mudah.

“Aman banget kok! Cepet, gua videoin.” Gua mendesak.

Perlahan Mas Dikta bergerak. Dia menggenggam webbing dengan erat. Seakan kejadian buruk siap menimpanya kapan saja.

“Nah tuh, bisa kan.. EH MAS!”

BRAK BRUK

Gak disangka, sepatu licin Mas Dikta membuatnya terpelanting ke arah jurang. Beruntung, genggaman erat tangannya pada webbing berhasil menyelamatkan. Gua dengan sigap juga meraih tangannya agar lebih aman.

“Aduh, katamu aman!” teriak Mas Dikta dengan wajah pucat. “Dadaku sakit.” katanya sambal meremas dada kiri sebelah atas.

“Aman sih mas, buktinya aku baik-baik aja. Lah sakit kenapa dadamu?”

“Kayaknya kena tongkat gopro nih, aduh. Aku kan takut ketinggian, ini ngeliat jurang beginian jiper amat. Jadi kaki kayak lemes aja. Bantuin, jangan ngetawain!”

Jalur tebing dengan jurang menganga memang hanya ditemukan dari jalur Pos 1 ke Pos 2. Tapi, setelah Pos 2, pendakian makin terjal. Jalur bebatuan tajam dengan kemiringan hampir 45 derajat praktis membuat pendakian lebih cocok disebut semi rock climbing ketimbang hiking semata. Ditambah beban barang bawaan dalam carrier, semakin lama pendakian semakin terasa berat. Hujan juga terus mengiringi langkah kaki kami hingga Pos 5.

“Kita ngecamp di sini aja, ya, Cen?” kata Mas Dikta terlihat kelelahan.

Setelah medan terjal, mendaki di medan hutan hujan tropis membuat waktu bagai gak bergerak. Tanpa sadar, hari telah berganti malam sehingga kami memutuskan untuk beristirahat di Pos 5. Lahan untuk berkemah di pos ini cukup luas, pas untuk dijadikan camping ground para pendaki gunung Latimojong. Sumber air juga cukup dekat dari pos ini.

“Ya udah, di sini aja ya. Sembari nunggu yang lain.”

***

Pos 5 menuju puncak Rantemario harusnya dapat ditempuh selama 4 hingga 5 jam perjalanan. Tapi, berasa selamanya. Bukan apa-apa, medan pendakian dari Pos 5 hingga puncak bagaikan tanjakan maut tanpa henti. Dimulai dari medan hutan dengan akar-akar basah berkat hujan kemarin, hingga jalur bebatuan.

Jalur paling ekstrim adalah jalur pos tujuh menuju puncak. Lepas dari pos tujuh, ada jalur dinding tanah yang membuat siapapun harus beratraksi sembari menarik akar pohon cantigi agar dapat mencapai atas.

“Ayok, puncaknya dah deket lagi!” teriak Bang Ipang menyemangati.

Sementara kami sudah kehilangan semangat.

Gua juga makin hilang mood menghadapi trek yang benar-benar menguras tenaga dan hati. Meski setelah pos tujuh sudah gak terjal lagi, tapi panjangnya jalur ini benar-benar bikin gua terduduk dan berulang kali berpikir, kenapa gua harus mendaki gunung Latimojong.

“Tuh puncaknya tuh!” seru Bang Ipang lagi.

“Bodo amat Bang Ipang! Lu halu, titik!” sungut gua ngambek.

“Ya Tuhan kenapa puncak Rantemario jauh banget!” ratap gua.

Sembari bersungut-sungut, gua menguatkan diri, meski tubuh gak bisa berbohong kalau menuju puncak Rantemario ternyata semelelahkan ini.

Perlahan tapi pasti, gua mengejar Sulis, satu dari empat orang perempuan tim pendakian kami. Menguatkan langkah kaki demi mencapai puncak. Banyak sekali puncak-puncak bayangan yang membuat harapan harapan kami terbang setinggi langit, lalu dihantamkan lagi ke bumi.

“Bang, itu puncak, bang!” seru Sulis kegirangan. Gua masih belum mau menyenangkan diri. Takut sakit hati.

Namun dari jauh, gua melihat tugu yang menandakan kalau itu adalah puncak Rantemario.

Senyum gua mengembang.

Yes, PUNCAK RANTEMARIO!

Meski dalam hati senang, terbesit satu pertanyaan lagi: haruskah gua lewat jalur ini lagi saat pulang?

End.

Teks Dan Foto : Acen Trisusanto


Please login to comment
1 COMMENTS
Dimas Ombai
January 16, 2018 at 8:26 AM

nice share gan !!!