MAY 31, 2018

Beramah-Tamah Dengan Suku Tengger, Keturunan Para Pengungsi Majapahit

Untuk para petualang Indonesia, Gunung Bromo adalah salah satu spot petualangan terbaik. Walau tidak terlalu tinggi, tapi mendaki gunung tersebut selalu menarik. Selain gunungnya, masyarakat sekitar, Suku Tengger, juga menarik untuk dieksplorasi, penasaran?


Untuk para petualang Indonesia, Gunung Bromo adalah salah satu spot petualangan terbaik. Walau tidak terlalu tinggi, tapi mendaki gunung tersebut selalu menarik. Selain gunungnya, masyarakat sekitar, Suku Tengger, juga menarik untuk dieksplorasi, penasaran?

Suku Tengger, suku yang mendiami kawasan Gunung Bromo ini memiliki hal-hal yang berbeda kontras dengan masyarakat umum di Jawa Timur. Suku Tengger memiliki kepercayaan, Bahasa, serta kebudayaan yang cukup berbeda dengan masyarakat sekitarnya.

Salah satu perbedaan atau ciri khas tersendiri dari Suku Tengger adalah penghormatan untuk Gunung Bromo. Gunung Bromo dan Suku Tengger seperti mempunyai ikatan yang kuat, dan tidak bisa dipisahkan begitu saja.

Darimana Asal Nama Suku Tengger

Suku Tengger Mendiami Kawasan Pegunungan Bromo. credit photo: budayajawa.id

Kurang lebih, ada tiga pandangan yang dipercaya merupakan dasar dari asal-usul nama Suku Tengger. Pertama, Tengger mempunyai arti pegunungan. Hal tersebut berkaitan dengan suku Tengger yang tinggal di daerah pegunungan.

Kedua, banyak yang mengatakan bahwa Tengger berasal dari kalimat Tenggering Budi Luhur yang berarti budi pekerti yang luhur, menggambarkan watak Suku Tengger yang seharusnya. Ketiga, adalah bahwa nama Tengger berasal dari leluhur mereka, Roro Anteng dan Joko Seger.

Suku Tengger Mendiami Kawasan Pegunungan Bromo. credit photo: didyrosyidi.id

Salah satu penulis, Robert W. Hefner pernah mengatakan dalam bukunya bahwa, Suku Tengger adalah keturunan dari orang-orang pengungsi dari Kerajaan Majapahit. Pada abad ke 16, Kerajaan Majapahit mulai melemah karena mengalami invasi dari kerjaan islam dibawah kepimpinan dari Raden Patah.

Menyelamatkan diri dari invasi tersebut, banyak masyarakat Kerajaan Majapahit yang lari ke Jawa Timur dan Bali. Orang-orang yang lari ke Jawa Timur, sembunyi di daerah pegunungan yang dinamakan Suku Tengger.

Salah satu leluhur mereka, Roro Anteng, salah satu putri dari pembesar Kerajaan Majapahit, menikah dengan Joko Seger, salah satu putra dari para Brahmana yang ada di Majapahit. Mereka kemudian mempunyai keturunan yang sampai sekarang dipercaya adalah Suku Tengger.

Kondisi Sosial Suku Tengger Yang Unik

Suku Tengger Mendiami Kawasan Pegunungan Bromo. credit photo: foto.kompas.com

Karena mengungsi selama bertahun-tahun, Suku Tengger hampir tidak tersentuh oleh peradaban. Hal tersebut menjadi salah satu alasan mengapa kondisi sosial mereka cukup unik. Berbeda dengan kepercayaan masyarakat Jawa pada umumnya yang menganut ajaran Islam, Suku Tengger masih menganut kepercayaan mereka, Siwa-Buddha, atau dikenal dengan ajaran Hindu.

Keunikan lainnya terletak di Bahasa yang sehari-hari mereka gunakan. Dialek dalam Bahasa jawa mereka cukup berbeda, dan terkadang terdengar suku kata yang sudah tidak digunakan oleh masyarakat Jawa pada umumnya. Suku Tengger masih menggunakan Bahasa Kawi yang tidak semua orang Jawa mengerti.

Sistem penanggalan Suku Tengger pun berbeda dengan tanggalan Masehi pada umumnya. Mereka menggunakan tanggalan Tahun Saka seperti masyarakat Hindu pada umumnya. Penamaan Bulan merekapun berbeda dengan masyarakat pada umumnya.

Suku Tengger Mendiami Kawasan Pegunungan Bromo. credit photo: cnnindonesia.com

Untuk lo yang sedang berpetualang ke Gunung Bromo, mereka yang menawarkan kuda untuk lo, biasanya juga dari masyarakat Tengger. Oleh karena itu, tidak sulit untuk menemukan mereka.

Upacara Yadnya Kasada

Suku Tengger Mendiami Kawasan Pegunungan Bromo. credit photo: takaitu.com

Keunikan Suku Tengger yang tidak bisa lo lewatkan juga adalah Upacara Yadnya Kasada. Upacara ini adalah sebuah penghormatan mereka terhadap Gunung Bromo, juga sebuah penghormatan untuk putra bungsu Roro Anteng dan Joko Seger, yang mengorbankan dirinya untuk Gunung Bromo.

Dalam upacara tersebut, mereka meminta berkah dan keselamatan untuk kehidupan selanjutnya. Mereka menggunakan hewan ternak dan hasil bumi untuk dipersembahkan ke kawah Gunung Bromo tersebut.

Suku Tengger Mendiami Kawasan Pegunungan Bromo. credit photo: harianterbit.com

Kini, Yadnya Kasada menjadi upacara adat Suku Tengger yang mampu menarik minat para petualang. Momen tersebut berkontribusi pada banyaknya jumlah petualang yang mengunjungi Gunung Bromo. Oleh karena itu, Suku Tengger, dan upacara ini merupakan salah satu daya tarik tersendiri untuk para petualang tentang Gunung Bromo.

Selain keunikan Suku Tengger, pemandangan alam serta tantangan pendakian Gunung Bromo menjadi salah satu daya tarik para petualang untuk datang ke sini. Lautan pasir hitam dan berbagai gundukan kawah di spot petualangan ini menjadi pemandangan yang indah.

Suku Tengger Mendiami Kawasan Pegunungan Bromo. credit photo: yukepo.com

Oh iya bro – walau upacara Yadnya Kasada adalah hal menarik yang bisa lo ikuti saat berpetualang di Gunung Bromo, tidak semata-mata lo bisa berbuat seenaknya, ya. Ikuti seluruh kesakralan upacara tersebut dan jangan mengganggu Suku Tengger dalam melakukan ibadah dan upacara tersebut.

Wah bagaimana nih bro? Apakah lo sudah semakin penasaran dengan Suku Tengger yang mendiami kawasan pegunungan Bromo? Kalau iya, langsung saja nih lo persiapkan hari libur atau cuti dari rutinitas, siapkan budget secukupnya, berkemas, dan langsung saja berangkat!

Oh iya, kalau lo mengetahui berbagai informasi tentang Suku Tengger dan Gunung Bromo yang belum disebutkan di atas, sila tambahkan informasi tersebut di kolom komentar di bawah ini ya. Informasi yang lo berikan pasti bermanfaat untuk para petualang lain yang akan menuju ke sana.

 

Source

Feature Image - yukepo.com


Please login to comment
5 COMMENTS
Hengky kik
June 5, 2018 at 2:48 AM

Ragam keaneka ragaman budaya Indonesia yang patut dilestarikan


Sunaryo Widodo
June 7, 2018 at 2:48 PM

Masyarakat yang ramah tamah...


Muhammad muhlis
June 9, 2018 at 9:09 PM

Istimewa sekali


Hengky kik
June 12, 2018 at 3:20 AM

Upacara kasada yang belum sampai sekarang untuk menyaksikannya


hengky tri kurniawan
June 17, 2018 at 3:47 AM

kereeeen