FEB 28, 2019

6 Fakta Menyeramkan di Desa Trunyan Bali, Termasuk Dark Tourism?

Pulau Bali bukan hanya menyediakan spot-spot petualangan yang bagus-bagus saja bro. Tapi juga penuh dengan hal menyeramkan dan mistis. Engga percaya? Sila simak bahasan soal Desa Trunyan Bali ini!


Sebelum artikel ini dibuat, Tim Super Adventure sudah pernah membahas soal Dark Tourism. Namun, apakah 6 fakta menyeramkan di Desa Trunyan Bali termasuk ke dalam kategori gaya petualangan itu?

Dark Tourism – seperti yang sudah pernah dibahas sebelumnya, adalah gaya petualangan yang suka bereksplorasi ke tempat-tempat atau destinasi yang mempunyai sejarah kelam atau angker. Tentu, cuma petualang-petualang pemberani yang mau melakukan gaya petualangan ini.

Namun, apakah mereka cukup berani untuk datang ke Desa Trunyan yang ada di Bali? Bali atau Pulau Dewata, memang terkenal dan populer di kalangan petualang, baik mereka yang datang dari dalam negeri sendiri atau mancanegara, percaya jika pulau tersebut adalah serpihan surga yang ditinggalkan Tuhan di Bumi.

Segala keindahan alam yang masih asri ada di Bali. Mulai dari deret pantai yang indah, pegunungan yang kokoh dan gagah, serta segala keramah-tamahan kearifan lokal yang ada di sana, semua menjadi daya tarik utama untuk setiap petualang.

Akan tetapi, di Bali, ada spot petualangan yang cukup ‘menyeramkan’. Konon katanya spot petualangan yang berbentuk sebuah desa ini, mempunyai tradisi pemakaman yang unik. Mungkin keunikannya sedikit membuat banyak orang bergidik ketakutan.

Selamat datang di Desa Trunyan Bali, bro! Nah, buat lo yang sudah penasaran apa saja sih fakta-fakta menyeramkan yang membuat desa ini bisa jadi masuk ke dalam destinasi-destinasi yang tergolong di gaya petualang dark tourism – sila simak bahasan ini sampai habis, ya!

‘Trunyan’ Memang Nama Sebuah Taman Pemakaman

6 Fakta Menyeramkan di Desa Trunyan Bali, Termasuk Dark Tourism? credit: kintamani.id

Biasanya nama sebuah daerah bisa diambil dari sejarahnya, atau hal-hal unik disekitarnya. Sama seperti Desa Trunyan Bali ini, bro. Nama Trunyan diambil dari sebuah pemakaman. Batu nisan, kembang warna-warni, peti mati atau kain kafan, mungkin akan identik dengan tempat ini.

Akan tetapi ternyata tidak sama sekali, bro. Jika ada yang meninggal di Desa Trunyan Bali, jenazah tersebut tidak akan dikebumikan seperti biasanya. Tidak ada peti mati, tidak ada kembang warna-warni, dan tidak ada kain kafan.

Jenazah tersebut hanya akan digeletakan di atas tanah, sedangkan anggota keluarga yang ditinggalkan, hanya cukup memberikan pagar untuk mengelilingi jenazah tersebut dan memberi sesaji disamping jenazahnya.

No Stinky Smells From that Dead Body!

6 Fakta Menyeramkan di Desa Trunyan Bali, Termasuk Dark Tourism? credit: ulinulin.com

Unik atau anehnya, walau jenazah tersebut hanya digeletakan begitu saja di atas tanah, jenazah tersebut tidak mengeluarkan bau busuk atau bau yang tidak enak lainnya. Logikanya, jika jenazah tidak dikuburkan, pasti lama-kelamaan akan membusuk.

Tapi hal tersebut tidak terjadi di Desa Trunyan Bali. Di sana, jenazah yang digeletakan begitu saja tidak mengeluarkan bau busuk. Hal tersebut dikarenakan oleh keberadaan pohon trunyan yang berdiri di tengah-tengah pemakaman tersebut.

Nama asli pohon tersebut adalah Taru Menyan, di mana masyarakat setempat mengartikannya dengan Taru – pohon, dan Menyan – harum. Jadi jika digabungkan dua suku kata tersebut, menjadi pohon harum.

Pohon Trunyan Disinyalir Sudah Berusia Ribuan Tahun

6 Fakta Menyeramkan di Desa Trunyan Bali, Termasuk Dark Tourism? credit: idntimes.com

Percaya atau tidak, pohon trunyan diperkirakan sudah berusia ribuan tahun, lho. Namun, banyak yang menanggapi jika pohon ini tidak banyak mengalami perubahan. Di bawah pohon besar inilah pemakaman tersebut berada.

Masyarakat setempat percaya jika seluruh bau busuk yang ada di pemakaman tesebut disedot oleh pohon ini. Namun, memang sejauh ini belum ada penjelasan ilmiah mengapa pohon ini bisa menyerap bau busuk para jenazah yang diletakan begitu saja.

Konon katanya, sebelum jadi pemakaman, masyarakat setempat sempat kebingungan karena pohon tersebut benar-benar mengeluarkan wangi yang harum sampai-sampai banyak penduduk setempat yang pilek. Pada akhirnya untuk mengurangi wangi tersebut, tempat dekat pohon tersebut dijadikan pemakaman.

Beberapa Syarat Untuk Dimakamkan di Sini

Ada beberapa persyaratan jika ingin dimakamkan di sini. Penduduk setempat memperbolehkan pemakaman di sini jika mereka yang meninggal, mati dengan wajar dan pernah menikah. Kemudian, untuk jenazah yang sudah tinggal tulang belulang, akan dikumpulkan dengan yang lain dan ditaruh dekat akar pohon tersebut.

Hal ini berdasarkan alasan agar tempat tersebut bisa digunakan oleh jenazah lainnya yang baru meninggal. Jenazah juga akan ditutupi oleh Ancak, yaitu kurungan yang dibuat dari bambu. Kemudian, penduduk setempat juga punya aturan bahwa jumlah jenazah yang diletakan dekat pohon Trunyan ini tidak boleh lebih dari 11 jenazah.

Sema Bantas – Untuk Mereka yang

Meninggal Dengan Cara ‘Lain’

6 Fakta Menyeramkan di Desa Trunyan Bali, Termasuk Dark Tourism? credit: adventuretravel.co.id

Cara meninggalkan yang lain maksudnya adalah mereka yang terenggut nyawanya karena kecelakaan, bunuh diri, ataupun cara-cara lainnya. Nah, penduduk Desa Trunyan punya tempat khusus untuk mereka yang seperti ini.

Tidak dekat pohon Trunyan, tempat tersebut dinamakan ‘Sema Bantas’.

Sema Muda – Tempat Pemakaman Bayi atau Anak-anak

Selain Sema Bantas, ada juga Sema Muda di mana tempat tersebut hanya diperuntukan untuk bayi atau anak-anak. Seperti peraturan sebelumnya, hanya yang meninggal secara wajar dan sudah menikah yang bisa diletakan di dekat pohon trunyan.

Jadi, jika bayi atau anak-anak yang meninggal, mereka akan ditempatkan di Sema Muda.

Wah bagaimana nih bro? Dari 6 fakta menyeramkan dan unik di atas soal Desa Trunyan Bali, apakah lo tetap berani datang ke sana?

 

Source

Feature Image - minumkopi.com


Please login to comment
NO COMMENT YET, BE THE FIRST!