I Dare Xplore Indonesia: Wakatobi

Mau lihat keseruan dari Erix Soekamti dan Marzuki Mohamad a.k.a Kill the DJ mengarungi keindahan alam bawah laut di Wakatobi bro? Simak saja artikel di bawah ini untuk melihat keseruan mereka berdua di program I Dare Xplore Indonesia! 

I Dare Xplore Indonesia: Wakatobi

Tahukah lo bahwa Wakatobi adalah singkatan dari gugusan pulau-pulau; Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia, dan Binongko? Sebelum pemekaran tahun 2003, pulau-pulau ini dulu adalah bagian dari Kabupaten Buton, provinsi Sulawesi Tenggara.

Tahun 1996 Wakatobi ditetapkan sebagai taman nasional yang dilindungi, dengan luas keseluruhan 1,39 juta hektare, menyangkut keanekaragaman hayati laut, skala dan kondisi karang yang menempati salah satu posisi prioritas tertinggi dari konservasi laut di Indonesia. Wakatobi masuk dalam kawasan world triangle coral yang membentang dari kepulauan Filipina, Laut Timor, hingga kepulauan Salomon di Pasifik.

Dengan status semacam itu, dunia bawah laut di Wakatobi sudah pasti menjanjikan keindahan yang luar biasa. Karang-karangnya sangat indah, tempat jutaan ikan dan biota laut berbagai jenis hidup dalam ekosistem yang sangat sehat. Atraksi yang dijanjikan salah satunya adalah Schooling Jack Fish dan Baracuda. School atau shoal adalah istilah untuk ikan-ikan yang bergerombol demi melindungi diri mereka dari predator alaminya.

Di hari pertama kami sama sekali belum menemukan schooling jack fish atau baracuda, kami hanya menemukan gerombolan dengan jumlah sangat sedikit. Konon harus dilakukan sangat pagi ketika arus surut terjadi. Maka di hari kedua, ketika jam menunjukan pukul 06:30 pagi kami sudah berada di atas kapal, tepat pukul 07:00 kami sudah turun ke dive site bernama Ali Reef dengan arus yang cukup kencang dan menemukan segerombolan jack fish dalam jumlah yang sangat massive.

Untuk mengabadikan atraksi schooling jack fish, kita tidak perlu mengikuti atau mengejar mereka, cukup menunggu hingga mereka membentuk formasi seperti bola raksasa. Kadang kita perlu mengaitkan hook di bebatuan yang keras agar tidak terbawa arus ketika menunggu momen terbentuknya. Ketika kemudian peristiwa itu terjadi, kami tak henti-hentinya mengambil foto dan video hingga baterai habis. Karena kita tahu, bahwa ada faktor keberuntungan dalam dunia diving, belum tentu kita akan menjumpai peristiwa atau kondisi yang kita harapkan.

I Dare Xplore Indonesia: Wakatobi

Credit: Populasi penyu di Wakatobi sangat-sangat banyak dengan ekosistem yang sehat. Itu tak lepas dari keberadaan pula Randuma di mana saat purnama ribuan penyu akan berkumpul di pantai berpasir putih untuk berkembang biak.

Benar saja, di hari ketiga kami berusaha mencari schooling baracuda dan hasilnya nihil. Akhirnya kami hanya bermain-main di hamparan coral yang sangat indah dengan ikan yang sangat-sangat banyak. Tapi karena Erix Soekamti sedang ngetes underwater camera barunya, sepertinya tidak ada diving yang sia-sia, jadi sekalian saja waktunya digunakan untuk uji coba setting camera hingga sempurna. Hal ini persis seperti dengan apa yang gue alami ketika sangat sibuk dengan setingan kamera baru di Alor.

Gara-gara tidak menjumpai schooling baracuda, kami memutuskan extend sehari di Wakatobi, dari Tomia kami pindah ke Wangi-Wangi. Di pulau yang menjadi kota kabupaten ini, kami berniat mencari kompensasi dengan diving di Shark Point, sarang black tip shark yang terkenal di sana. Begitu nyemplung, di kedalaman 15 meter kami sudah menjumpai dua ekor hiu.

I Dare Xplore Indonesia: Wakatobi

Credit: Populasi penyu di Wakatobi sangat-sangat banyak dengan ekosistem yang sehat. Itu tak lepas dari keberadaan pula Randuma di mana saat purnama ribuan penyu akan berkumpul di pantai berpasir putih untuk berkembang biak.

Gue mengejar hiu yang bergerak ke sisi kanan, teman-teman yang lain ke sisi kiri dan membuat kami terpisah. Tidak nyaman menunggu sendirian di kedalaman 27-29 meter selama 15 menit, krik.. Krik.. Hingga akhirnya ada enam ekor hiu yang datang dan berenang mengitari gue. Namun langit yang sedang mendung mengakibatkan visibility buruk, sangat susah untuk mengambil gambar dengan jelas kecuali mendekati mereka. Tapi hiu di sini malu-malu, setiap didekati langsung pergi. Sebagai informasi, di sini kita tidak boleh ngasih makan hiu dengan ikan yang dipotong-potong agar mau mendekat, sebab di Wakatobi ekosistem rantai makananya sehat.

I Dare Xplore Indonesia: Wakatobi

Credit: Populasi penyu di Wakatobi sangat-sangat banyak dengan ekosistem yang sehat. Itu tak lepas dari keberadaan pula Randuma di mana saat purnama ribuan penyu akan berkumpul di pantai berpasir putih untuk berkembang biak.

Begitu diving tuntas kami mengunjungi kampung suku Bajo, suku laut yang sangat terkenal sangat tangguh itu. Berinteraksi untuk mengenal kehidupan mereka lebih dekat. Jika kamu ingin tahu lebih jauh tentang mereka, bisa menonton film dokumenter Jago; a life underwater. Setelah itu kami mengunjungi pembuat tenun tradisional khas Wakatobi, sudah menjadi kebiasaan gue dan Erix untuk selalu membeli kain tenun kemana pun kami pergi ke seluruh pelosok Indonesia. Itu kenapa banyak foto-foto kami yang berkalungkan kain tenun, karena kami bangga menjadi Indonesia.

Tips ke Wakatobi

Transportasi

Untuk mencapai Wakatobi lumayan butuh effort cukup tinggi. Jalur penerbangan perlu transit tiga kali, Jakarta-Makasar-Kendari-Wakatobi, kemudian menggunakan speed boat jika ingin ke Tomia sebagai pulau dengan dive site paling komplit. Kadang ada penerbangan langsung dari Makasar ke Wakatobi, tapi seminggu hanya ada tiga kali flight.

Akomodasi

Jika kamu googling kata Wakatobi, maka yang keluar paling atas adalah wakatobi (dot) com, laman situs dari Wakatobi Dive Resort, sebuah resort mewah yang termasyhur itu. Bukan berarti kami tidak mau tinggal di resort, bagi kami tinggal di sebuah kampung dan berinteraksi secara langsung dengan masyarakat di sana adalah selalu menjadi pilihan pertama agar bisa mengenal kehidupan dan kebudayaan mereka lebih dekat. Kami juga menggunakan dive center yang dikelola oleh masyarkat lokal untuk mendukung industri mereka dan memberi dampak langsung.

Best Session

Menurut berbagai rekomendasi waktu terbaik untuk ke Wakatobi adalah dari bulan Maret ke Desember. Dengan sesi terbaik di bulan April-Mei dan September-November. Cuaca Wakatobi cukup panas, bahkan kami sering diving tanpa wet suits, temperatur air laut pun cuma di kisaran 25 s/d 30 derajat celcius. Gunakan sun block agar kulitmu tidak perih terbakar matahari, kalau menjadi gelap sih pasti.

I DARE EXPLORE INDONESIA Beginner Extreme I DARE EXPLORE INDONESIA
SHARE
NO COMMENT YET, BE THE FIRST!