DEC 3, 2018

I DARE XPLORE INDONESIA: Banda Neira Bercerita

Destinasi terakhir di program I DARE XPLORE INDONESIA - Banda Neira, di mana Kill the DJ dan Erix Soekamti mendapatkan berbagai kejutan saat diving di sana. Penasaran bagaimana keseruan mereka? Simak terus bahasan kali ini ya!


Dari New York Hingga Banda Neira

Ketika tahun 2011 aku diundang “naik haji” ke New York untuk menggelar konser eksklusif bersama Jogja Hip Hop Foundation, aku berkesempatan membaca sejarah tentang kota tersebut dan menemukan konektivitas antara New York dan Banda Neira. Seketika aku memasukan Banda Neira sebagai destinasi yang harus aku kunjungi kelak.

Dengan menumpang pesawat jenis Cessna 12 seats yang terbang rendah, kamu bisa melihat pemandangan pulau-pulau dengan banyak gunung api dari udara. credit photo: Kill the DJ, Erix Soekamti dan Tim Super Adventure

Sore itu aku berdiri di atas benteng Belgica untuk memandangi kota Banda Neira yang disapu warna senja yang terpantul dari punggung Gunung Api. Pulau ini selalu memikat sejak berabad-abad lalu, orang-orang dari berbagai belahan dunia datang ke sini untuk mencari buah pala yang konon harganya lebih mahal dari pada emas di masa jayanya.

Hingga kemudian di abad 16 bangsa-bangsa Eropa datang dan mengacaukan segala tatanan yang ada. Dimulai dari Portugis, Belanda, dan Inggris, mereka saling berperang untuk menguasai Banda Neira demi dominasi atas buah pala. Melalui Traktat Breda (31 Juli 1667), pulau Rhun yang dikuasai Inggris ditukar-guling dengan Nieuw Amsterdam, kini dikenal dengan Manhattan, New York.

Berbagai artefak, terutama arsitektur, menyimpan banyak cerita pedih dari masa lampau. Seluruh penduduk Banda dibantai karena tidak sudi untuk tunduk pada kekuasaan sebuah perusahaan dagang bernama VOC. Mereka kemudian mendatangkan budak-budak dari berbagai belahan nusantara demi melangsungkan dominasi perdagangan buah pala di dunia.

Selain pemandangan bawah laut, di Banda Neira kamu bisa wisata sejarah. Banyak peninggalan arsitektur yang masih terjaga, salah satunya Benteng Belgica. Kota Banda Neira seperti tidak banyak berubah sejak abad 16. credit photo: Kill the DJ, Erix Soekamti dan Tim Super Adventure

Setelah dunia berhasil menemukan mesin pendingin dan teknologi pengawetan, buah pala kehilangan pamor dan lambat laun ditinggalkan. Banda Neira kemudian sering menjadi tempat pengasingan tokoh-tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia, seperti Bung Hatta dan Sjahrir.

Saat aku berhasil menginjakkan kaki di pantai pulau Rhun, aku sedang merangkai hal-hal yang sangat personal dalam hidupku.

Pencarian Hammerhead

Di spot diving Light House kamu bisa menemukan karang yang kami sebut sabagai “tample of lion fish”. Sebuah gundukan karang kecil di tengah hamparan pasir putih, rumah bagi ratusan lion fish yang unik. credit photo: Kill the DJ, Erix Soekamti dan Tim Super Adventure

Kami terbang dengan pesawat cessna berpenumpang 12 orang dari Ambon menuju Banda Neira, dari udara kami melihat gugusan pulau dengan banyak gunung api aktif. Komitmen kami untuk mendukung pebisnis lokal dalam industri wisata bawah laut membuat kami datang ke dive center dengan nama The Nutmeg Tree Dive & Hotel. Pemiliknya bernama Reza Tuasikal kebetulan menghabiskan masa mudanya sekolah di Yogyakarta, kota asalku dan Erix Soekamti, jadilah kita sering ngobrol dalam bahasa Jawa.

Kami sangat beruntung, karena ketika kami datang ke Banda Neira waktunya bersamaan dengan diselenggarakannya Banda Neira Festival 2018 dan dilangsungkannya upacara adat Cuci Parigi, sebuah ritual mencuci sumur pusaka 10 tahun sekali di Negeri Lonthoir. Sejak awal kami memang sudah bersiap, bahwa akan banyak yang harus digali di Banda Neira. Selain dunia bawah lautnya, kepulauan cantik ini menyimpan banyak peninggalan sejarah dan budaya.

Di hari pertama kami langsung nyebur untuk melakukan check-dive di Lava Flow, berkenalan dengan laut Banda yang termasyhur. Dive spot ini sangat tenang, hampir tidak ada arus, hamparan karang yang yang membentang sangat luas seperti berwarna sephia, tempat ikan-ikan berbagai spesies dengan jumlah massive tinggal.

Di spot diving Light House kamu bisa menemukan karang yang kami sebut sabagai “tample of lion fish”. Sebuah gundukan karang kecil di tengah hamparan pasir putih, rumah bagi ratusan lion fish yang unik. credit photo: Kill the DJ, Erix Soekamti dan Tim Super Adventure

Diving di Banda Neira adalah Hammerhead Shark. Begitulah kemasyhuran Laut Banda bagi para penyelam. Begitu juga mimpi kami, ingin sekali berjumpa dengan hiu martil di habitatnya. Maka kami menyusun rencana dan skenario, termasuk kemungkinan untuk diving di tempat yang sama berulang kali.

Esok paginya kami pergi ke Tanjung Buton yang terletak tak jauh dari pulau Hatta. Kami turun di kedalam 27 s/d 30 meter menjauhi corral pinnacle yang indah untuk menyelam di blue yang kosong dan bisa membuatmu bosan. Itulah resiko yang harus ditanggung jika kamu ingin bertemu dengan Hammy.

CEK VIDEO I DARE XPLORE INDONESIA SEBELUMNYA DI YOUTUBE CHANNEL SUPERADVENTUREID

“Teng, teng, teng…” Guide kami memukul-mukul tabung udara untuk memberitahu ada dua ekor Hammerhead. Aku hanya melihat bayangannya saja dan mereka segera pergi ke blue ketika hendak mencoba mendekat. Begitu juga dengan penampakan kedua dengan jumlah delapan ekor. Bagi aku dan Erix, hanya melihat tapi tidak bisa merekam adalah kegagalan. Karena I Dare Xplore Indonesia bertujuan menceritakan keindahan bawah laut kepada penontonnya.

Di Pohon Miring sesungguhnya kita menyelam di kaki Gunung Api, banyak tempat-tempat unik di dalam laut. credit photo: Kill the DJ, Erix Soekamti dan Tim Super Adventure

Ketika kami singgah di pulau Hatta, kami berdebat tentang teknik dan strategi yang tepat untuk menemukan Hammerhead. Kami juga meminta pemandu kami untuk tidak memberi tanda dengan bunyi-bunyian yang bising, sepertinya frekuensinya tidak disukai oleh Hammerhead.

Di hari ketiga kami datang ke pulau Manukang, dive spot-nya bernama Swanggi. Sebuah pulau kecil tak berpenghuni yang berbentuk tebing batu nan megah. Burung-burung laut terbang rendah mengitari pulau itu, pertanda banyak ikan dibawahnya. Beberapa nelayan memancing Tuna di sana. Juga ada dua kapal Phinisi yang membawa turis live on board menurunkan jangkar di sana.

Kami turun dua kali di Swanggi dan kembali mendapatkan kegagalan. Bahkan aku kehabisan udara dan harus meminta emergency air sharing kepada Monic. Shara malah dive com-nya error dan terpisah jauh dari Erix, seolah menambah derita kegagalan kami bertemu dengan Hammerhead.

Berkenalan dengan Laut Banda, kesannya seperti monochrome tapi habitatnya masih sangat sehat. credit photo: Kill the DJ, Erix Soekamti dan Tim Super Adventure

Hari keempat adalah hari terakhir buat Erix dan Shara karena ada jadwal manggung Endank Soekamti di Jogja, sementara aku sudah merencanakan jauh hari untuk tinggal di Banda Neira hingga upacara Cuci Parigi. Kami merencanakan setengah hari saja ke laut agar punya waktu untuk melihat perkebunan pala dan menonton lomba Perahu Belang.

Kami menuju Banda Besar dan menyelam di Pohon Miring. Di sini karang dan biota lautnya lebih berwarna. Juga ada terowongan yang unik dan indah untuk dibuat foto atau adegan video.

Selepas makan siang kami mengunjungi rumah Pongky van den Brooke, generasi ke 13 perkenir perkebunan pala, sebuah imaji yang tersisa dari elegi panjang komoditas pala sejak ratusan tahun lalu.

Berkenalan dengan Laut Banda, kesannya seperti monochrome tapi habitatnya masih sangat sehat. credit photo: Kill the DJ, Erix Soekamti dan Tim Super Adventure

Selepas adzan ashar yang berkumandang di masjid-masjid di Banda Besar, kami memacu perahu kami bersama ratusan perahu lainya yang ditumpangi pendukung untuk menyaksikan lomba perahu Belang antar kampung. Sore itu laut sangat padat dan lomba berlangsung sangat meriah. Semoga berbagai rangkaian kemeriahan Festival Banda cukup bisa mengobati kegagalan Erix dan Shara bertemu Hammy.

Happy Ending

Pagi ini aku dan Monic melepas Erix dan Shara pulang. Kami juga memutuskan untuk tidak pergi ke laut, melainkan jalan-jalan menikmati kota Banda Neira yang sepertinya tidak berubah sejak abad 16. Arsitektur khas kolonial Belanda mendominasi kota tua ini, benteng-benteng dengan meriam-meriam yang menghadap laut membawa imaji pertempuran-pertempuran di masa lalu. Sementara rumah-rumah pengasingan Hatta, Sjahrir, Cipto Mangunkusumo meninggalkan banyak artefak yang berkisah tentang perjuangan untuk menjadi Indonesia.

Di hari kedua sejak kepulangan Erix dan Shara, aku dan Monic kembali ke pulau Manukang dengan perasaan sangat optimis, sepanjang perjalanan perahu kami diiringi burung-burung laut dan lumba-lumba. Seolah menjadi pertanda baik untuk hari itu.

Kami bersiap dengan sangat baik, bersepakat untuk tidak membunyikan apa pun, mematikan lampu sorot, dan turun dengan tenang. Begitu masuk, entah kenapa kami terpisah-pisah lumayan jauh, semua orang fokus dengan tujuan masing-masing dan melihat bayangan Hammerhead sendiri-sendiri. Di kedalaman 43 meter Monic merekam 3 ekor Hammerhead yang mondar-mandir di depannya dengan kalem. Aku berada di kedalam 27 meter menghadang 2 ekor Hammy yang keluar dari punggung karang dengan gagahnya.

Masih di dalam laut, kami tak henti-hentinya menari-nari merayakan pertemuan yang indah ini. Akhirnya, inilah yang disebut Lautan Banda; berjumpa dengan Hammerhead !!!


Please login to comment
NO COMMENT YET, BE THE FIRST!