MAY 4, 2018

3 Hal Yang Sempat Membuat Produksi Kopi Gayo Menurun

Sayang sekali bahwa produksi kopi aceh gayo sempat menurun beberapa waktu lalu. Ternyata penyebabnya 3 hal ini, simak bahasan kali ini untuk mengetahui selengkapnya!


Kopi Aceh Gayo beberapa waktu lalu mengalami penurunan di jumlah produksinya, mengapa? Ternyata ada 3 hal penyebabnya. Untuk mengetahui lebih lanjut, mari simak bahasan kali ini!

Kopi Aceh Gayo sudah terkenal, baik di dalam negeri sendiri dan mancanegara tentang rasanya yang nikmat. Kopi Aceh Gayo memiliki banyak penggemar, dan mereka tersebar merata di seluruh dunia. Tidak heran jika, dataran tinggi Gayo, menjadi salah satu eksportir terbesar kopi ini.

Tidak hanya dataran tinggi Gayo, Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah ini menyusul sebagai salah satu spot yang menghasilkan kopi aceh gayo terbaik. Hal tersebut dikarenakan oleh lahan yang luas untuk jenis pohon kopi aceh gayo ini.

3 Hal Yang Sempat Membuat Produksi Kopi Gayo Menurun. credit photo: ekbis.sindonews.com

Terbilang luas dari kebun kopi dari tiga spot yang sudah disebutkan di atas adalah 120 hektar, dan 44%nya ada di Aceh Tengah. Dengan kondisi lahan luas seperti itu, diharapkan tiap tahunnya produksi kopi aceh gayo meningkat. Sayangnya, beberapa waktu lalu, produksi kopi jenis ini mengalami penurunan.

Faktor Perubahan Cuaca

Faktor Perubahan Cuaca - Penurunan Produksi Kopi Aceh Gayo. credit photo: info.gabatocoffee.com

Penuruan produksi kopi aceh gayo salah satunya adalah faktor perubahan cuaca. Sederhananya, saat pohon kopi memerlukan air yang lebih, cuaca malah menjadi panas dan tidak turun hujan, dan sebaliknya, saat pohon kopi memerlukan cahaya dan sinar matahari, hujan turun tanpa henti.

Tahun 2017 lalu, bahkan petani kopi aceh gayo tidak mengalami panen raya. Hal tersebut dikarenakan oleh perubahan cuaca yang tidak menentu, membuat produksi kopi aceh gayo menurun. Perubahan cuaca tersebut memanjang saat musim panen.

Saat musim panen, kopi aceh gayo akan dijemur dan memerlukan sinar matahari yang cukup. Namun, karena perubahan cuaca yang tidak menentu, banyak dari petani yang mengeluh bahwa ia tidak mendapat sinar matahari yang cukup saat penjemuran biji kopi.

Alhasil, kualitas serta jumlah produksi biji kopi aceh gayo menurun. Saat gagal panen di tahun 2017 lalu, para petani kopi kehilangan setengah dari keseluruhan hasil dan jumlah produksi biji kopi aceh gayo. Artinya 50% penurunan tersebut.

Serangan Ulat dan Hama Lainnya

Serangan Ulat dan Hama Lainnya - Produksi Kopi Aceh Gayo Menurun. credit photo: mongabay.co.id

Selain penurunan jumlah produksi yang dikarenakan oleh perubahan cuaca dan iklim yang tidak pasti, salah satu faktor yang membuat produksi kopi aceh gayo menurun adalah ulat dan hama lain yang menyerang pohon dan buahnya.

Tadinya, ulat dan hama lainnya hanya menyerang pohon kopi dan buahnya yang ditanam di ketinggian 800 meter. Namun, diperkirakan karena cuaca yang tidak menentu juga, ulat dan hama lainnya menyerang ke pohon kopi yang ditanam di ketinggian 1.200 mdpl.

Di level ketinggian 1.200 mdpl, pohon kopi yang ditanam lebih banyak dari pada yang ditanam di ketinggian yang lebih rendah dari itu. Oleh karenanya, banyak buah kopi yang sudah berulat. Bahkan, tidak hanya buahnya saja, namun batang kopi serta rantingnya dipenuhi ulat dan hama lainnya.

Hal ini yang membuat biji kopi gampang membusuk, sehingga tidak lolos standar dari pemetikan. Selain itu, buah kopi juga akan mudah rontok karena sudah ditunggangi oleh ulat-ulat tersebut. Para petani yang ingin menggunakan petisida juga ragu-ragu karena ditakutkan rasa dari buah kopi tersebut akan rusak.

Oleh karena itu, tidak banyak yang bisa dapat dilakukan oleh para petani kopi yang menanam atau mempunyai kebun kopi aceh gayo tersebut. Faktor ulat dan hama lainnya ini menjadi salah satu sandungan besar bagi para petani kopi aceh gayo, karena produksi mereka turun setengahnya.

Pembabatan Hutan di Dataran Tinggi

Ilustrasi Pembabatan Hutan di Dataran Tinggi - Produksi Kopi Aceh Gayo Menurun. credit photo: mongabay.co.id

Penurunan produksi kopi aceh gayo selain dikarenakan oleh faktor cuaca yang tidak jelas, ulat dan hama lainnya menyerang adalah pembabatan hutan di dataran tinggi tersebut. Produktivitas kopi aceh gayo sangat berkaitan dengan kondisi alam sekitarnya.

Saat musim panas, pohon kopi di sana masih dilindungi oleh beberapa pohon besar yang memayungi pohon kopi tersebut. Oleh karena itu, biji atau buah kopinya akan masak dengan benar, dan begitu pula saat musim hujan.

Namun, pembukaan lahan hutan ini membuat produksi kopi aceh gayo menurun dari segi kualitasnya. Pembabatan hutan dan pembukaan lahan ini mengakibatkan kenaikan suhu sampai 22 derajat celcius di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah.

Masyarakat menilai, jika pada dataran tinggi ini suhu dapat mencapai 25 derajat celcius, diperkirakan, cita rasa kopi aceh gayo yang terkenal nikmat tersebut akan rusak. Pertumbuhan buah kopi akan sangat berpengaruh dari lingkungannya.

Penjemuran, Salah Satu Proses Produksi Kopi Aceh Gayo. credit photo: mongabay.co.id

Jadi, karena lingkungannya rusak, pohon beserta buahnya pun akan mendapatkan dampaknya. Salah satunya adalah perubahan rasa. Hal ini yang sangat ditakutkan oleh para petani kopi aceh gayo. Ketakutan mereka akan konsumen yang tidak suka lagi dengan rasa kopi aceh gayo yang berubah.

90% penduduk dataran tinggi Aceh Tengah dan sekitarnya bergantung oleh produksi dan kualitas dari kopi aceh gayo. Kalau cita rasa sudah rusak, terancam kehidupan mereka. Oleh karena itu, masyarakat setempat sempat meminta bantuan pada pemerintah di sana untuk menghentikan pembukaan dan pembabatan lahan hutan tersebut.

Nah, tiga hal di atas terancam untuk merusak cita rasa kopi aceh gayo nih. Untuk lo sebagai pecinta kopi dan petualang, tidak inginkan alam Indonesia dirusak begitu saja dan rasa nikmat dari kopi aceh gayo berubah?

Bagaimana menurut lo nih, bro?

 

Source

Feature Image - aceh.tribunnews.com

 


Please login to comment
2 COMMENTS
Muhammad muhlis
May 5, 2018 at 1:37 AM

Info yang sangat penting


Hengky kik
May 9, 2018 at 12:20 AM

artikel yang baguuuus