MAR 14, 2019

Ashari (@catatanbackpacker): Kisah Mengelana ke Perbatasan Indonesia

Ashari mempunyai cerita seru saat dirinya berkelana ke sejumlah perbatasan di Indonesia. Pengalaman suka duka yang dialami Ashari di perjalanan berisi banyak pelajaran inspiratif sehingga menarik untuk disimak semua orang, khususnya traveller yang berniat menjelajahi daerah terpencil. Seperti apakah itu? Silakan simak ceritanya dalam tulisan di bawah ya bro!


Ada yang terasa kurang usai saya menyelesaikan mimpi besar saya untuk menginjakkan kaki di seluruh provinsi di Indonesia sebelum berumur 25 tahun. Indonesia merupakan negara yang amat luas dengan 17.000 pulau yang tersebar di sepanjang Nusantara. Rasanya, tak cukup jika hanya bisa menginjakkan kaki di 34 provinsi saja.

Saya mulai menantang diri sendiri, apalagi kira-kira hal apa yang bisa saya lakukan? Sepertinya, tak mungkin dan realistis jika ingin datang ke semua pulau yang ada di Indonesia, sampai mati pun sepertinya tak akan tercapai. Akan tetapi, bagaimana dengan mengunjungi perbatasan-perbatasan yang ada di Indonesia?

Sebelumnya, saya memang sudah sempat mengeksplor pulau Sabang yang berada di titik paling barat Indonesia, lalu pulau Rote yang mana merupakan salah satu titik paling selatan di Indonesia. Namun, hal itu hanyalah sebuah titik, bukan perbatasan antarnegara. Kemudian, dalam dua tahun terakhir, finally saya bisa menyambangi beberapa titik perbatasan yang ada di Indonesia. Perbatasan antarnegara bukanlah sekadar perbatasan, tetapi tempat yang kaya makna dan cerita di dalamnya.

Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Mota Ain

Perbatasan antarnegara pertama yang saya kunjungi adalah perbatasan antara Indonesia dengan Timor Leste, yaitu Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Mota Ain. Perjalanan darat dari Kupang menuju PLBN Mota Ain memakan waktu hampir delapan jam. PLBN Mota Ain merupakan salah satu perbatasan yang paling mudah dikunjungi karena wilayahnya sudah dilewati transportasi umum.

Dari Kupang, saya harus menumpang mobil menuju Atambua (Kabupaten Belu) melintasi beberapa kabupaten yaitu Kolbano (Kabupaten Kupang), Soe (Kabupaten Timor Tengah Selatan) dan Kefamenanu (Kabupaten Timor Tengah Utara). Sayangnya, penyeberangan ke Timor Leste membutuhkan visa. Saat itu, saya memilih untuk tidak menyebrang dan hanya berfoto saja di perbatasan.

Meski tak membawa paspor, saya tetap diperbolehkan melewati perbatasan asalkan tidak terlalu jauh. Banyak orang menyebut zona perbatasan antarnegara ini dengan sebutan “No Man Land” alias tak ada yang memiliki. Di sekitar sana, ada warung yang melayani pembelian dengan uang rupiah jika belum menukarnya ke dollar. Sayang seribu sayang, foto perjalanan saya di Mota Ain kandas karena harddisk tempat menyimpan foto tersebut rusak dan tidak bisa di-recovery.

Perbatasan Entikong dan Badau

Perbatasan selanjutnya yang saya kunjungi adalah Entikong dan Badau yang merupakan batas negara Indonesia dan Malaysia. Perbatasan yang berada di tengah-tengah pulau Kalimantan ini merupakan perbatasan yang paling challenging karena akses ke sini terbilang sulit. Mengenai perbatasan Entikong sendiri, saya menghabiskan waktu satu hari untuk beristirahat serta menyewa mobil dari Pontianak untuk dibawa berkendara ke perbatasan.

Ashari: Kisah Mengelana ke Perbatasan Indonesia. Photo Credit: Ashari Document

Kala itu, perbatasan Entikong yang berada di Kalimantan Barat sedang direnovasi. Maklum saja, Entikong merupakan perbatasan utama yang cukup ramai. Di sekitar perbatasan Entikong, ada banyak sekali mobil berplat Malaysia yang masuk keluar melewati imigrasi. Katanya sih, banyak orang Malaysia  berbelanja di Entikong karena harga barang-barang di sana lebih murah dibandingkan harga di Sarawak.

Ashari: Kisah Mengelana ke Perbatasan Indonesia. Photo Credit: Ashari Document

Ada satu cerita unik saat saya dan tim pergi menuju perbatasan Entikong, yakni dua ban mobil pecah di perjalanan. Otomatis, dua orang dari tim menuju ke tambal ban terdekat membawa ban yang sudah pecah. Sementara itu, saya dengan seorang teman lainnya tinggal di mobil.

Tiba-tiba saja setelah itu datang seorang penjual buah nanas melewati mobil. Kami pun memanggilnya untuk membeli nanas tersebut. Si bapak penjual nanas lalu menanyakan tujuan kami dan saya menjawab “Entikong”. Eh ternyata, jalan yang kami lewati dianggap salah oleh si Bapak. Menurutnya, kami seharusnya berbelok di sebuah simpangan. Nyatanya, kami malah berjalan lurus melewatinya hingga hampir 1,5 jam! Mungkin, ban pecah merupakan pertanda kalau kami salah jalan. Coba kalau tidak pecah, mungkin tidak akan pernah sampai.

Beda lagi dengan cerita di perbatasan Badau. Saat saya datang ke Perbatasan Badau, perbatasan ini nampak seperti baru dipoles seminggu dua minggu lalu karena warnanya terlihat masih cerah sekali. Rute untuk mencapai perbatasan ini terbilang panjang sekali: harus terbang dari Pontianak ke Putusibau lalu berkendara selama tiga jam sampai di perbatasan.

Ashari: Kisah Mengelana ke Perbatasan Indonesia. Photo Credit: Ashari Document

Meski begitu, perbatasan ini punya fasilitas lengkap mulai dari ATM, money changer, mini market, hingga restoran yang berada diluar perbatasan. Nah, di sini, ada aturan khusus di mana warga dengan KTP daerah Badau dapat melintasi perbatasan tanpa paspor. Namun, hal ini hanya berlaku dalam jangka waktu 24 jam saja. Jalannya juga sudah mulus, berbeda dengan jalan menuju Entikong yang masih rada-rada hancur.

Ashari: Kisah Mengelana ke Perbatasan Indonesia. Photo Credit: Ashari Document

Perbatasan Skouw dan Sota

Dua perbatasan terakhir yang saya kunjungi adalah Skouw dan Sota yang diketahui merupakan perbatasan antara Indonesia dengan Papua Nugini. Perbatasan Skouw berlokasi dekat dengan kota Jayapura dan sudah sangat modern, sementara perbatasan Sota memakan waktu dua jam dari kota Merauke serta dapat saya bilang cukup sederhana.

Saya juga punya pengalaman unik saat di Skouw. Saat itu, saya mengunjunginya sekitar pukul empat sore dan tiba-tiba saja ada info tentang gerbang akan ditutup. Saya pun harus berlari kencang menuju gerbang perbatasan untuk menghindari kemungkinan terjebak di perbatasan Papua Nugini akibat telat.

Ashari: Kisah Mengelana ke Perbatasan Indonesia. Photo Credit: Ashari Document

Ada beberapa orang yang terjebak karena gerbang sudah ditutup. Mereka harus memelas agar dibukakan kembali gerbangnya. Oh iya, di perbatasan Skouw ini, ada banyak sekali warung yang menjual produk Papua Nugini. Jadi, membeli oleh-oleh di sini hukumnya wajib.

Ashari: Kisah Mengelana ke Perbatasan Indonesia. Photo Credit: Ashari Document

Dari seluruh perbatasan yang saya kunjungi, Sota merupakan perbatasan yang paling sederhana. Jalan antarperbatasannya berupa tanah merah! Pagarnya pun terlihat hanya seperti kayu biasa, tak ada gerbang besar. Tak ada gedung megah disana, hanya bangunan kecil dengan beberapa warung dan pos patal batas.

Penjagaan di sini juga nampak tak seketat perbatasan lain di mana penjaga umumnya terlihat memegang senjata laras panjang. Di perbatasan Sota, saya sempat mengobrol bersama seorang Mama (panggilan Ibu di Papua). Katanya, banyak warga Papua Nugini di sekitar perbatasan ingin menjadi warga Indonesia saja. Bagaimana tidak? Perjalanan dari Sota menuju Merauke yang merupakan kota besar hanya memakan waktu dua jam saja.

Ashari: Kisah Mengelana ke Perbatasan Indonesia. Photo Credit: Ashari Document

Sementara itu, perjalanan dari Sota menuju kota di Papua Nugini bisa memakan waktu satu hari dengan menggunakan kapal karena tak ada jalan darat! Makanya, banyak warga perbatasan dari Papua Nugini yang berbelanja di Pasar Sota. “Bersyukurlah, jadi warga Sota, tak pusing urusan belanja,” kata Mama.

Ashari: Kisah Mengelana ke Perbatasan Indonesia. Photo Credit: Ashari Document

Sebenarnya, masih ada lagi beberapa perbatasan yang belum saya kunjungi, misalnya seperti perbatasan Indonesia dan Malaysia yang berada di Nunukan Kalimantan Utara. Akan tetapi, capaian yang sudah saya raih sudah membuat rasa cinta saya terhadap tanah air semakin besar. Saya juga semakin yakin bahwa bangsa Indonesia amatlah besar dengan keanekaragaman di dalamnya serta mampu menjadi negara besar di masa yang akan datang.

Ashari: Kisah Mengelana ke Perbatasan Indonesia. Photo Credit: Ashari Document

Lahir pada 13 November 1991 di Jakarta, Ashari Yudha Pratama Putra adalah seorang penggiat perjalanan. Dimuali dari pesan almarhum orang tunya, Yudha memulai perjalanannya untuk belajar tentang banyak hal yang membuka wawasan dan pikiran. Baginya, pengalaman dalam perjalanan adalah sesuatu yang harus dibagikan agar bermanfaat bagi banyak orang.

 


Please login to comment
2 COMMENTS
Ilham Ridhwan Kharisma Yudha
March 16, 2019 at 4:48 AM

Nice share gan. Semoga bisa kesana juga


Ilham Ridhwan Kharisma Yudha
March 16, 2019 at 4:48 AM

Woooooowkeren