KMPA GANESHA ITB: MENAPAKI DINDING TERJAL TINORING

KMPA Ganesha ITB yang berkolaborasi dengan Super Adventure - beberapa waktu yang lalu melakukan eksplorasi ke Tana Toraja. Banyak Aktivitas yang mereka lakukan di sana, salah satunya rock climbing yang begitu memacu adrenalin. Mau tahu sepenuhnya cerita mereka? Sila simak bahasan kali ini ya!

KMPA GANESHA ITB: MENAPAKI DINDING TERJAL TINORING

Sel, adalah titik awal dimana segala cerita dimulai.

 

Pada pagi hari di tanggal 22 Juli 2019, pukul 05.30, subdivisi Rock Climbing (RC) KMPA Ganesha ITB memulai perjalanannya untuk menapaki Kota Daeng. 16 jam perjalanan kami tempuh dengan menaiki kereta dari Bandung menuju Surabaya. Selepas bertemu dengan Jai, GL-014-XXVIII, yang advance sehari sebelum rombonmgan berangkat, kami singgah di sekretariat Wanala Universitas Airlangga untuk beristirahat sejenak melepas penat, karena perjalanan kami masih panjang.

 

Semalam berlalu, suara grasak-grusuk dari orang-orang yang sudah mulai bersiap-siap untuk melanjutkan perjalanan berhasil membangunkan makhluk-makhluk yang masih terlelap. Najib, Zahra, sari, dan Irfan sebagai rombongan keberangkatan kloter pertama bergegas menuju Bandara Juanda, Sidoarjo, dan melakukan penerbangan menuju Sulawesi Selatan.

 

Setelah perjalanan udara hampir 2 jam, sampailah rombongan pertama di bandara Sultan Hassanudin. Tak lama, saudara jauh dari Mapala 09 menjemput kami dan bergegas menuju sekretariat Mapala 09 Fakultas Teknik Universitas Hassanudin (FT-UH) yang berada di Gowa. Hangat, itu suasana yang kami dapatkan di Mapala 09, sehingga hangatnya suasana dapat memecah dinginnya malam di kota Daeng ini.

Ditemani se-teko kopi, kami saling berbagi cerita masing-masing. Sampai sampai kami tidak sadar bahwa esok pun kiloan meter jarak tempuh menuju toraja masih menanti. Akhirnya kami semua beristirahat meninggalkan hangatnya obrolan malam itu.

 

Keesokan harinya, 24 Juli 2019, Rombongan keberangkatan kloter 2 yakni Kak Fida, Jai, Hafizh, Pandum dan Candra sampai di sekretariat Mapala 09. Alih-alih ingin berangkat hari itu juga menuju toraja, kami tertahan lantaran Bos Besar kami, Bang Freden, belum datang dan akan menyusul keesokan harinya.

 

Akhirnya kami kembali memutuskan untuk singgah dan melanjutkan obrolan malam yang terpotong sebelumnya. Keesokan harinya, selepas bang Freden datang, 24 Juli 2019 pukul 21.00 kami memesan mobil untuk melanjutkan perjalanan dari Gowa menuju Toraja. Perjalanan tersebut memakan waktu kurang lebih 8 jam.

Kamis, 25 Juli 2019, setiap mata dari kami disuguhkan pemandangan rumah-rumah adat, dan benar sekali, sampailah kami di Toraja dan singgah di sebuah komunitas pecinta alam, BIVI Toraja Adv.

 

Suara adzan dhuhur terdengan sayup sayup di Toraja, karena islam adalah agama minoritas disana. Akhirnya kami melaksanakan ibadah terlebih dahulu dan beristirahat selama beberapa saat. Setelah berbincang dengan ketua BIVI, kami memutuskan untuk bergegas ke lokasi yang kami tuju selama ini, yaitu Tebing Tinoring.

 

Tim dibagi menjadi 2, yang pertama langsung menuju Tebing Tinoring dan yang kedua pergi menuju Pasar Sentral Makale untuk memenuhi logistik 3 hari kedepan. Perjalanan yang ditempuh untuk menuju Pasar Sentral Makale sekitar 30 menit. Kami sempat merubah menu makanan yang sudah direncanakan karena ketersediaan yang tidak begitu melimpah di pasar tersebut dan akhirnya menyesuaikan dengan bahan-bahan yang dijual disana.

 

Setelah selesai berbelanja, akhirnya tim 2 bergabung dengan tim 1 yang sudah berada di Tebing Tinoring dan sedang membuat kemah.

 

Di lain sisi, bang freden yang memiliki pengalaman lebih, mencoba untuk orientasi medan terlebih dahulu, khususnya untuk jalur multipitch sport yang akan digarapnya hingga puncak Tinoring setinggi 125m dari permukaan tanah. Orientasi medan dilakukan dari jauh dengan cara memfoto penampang tebing, setelah itu pada  foto tersebut di plot jalur yang akan dibolting.

 

Selain orientasi dari jauh juga perlu pengecekan dari dekat dengan menembus semak semak dikarenakan dasar tebing tinoring yang masih rimbun dengan pepohonan. Bang freden menembus semak semak dan menemukan tempat titik awal pemanjatan. Untuk menuju titik awal pemanjatan harus melakukan  scrambling terlebih dahulu dengan medan yang cukup sulit. Jalur  yang di plot pada foto tersebut sesuai dengan crack yang terdapat di tebing yang dirasa bisa dipanjat.

 

Selain menentukan jalur pada foto tersebut, juga ditentukan titik yang akan menjadi stasiun pitch. Stasiun pitch ditentukan berdasarkan panjang jalur yang akan dibuat serta tempat yang bisa digunakan untuk istirahat seperti teras-an atau terdapat banyak pengaman ataupun terdapat lobang pada tebing / gua. Jalur kali ini direncanakan terdiri dari 3 pitch dengan rata rata panjang pitchnya 20-35 meter.

 

Setelah kembalinya Bang Freden, kami bergegas untuk masak karena hari semakin gelap.

Ormed-Ormed !!

KMPA GANESHA ITB: MENAPAKI DINDING TERJAL TINORING

KMPA GANESHA ITB: MENAPAKI DINDING TERJAL TINORING. credit: Dokumen KMPA Ganesha ITB

Hari kedua. Ya, hari dimana segala macam misi perjalanan dan segala macam resiko dimulai. Sesuai dengan rencana Korlap, kami mulai berkegiatan secara berkelompok. Dari total rombongan yang berjumlah 10 orang, kami pecah menjadi 3 tim, salah satunya timku yang terdiri dari gue (zahra), sari, candra, dan Ka Fida.

 

Kami bertugas untuk melakukan orientasi medan untuk pembuatan jalur sport serta sharing bersama Mapala Fakultas Teknik Universitas Hasanudin yang pada saat itu menemani kami ekspedisi ke Toraja. Teman-teman dari Mapala 09 terdiri dari DJ, Ka Bolman, dan Ka Bekal. Orientasi Medan jalur sport dilakukan di sekitar jalur sport yang sudah ada sebelumnya (Jalur Tanlie, Bear-6, dan MG-40) dan dibarengi dengan pemberian materi mengenai teknik dasar climbing, traditional climbing, dan pengenalan teknik multipitch.

 

Teknik dasar climbing berupa cara memasang tali ke quickdraw, cara mem-belay, serta pengenalan alat. Selanjutnya pengetahuan tentang traditional climbing diberikan mulai dari pengertian hingga cara menggunakan pengaman sisip. Pengaman sisip yang kami bawa saat itu berupa chock, heks, dan friend. Selain melaksanakan hal tersebut, Irfan dibantu dengan beberapa laki-laki lain menebas ilalang dan tumbuhan di sekitar tebing, termasuk dengan tumbuhan yang menempel tumbuh melalui rekahan tebing. Tumbuhan liar yang ada memang sangat banyak, sehingga mengganggu dalam kegiatan panjat tebing itu sendiri

 

Di Tim 2, yang terdiri dari Najib dan Bang fred pun sedang melaksanakan misinya terlebih dahulu. Mereka akan melakukan pembuatan jalur dengan cara trad climbing dan bor to bor (modern technique), pembuatan jalur tersebut akan dimulai dari bawah dengan cara memanjat dan setelah naik beberapa meter langsung di bor dan dipasang hanger (hanger dengan bolt 10 mm).

 

Alat yang mereka bawa dalam mengerjakan jalur ini ialah alat panjat biasa ( harness , tali dinamis, belay device, quick draw, chack bag),  alat trad climbing ( Friend, Nut, sky hook, sling), alat aid climbing (2 buah tangga tali, cowstail panjang pendek)  dan alat bor beserta hanger yang akan dipasang. Pembuatan Pitch 1 dimulai. Kali ini najib menjadi belayer dan bang fred sebagai climber sekaligus yang akan melakukan bolting. Cara yang ini tergolong sulit karena harus memanjat dengan beban ditubuh, namun kelebihannya adalah grade dari jalur langsung bisa diketahui.

 

KMPA GANESHA ITB: MENAPAKI DINDING TERJAL TINORING

KMPA GANESHA ITB: MENAPAKI DINDING TERJAL TINORING. credit: Dokumen KMPA Ganesha ITB

Menilik sejenak di Tim 3 yang terdiri dari hafidz, jai, pandum dan Irfan yang juga sedang melakukan orientasi medan. Namun berbeda dengan ormed di tim lainnya. Tim 3 langsung mencari jalur belakang untuk menuju puncak tebing tanpa memanjat. Ditemani oleh ketua BIVI Toraja Adv, Kak Chong, Tim 3 meluncur dengan membawa tali, bor, hanger, dan seperangkat alat descender untuk nantinya menuruni tebing dan membuat fix Rope untuk jalur SRT karena nantinya tim 3 akan membuat jalur multipitch sport climbing dengan cara SRT-an dari dasar tebing ke puncak.

 

Tim 3 yang berangkat hanya pandum, hafidz, dan jai karena irfan harus mengurus izin kegiatan ke pihak-pihak terkait yang sempat tertunda di hari sebelumnya. Setelah berjalan menyusuri pinggiran tebing dan mendaki, akhirnya pada pukul 11.30 Tim 3 sampai di Puncak Tebing Tinoring dan langsung mengeluarkan bor untuk membuat stasiun Pitch Terakhir dan langsung membuat tambatan fix rope untuk jalur SRT yang nantinya tali tersebut yang akan digunakan untuk turun dengan cara repling dan menentukan stasiun pitch di bawahnya.

 

KMPA GANESHA ITB: MENAPAKI DINDING TERJAL TINORING

KMPA GANESHA ITB: MENAPAKI DINDING TERJAL TINORING. credit: Dokumen KMPA Ganesha ITB

Di lain sisi, Untuk menguji kepahaman mengenai penggunaan pengaman sisip, kami, Tim 1 langsung mempraktikannya di tebing. Sementara terpasang hingga 5 pengaman sisip di jalur mengikuti crack yang ada. Selain itu, kami pun pun melakukan sharing mengenai multipitch.

 

Mulai dari cara membuat tambatan, belay dari atas, dan peran yang harus ada dalam pemanjatan multipitch (leader, cleaner, dan jumarer). Materi diakhiri dengan cara melakukan SRT. Walaupun mapala 09 juga sering berlatih SRT, namun mereka biasanya menggunakan chest harness sedangkan di  KMPA subdivisi RC tidak menggunakan chest harness jadi kami saling berbagi informasi mengenai teknik SRT.

 

KMPA GANESHA ITB: MENAPAKI DINDING TERJAL TINORING

KMPA GANESHA ITB: MENAPAKI DINDING TERJAL TINORING. credit: Dokumen KMPA Ganesha ITB

SRT tanpa chest harness memang jauh lebih berat karena kami harus menahan beban badan tanpa bantuan alat, alhasil teman-teman Mapala 09 sempat mengalami kesulitan. Tapi semuanya berhasil naik dan kemudian turun kembali dengan selamat. Yeay!

...

 

Kurang lebih 3 jam dari bolting pertama, Tim 2 akhirnya berhasil menyelesaikan pitch 1. Stasiun pitch 1 terhenti disebuah terasan yang cocok untuk tempat beristirahat. Di pitch ini terpasang 14 bolts dan terdapat 3 bolts pada stasiun pitch tujuan nya ialah ketika beristirahat disana terdapat banyak pengaman dan cocok sebagai tempat belayer.

 

Dalam pembuatan pitch 1 bang fred banyak menggunakan bantuan sky hook dikarenakan jalurnya yang boleh dibilang rata dan polos karena tidak terdapat crack untuk memasang friend ataupun nut dan juga tidak terdapat lubang tembus untuk memasang sling. Setelah pitch 1 selesai kami memasang fix rope agar besok pembuatan pitch 2 dapat dimulai dari stasiun pitch 1 tanpa harus manjat terlebih dahulu.

 

Tak terasa, gelap mulai datang, tim 1 segera menyudahi kegiatannya dengan meninggalkan pengaman sisip yang masih terpasang dan langsung bergegas menuju camp untuk memasak. Tim 2 yang berhasil menyelesaikan pitch 1  dan telah memasang fix rope, turun dengan cara repling. Tim 3 masih berusaha menyelesaikan jalur SRT dan stasiun pitch-nya setelah sebelumnya sempat terkendala dengan tali yang tak sampai menuju calon stasiun  dibawahnya.

 

Namun dengan gigihnya dan disambut gelap yang semakin menjadi-jadi akhirnya mereka bertiga turun dengan selamat dan bergegas menuju tempat camp. Bang fred yang masih menyisakan tenaganya, tak mau menyia-nyiakan hal tersebut. Meski gelap, dia langsung menghantam jalur yang sebelumnya terpasang pengaman sisip untuk di bolting sampai topnya.

 

Dengan bantuan headlamp di kepala dan Irfan sebagai Belayer, setiap meter tebing tersebut dipanjat dan dibor. Tak membutuhkan waktu lama dan menghabiskan 12 Bolt, akhirnya jalur tersebut sudah jadi dengan pengaman fix-nya yang diberi nama Jalur Sekar dan siap untuk dipanjat secara total. Jalur sekar sendiri memiliki kisaran grade 5.10a dengan tinggi sekitar 20 m.

 

Bang freden dan Irfan kembali ke camp langsung disambut oleh hidangan makan malam yang sebelumnya sudah dimasak oleh rombongan yang selesai terlebih dahulu. Tanpa basa-basi, kami menyantap hidangan tersebut hingga tak bersisa dan kemudian melaksanakan obrolan kecil untuk rencana dan target esok hari.

 

Teman-Teman Baru!

Sabtu, 27 Juli 2019, hari kedua menghantam tebing!

KMPA GANESHA ITB: MENAPAKI DINDING TERJAL TINORING

KMPA GANESHA ITB: MENAPAKI DINDING TERJAL TINORING. credit: Dokumen KMPA Ganesha ITB

Masih dengan komposisi tim yang sama dan sesuai rencana tim masing-masing, kami semua bergegas menuju tebing. Najib dan bang freden yang sudah bersiap terlebih dahulu berambisi menyelesaikan misinya dengan cepat. Kali ini Najib menjadi climber dan bang fred sebagai belayer. Medan kali ini tak sesulit pada pitch 1 karena masih terdapat crack untuk memasang pengaman dan tebingnya yang sedikit slab.

 

Dimulai dari stasiun Pitch 1, 5 buah hanger terpasang dengan cukup mudah karena masih banyak pegangan pada crack tersebut. Pada pemasangan hanger selanjutnya najib menemukan kesulitan karena telah berada diujung crack, dan untungnya pada sisi kiri terdapat lobang berukuran sekitar 50 cm, dan didalamnya terdapat beberapa pegangan.

 

Pada lobang tersebut cocok untuk melakukan Adam Ondra style yaitu kneebar. FYI, bagi yang belum tau Adam Ondra ialah pemanjat kelas dunia yang telah bisa memanjat grade 5.15. Dengan menggunakan kneebar kedua tangan bisa terfokus untuk pemasangan hanger. Setelah hangernya terpasang , najib beristirahat terlebih dahulu dengan cowstail-an pada hanger tersebut.

 

TIM 3 pun Beraksi! Dengan komposisi yang sama, jai, pandum, hafidz kembali meneruskan jalurnya. Dimulai dengan SRT dari dasar tebing menuju stasiun pitch 1, pandum memimpin terlebih dahulu. Kali ini bolting dilakukan dari pitch 2 ke atas terlebih dahulu. Dengan bor ditangannya, perlahan pandum memaksakan mata bor merangsak masuk perlahan menembus kerasnya tebing.

 

KMPA GANESHA ITB: MENAPAKI DINDING TERJAL TINORING

KMPA GANESHA ITB: MENAPAKI DINDING TERJAL TINORING. credit: Dokumen KMPA Ganesha ITB

Dari bawah disusul Jai dengan seperangkat alat untuk memasangkan hanger dan bolt. Dipalunya hanger dan bolt ke dalam lubang yang sudah dibuat pandum. Begitupun selanjutnya sampai tiba-tiba, “ROCK!!!!”. Teriakan pandum mengagetkan orang-orang dibawahnya, memperingatkan bahwa ada batu yang jatuh dari atas. Semua menghindar dan tak lama suara dentuman keras terdengar. Memang benar, batu sebesar 2 kali kepala manusia jatuh dari atas. Teriakan tersebut bukan satu-satunya, beberapa kali setelahnya kembali terdengar karena memang kondisi beberapa batuan pada tebing yang tak cukup kuat menempel.

 

Gue (zahra), sari, candra, kak fida, dan irfan bergantian mencoba Jalur Sekar dan meneruskan untuk membersihkan tebing dari ilalang dan tumbuhan yang menutupi tebing. Jalur sekar yang menjadi satu-satunya jalur yang sudah dibikin, menjadi pusat pemanjatan hari ini. Zahra, Sari, Candra yang mencoba untuk melakukan lead climbing namun tidak ada yang tembus karena memang jalur sekar cukup berat karena jalur inipun panjang dengan 12 Bolt.

 

Begitupula teman-teman dari Mapala 09. Irfan menjadi satu-satunya dari kami yang berhasil melakukan lead climbing. Beberapa saat kemudian, kami kedatangan teman-teman kecil asli Toraja. Mereka adalah Tato, Reza, Ronald, dan Yanti. Mereka mengetahui keberadaan kami karena memang selama ini kami sering mengunjungi rumahnya baik untuk mencuci, mandi, atau pun mengisi ulang baterai bor. Tato, Reza, dan Yanti adalah kakak  beradik sedangkan Ronald merupakan teman Reza yang kebetulann rumahnya juga tidak jauh dari Tebing Tinoring. Awalnya mereka datang dengan malu-malu tapi setelah mulai berkenalan, mereka pun menunjukkan antusias mereka terhadap kegiatan kami.

 

Kelas Dimulai!

 

Tanpa basa-basi kami pun mengajak mereka untuk mengenal kegiatan panjat tebing. Hal pertama yang dilakukan ialah pengenalan alat sederhana, yaitu tali, carabiner screw, harness, cowstail, sepatu panjat, dan chalkbag. Kemudian dilanjutkan dengan belajar tali temali. Kami mengajarkan beberapa simpul dasar yang umumnya digunakan dalam kegiatan panjat tebing, yaitu simpul delapan, pangkal, jangkar, butterfly, dan playboy.

 

Keempat anak ini sangat mudah menangkap informasi yang kami berikan, tak terkecuali Tato yang saat itu masih duduk di bangku kelas 1 SD. Setelah mereka khatam tali temali barulah mereka kami izinkan untuk mencoba memanjat. Pertama-tama Reza mencoba memanjat dan berhasil mencapai gua, kemudian Ronald pun ikut mencoba dan berhasil hingga hanger 4. Yanti dan Tato belum kami izinkan untuk memanjat, selain karena tidak ada harness yang pas tapi mereka juga masih terlalu kecil, kami tidak ingin mengambil resiko.

...

 

Delapan hanger sudah terpasang oleh tim 2. Pada proses pemasangan hanger ke sembilan harus melewati sebuah pohon  dengan diameter batangnya cocok untuk memasang pengaman, ketika berhasil memegang sebatang pohon tersebut tiba tiba satu kerajaaan semut menyerang , menggigit sekujur tubuh dan gue tak sempat untuk menjerat pohon tersebut dengan sling , trinting trinting (bunyi alat alat yang saling berbenturan) gue tiba-tiba terjatuh dan tertahan di hanger sebelumnya. Setelah menyelasaikan permasalahan dengan semut semut tersebut gue melanjutkan pembuatan jalur ini setelah  memasang sling pada pohon tadi , hanger punterpasang.

 

Setelah melalui perjalanan yang melelahkan hingga 10 hanger, tim 2 yang mulanya Najib sebagai Climber digantikan bang fred karena untuk menuju stasiun  pitch 2 harus melewati jalur yang suram. Najibpun turun kembali ke stasiun pitch 1 dengan cara lowring dan bang fred naik. Dua hanger terpasang dengan cara bor to bor. Ketika melakukan bor to bor, bang fred menggunakan 2 buah tangga tali dan cowstail pendek agar berat badan tidak ketahan dan bisa menjangkau jarak yang lumayan jauh dari hanger terakhir dan akhirnya tiba di stasiun pitch 2.

 

Setelah bang fred memasang sistem untuk melakukan belay dari stasiun pitch 2 , najib naik dan melakukan cleaning. Dua pitch terselesaikan dan kami berada di ketinggian kurang lebih 60 meter dari titik awal pemanjatan. Sore menjelang, Tim 2 melanjutkan pembuatan jalur menuju pitch 3. Eits eits bor nya tiba tiba berhenti ketika 4 buah hanger terpasang. Walaupun semangat yang masih full , pembuatan jalur terhenti karena alat utamanya mati dan proyek kali ini dilanjutkan keesokan harinya.

 

Di lain sisi, Tim 3 masih berkutat dengan bor dan palu untuk membuat pengaman fix. Tak terasa hari pun sudah semakin gelap. Tim 1 dan Tim 2 memutuskan untuk menyudahi kegiatan hari ini dan bergegas menuju camp untuk masak dan beristirahat. Terkhusus untuk tim 3, masih berada di atas tebing namun karena dirasa terlalu gelap akhirnya mereka turun dan menyelesaikan pitch 2 dan setengah  dari pitch 3 atau jika dihitung banyak boltnya adalah sebanyak 14 Bolt. Namun lagi-lagi, malam lah yang menyambut mereka di dasar tebing.

 

Setelah semua tim masuk camp, kami semua menyantap makanan yang sudah dimasak sebelumya. Seperti biasa, malam berlanjut dengan obrolan mengenai rencana esok hari. Dengan nyalanya api unggun, menambah romansa hangat malam itu. Obrolan dan candaan semakin menjadi-jadi, sampai kamipun terlelap satu persatu dan menutup malam ini.

Day-3 Climbing Club!

Minggu, 28 Juli 2019, Manjat sampai mampus!

Cerita hari ini akan dimulai dari Tim 3 yang kali ini ada perubahan komposisi tim yakni hafidz digantikan oleh Irfan. Pitch 3 yang belum rampung dilanjutkan oleh Irfan yang kali ini bertugas mengebor. Dengan cara yang sama, satu persatu lubang dibuatnya. Tak butuh waktu lama bagi Irfan untuk merampungkan Pitch 3 yang hanya menyisakan 5 Bolt ke atas.

 

Stasiun Pitch 3 kali ini berbentuk goa yang panjangnya sekitar 2-3 meter dan merupakan tempat yang nyaman untuk beristirahat. Namun bahayanya, banyak batu gerak yang hanya menempel pada tebing di mulut goa dan terdapat sebuah pohon kering. Selanjutnya Pandum yang bertugas sebagai pemasang hanger dan bolt, segera menyusul dari bawah, diikuti oleh jai dibarisan terakhir.

 

Di tim 1, sesuai dengan janji kemarin, Tato, Ronald, dan Reza datang lagi. Kali ini jauh lebih awal bahkan sebelum kami tiba di tempat pemanjatan. Mereka membantu kami membawa barang-barang dari tempat camp. Mereka sangat bersemangat dan tidak sabar untuk memanjat kembali. Memang benar, agenda kami hari ini adalah hanya mencoba jalur baru dan lama.

 

Reza yang mengawali pemanjatan, berhasil mencapai top dengan cara top rope climbing. Ronald yang terpancing dan tidak mau kalah, kembali menjajal jalur sekar namun hanya mampu mencapai goa dengan cara top rope climbing juga. Catatan yang bagus mengingat mereka baru menginjak kelas 5 dan pertama kali mencoba panjat tebing. Sedangkan Tato yang selalu penasaran masih belum kami  izinkan untuk memanjat, alhasil Tato dengan segala imajinasinya membuat harness sendiri menggunakan sling prusik yang ia lilitkan ke badan dan carabiner yang kemudian ia kaitkan pada tali SRT yang sudah terpasang sebelumnya dan mencoba menaiki fix rope yang ada.

 

Di jalur lain, 2 pitch tersisa menuju puncak tinoring akan dilahap habis oleh Tim 2. Hari ketiga dimulai lebih pagi daripada hari hari sebelumnya agar jalur baru ini dapat terselesaikan. Menuju stasiun pitch 1, tim 2 melakukan SRT terlebih dahulu dan selanjutnya menuju stasiun pitch 2, Bang freden dan najib harus manjat dahulu karena belum ada fix rope. Pitch 3 dilanjutkan oleh bang fred dengan cara bor to bor.

 

Pitch 3 memiliki  tingkat kesulitan yang lumayan tinggi karena sedikitnya pegangan meskipun kondisi tebingnya  sedikit slab. Jika dibandingkan dengan pitch sebelumnya, jalur ini terbilang cukup panjang. Bang Fred yang memulai pengeboran dari hanger terakhir, membutuhkan 11 kali pengeboran yang berarti 15 hanger dihabiskan hingga stasiun pitch 3.

...

 

Setelah menunggu pandum yang sedang memasang bolt menuju stasiun pitch 3, Irfan kembali melanjutkan pengeboran. Kondisi tebing nampaknya semakin susah untuk dipanjat. Sampai akhirnya jalurnya dibikin membelok ke kanan sekitar 3 meter. Meskipun dibuat membelok, namun batuan yang ada nyatanya banyak yang hanya menempel rapuh dan resiko jatuh. Benar saja, tak lama sedikitnya 3 kali batuan jatuh lantaran irfan yang mencoba menjamahnya. Dengan bantuan Sky Hook dan alat-alat trad lainnya, 12 lubang akhirnya berhasil dibuat hingga sampai di stasiun pitch 4.

 

Tim 2 kali ini menempatkan najib untuk menjadi climber pada pitch terakhir. Pitch terakhir dimulai pada ketinggian sekitar 80 meter dari dasar tebing. Hal ini membuat ketinggian semakin mengintimidasi dari pada sebelumnya, ditambah dengan tebing yang memiliki sudut kemiringan hampir 90 derajat.  Setelah bersusah payah, perjalanan pembuatan jalur menuju top oleh najib kembali terhenti pada hanger ke 8. Kejadian yang sama seperti di Pitch 2 dimana kondisi tenaga yang mengharuskan pergantian climber dari Najib ke Bang fred. Tanpa basa-basi, bang freden langsung melanjutkan perjalanan menuju puncak.

 

Tim 3 masih tertahan di pitch 4 karena Jai ingin menggantikan irfan untuk melakukan pengeboran. Tak Lama ketika sore sudah menjelang, Jai memimpin untuk melakukan pemboran. Kondisi tebing semakin ganas karena pegangan semakin kecil dan tajam ditambah dengan tingginya tebing itu sendiri. Sama halnya dengan pitch 4, jalur di pitch 5 pun kondisinya dibikin membelok lantaran pegangan yang tak memadai saat diharuskan dihantam lurus. Ketika memasuki lubang ketiga, putaran mata bor melemah dan nampaknya baterai bor mulai habis. Semangat tim 3 untuk mencapai puncak tebing terhalang dengan keadaan ini. Hal ini mengharuskan semua anggota tim 3 harus turun dan akan dilanjutkan esok hari.

 

Ketika tim 3 turun, tim 2 tanpa kendala akhirnya bisa menyelesaikan jalur multipitch sport ini pada pukul 16.00 WITA. Dengan tambahan 4 lubang yang dibuat bang freden, melengkapkan jumlah bolt yang akan dipasang di pitch 4 yakni 12 Bolt. Top jalur ini ditandai sebuah pohon yang sedikit menjorok keluar sehingga dapat dilihat dari pitch sebelumnya.

 

Puncak tebingnya sendiri banyak ditumbuhi pohon seperti pinus namun orang sini menyebutnya dengan pohon buangin. Maka dari itu, Tim 2 menamai Jalur ini dengan nama “Buangin” yang memiliki grade 5.12a. Adapun rincian grade-nya adalah pitch 1 5.12a /14 bolt 33 meter, pitch 2 5.11b/12 bolt 20 meter, pitch 3 5.11d/15 bolt, dan Pitch terakhir 5.11a/ 15 bolt 28 meter. 

 

Setelah sampai di Puncak, tim 2 beralih turun dari jalur tim 3. Di tempat lain, di dasar tebing,  kami juga kedatangan teman baru lagi dari Bivi Toraja, yaitu  Nati dan Yuli. Mereka berdua langsung menjajal jalur sekar dengan metode top rope climbing. Namun belum sampai top, mereka harus turun karena hari semakin sore. Tak lama, Tim 3 sampai di dasar tebing. Irfan yang masih menyisakan tenaganya, langsung menjajal jalur bear-6 yang sudah dibuat olah KMPA Ganesha ITB pada tahun 2013 lalu.

 

Jalur ini  lumayan epic karena tampat belay-nya yang sangat sempit dan kesulitan jalur yang dapat dibilang lumayan. Gue yang tak mau kalahpun juga mencoba jalur tanlie yang bersebelahan dengan jalur bear-6. Kami berdua berhasil mencapai puncak dengan cara lead climbing dan kemudian berfoto, walaupun fotonya ga terlalu jelas karena langit sudah gelap dan kami bingung cara mengatur kameranya.

Hari semakin gelap. Setelah tim 2 sampai di dasar tebing, kami semua berkemas dan menuju camp untuk beristirahat dan mengolah masakan untuk santap malam kami semua. Menghabiskan waktu 2 jam memasak, tanpa berfikir panjang, kami bergegas menghabiskan makanan dan kembali melansungkan obrolan untuk membahas rencana esok hari.

Climbing Club Day Off

Senin, 29 Juli 2019, Jalur Sport Climbing baru!

Kembali lagi pada tujuan awal kami, yakni membuat beberapa jalur sport climbing  sebagai tempat berlatih panjat tebing bagi warga dan komunitas pecinta alam sekitar. Maka agenda utama hari ini ialah membuat jalur sport climbing. Bang fred langsung menuju tebing diantara 2 jalur mutipitch sport climbing yang kami buat. Tanpa membuang waktu lagi, bang fred langsung SRT menuju stasiun pitch 1 jalur multipitch sport climbing karena Jalur sport ini dibuat dengan cara memasang fix rope dari stasiun pitch 1 lalu agak bergeser kekiri dan melakukan pemboran dengan sebagai penanda top dari jalur sport ini. Akan ada 2 jalur sport climbing baru yang akan dibuat.

 

Penanda top dari kedua jalur ini ialah terdapatnya 2 buah hanger. Lalu fix rope tadi dipindahkan ke masing masing jalur dan fix rope tadi dipakai SRT-an untuk mengebor dan memasang semua hanger pada jalur tersebut. Namun untuk hari ini, hanya dilakukan pengeboran saja dan pemasangan hanger direncanakan esok hari.

 

Tim 3 yang masih berkutat dengan misi penyelesaian jalur multipitch sport, direncanakan sampai puncak hari ini dan menyelesaikan jalurnya. Sesuai dengan rencana semalam, tim 3 menargetkan untuk menyelesaikan pitch 5 , mengganti hanger yang tertancap pada batuan rapuh di pitch 2, menambah hanger di top puncak jalur bang fred dan najib, dan melanjutkan bolting di pitch 1. Hari ini Jai menjadi orang pertama yang naik sekaligus mengebor dari hanger terakhir di pitch 5 hingga top.

 

Satu jam berlalu sampai akhirnya lubang pertama dibuatnya, Irfan yang bertugas bolting langsung melesat naik. Menunggu jai di stasiun pitch 4 yang sedang menyelesaikan pengeboran hingga top karena hanya terdapat satu fix rope pada pitch 5 yang artinya kami harus bergantian. Pada pukul 12.30, semua hanger sejumlah 12 terpasang di sepanjang pitch 5, dan itu berarti tim 3 sudah berhasil mencapai Top Tebing Tinoring. Tanpa menunggu lama, Jai dan Irfan bergegas menuju top jalur tim 2 untuk ditambahkan hanger.

 

Sedangkan Pandum dan Hafidz menyusul dari dasar tebing dengan cara SRT-an. Batuan keras dan membundar mendominasi di puncak. 2/3 hanger sudah ditambahkan di top jalur tim 2. Namun memasuki lubang terakhir, putaran mata bor melemah. Dan lagi-lagi, tim 3 terkendala dengan habisnya baterai bor.

...

Di dasar tebing yang menjadi spot untuk beberapa jalur sport climbing, Tim 1 dan tim 2 memanfaatkan waktu luang untuk menambah jalur baru. Kami berhasil membuat 3 jalur baru yang letaknya bersebelahan dengan jalur sekar. Jalur yang berhasil kami buat yaitu jalur manikam dengan grade 5.11b/14 bolt dan tinggi 25 meter dengan cara bor to bor.

 

Yang kedua adalah Jalur Batari. Untuk membuat jalur batari ini, kami memasang fix rope terlebih dahulu yang berada tepat di kanan top jalur manikam. Jalur batari memiliki grade 5.10a/ 11 bolt dam tinggi sekitar 25 meter. Jalur baru ketiga yakni di sisi kiri jalur sekar yang dibuat dengan cara memasang deviasi dari fix rope yang terpasang pada top jalur sekar di sebuah pohon. Jalur ini mengikuti sebuah crack lurus dengan 7 hanger yang terpasang dan grade jalur ini ialah 5.9/ 10 meter dan kami memberi nama jalur rara.

 

Di tempat lain, tim 3 yang sebelumnya kehabisan baterai akhirnya memutuskan untuk turun ke pitch 1. Yang pertama turun adalah hafidz yang nantinya akan menerima dorlog (dorong logistik) berupa air minum dan baterai bor itu sendiri dari dasar tebing. Setelah baterai ditangan dan langsung dipasang, Pandum bersama hafidz berbagi tugas untuk mengebor dan bolting beberapa stasiun pitch yang harus ditambah hanger. Hal ini juga termasuk hanger yang harus diganti di pitch 2. Sedangkan Irfan dan Jai bertuga sebagai cleaner.

 

Secara bergantian melepas semua tali dan alat yang terpasang di masing-masing pitch. Mereka turun dengan cara repling 2 tali Disinilah permasalahan datang kembali. Ternyata alat descending yang tim 3 pakai yaitu figure batman, membuat tali melintir dan hal ini baru kami sadari sudah terakumulasi sejak hari pertama. Dari stasiun pitch 3, tali mulai terbelit dengan sendirinya. Namun semuanya bisa teratasi meskipun harus memakan waktu 2 jam. Dari stasiun pitch 3, tali kembali kami lembar ke bawah dan alhasil tali ini kembali berbelit-belit, bahkan membelit tali lainnya. Lebih parah lagi, tali yang saling membelit adalah 2 tali statis yang memiliki panjang 100 m masing-masing.

 

Hal ini menambah keruh permasalahan. Di stasiun pitch 2 belitan tali menjadi sangat sangat parah , dengan sisa tenaga yang ada irfan dan jai tetap mencoba mengurai lilitan tali tersebut. 3 jam lebih mereka bergelut dengan tali terasa sia sia karena begitu parahnya lilitannya. Malam semakin menjadi-jadi, gelapnyapun menambah susah kami untuk melepaskan lilitan. Akhirnya mereka memaksakan turun dan terpaksa target penyelesaiian jalur pada hari ini tergagalkan oleh serangkaian masalah hari itu.

Sekitar pukul setengah 10, tim 3 yang dijemput najib akhirnya memasuki camp dan kami langsung menyantap makanan malam kami yang sudah dingin.

Hari Terakhir!

Selasa, 30 Juli 2019, merupakan hari terakhir kami berada di lapangan.

Hari terakhir memanjat kami masih ditemani teman-teman dari mapala 09 dan anak-anak Toraja. Karena jalur sport Rara sudah selesai dibuat kami pun bergantian memanjat jalur itu. Semua orang berhasil mencapai top. Namun, untuk jalur Manikam dan Batari karena gradenya terlampau sulit maka diantara timku dan mapala 09, hanya ka Bekal yang mencoba jalur Batari. Ka Bekal berhasil mencapai top walaupun sempat jatuh terbalik, untung saja menggunakan helm. Safety First!

 

Najib turun untuk meneruskan penyelesaiian 2 jalur sport climbing ada diantara jalur multipitch sport climbing. Penyelesaian hanya dilakukan dengan memasang hanger saja karena di hari sebelumnya, bang fred sudah mengebor tebing yang akan di bolting. Naik dengan cara SRT-an, tak membutuhkan waktu yang lama untuk najib menyelesaika 2 jalur ini. Jalur ini diberi nama peak to peak 5.11d/ 12 bolt 30 meter dan Nusantara Climbing 5.11d/  10 bolt 28 meter.Setelah selesai, dia langsung turun dengan metode dua tali sekaligus cleaning.

 

Tim 3, dengan komposisi yang sama, Pukul 7 mereka bertiga yakni jai, pandum dan irfan mulai racking dan melanjutkan yang terhambat pada hari sebelumnya. Dengan semangat dan kekuatan yang baru, mereka mulai naik. Jai dan Pandum naik bergantian terlebih dahulu karena harus mengurai tali yang berbelit. Sedangkan irfan bertugas untuk mengebor pitch 1. Sampai di stasiun pitch 2, jai dan pandum langsung mencoba megurai kembali lilitan tali yang kami tinggalkan di hari sebelumnya, namun hal ini tetap memakan waktu yang lama, mungkin disebabkan oleh beberapa faktor seperti pijakan yang tidak cukup enak sehingga mereka menjadi setengah menggantung, faktor ketinggian yang meneror mental, tali yang berat , dan memang lilitan nya yang terakumulasi .

 

Pada akhirnya mereka berdua selesai mengurai tali sekitar pukul 11 dan melanjutkan proses cleaning. Irfan yang terus membor akhirnya sampai di dasar tebing. Setelah itu pandum melakukan proses bolting di pitch 1, bolting di pitch ini memakan waktu yang agak lama karena mereka harus mendeviasikan tali karena kondisi tebing yang susah untuk dipanjat dan mereka ingin memanfaatkan crack sebagai jalur panjat.

 

Sebelum sore, sekitar pukul 2 siang, tim 3, pembuat jalur multipitch sudah berhasil menyelesaikan jalurnya. Dengan selesainya tim 3 ini juga menandakan akhir dari pembuatan jalur di tebing tinoring. kami telah selesai membuat jalur jalur baru di Tebing Tinoring sebanyak 7 jalur sport dan 2 buah jalur multipitch sport. jalur sport yang telah kami buat dinamakan jalur sekar, rara, manikam, batari, NN, peak to peak dan nusantara climber yang masing-masing memiliki grad atau tingkat kesulitan yang berbeda-beda.

 

Sedangkan jalur mltipitch sport dinamakan jalur boangin dan belibet bet dah. Gradenyapun sangat variatif, hal ini kami maksudkan agar tebing tinoring ini dapat menjadi spot terbaik untuk berlatih panjat tebing oleh semua kalangan baik pemula atau yang sudah mahir.

 

Kegiatan selanjutnya adalah mencoba jalur sport. Irfan yang maju pertama untuk menjajal jalur batari dan tak mengalami kendala yang berlebih, dia sampai di top dengan cara lead climbing. Pandum sebagai andalan kami pun mulai memanjat jalur Batari dan berhasil. Sementara itu, Candra, Sari , dan Ka Fida mencoba memanjat Jalur Tanlie. Sambil berpanas-panasan, ketiganya berhasil mencapai top.

 

Sore hari pun kami mulai packing untuk  kembali ke basecamp kota, yaitu basecamp milik Bivi Toraja Adv. dan kami memutuskan untuk bermalam disana selama beberapa hari untuk kemudian menyelesaikan tujuan lain kami ke Toraja, yaitu mengenai sosialisasi  karst tebing Tinoring.

Sosialisasi Euy!

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Kami telah mempersiapkan segala hal untuk mensosialisasikan karst tebing Tinoring kepada masyarakat sekitar. Hal hal yang telah kami persiapkan adalah materi, kesiapan pemateri, brosur informatif dan snack untuk para peserta.

 

Sosialisasi berjalan sangat lancar. Pada awalnya, sosialisasi dibuka oleh Bpk. Camat berkat izin beliau kami dapat melakukan sosialisasi di aula kantor kecamatan Tana Toraja. Materi yang kami sampaikan meliputi pentingnya karst, penyalahgunaan karst, potensi wisata karst, dan pemanfaatan karst sebagai mitigasi bencana yang berbau hidrologi.

 

Sosialisasi karst ini dihadiri oleh warga sekitar tebing tinoring, organisasi pecinta alam Toaja (Bivi Toraja Adv.), FPTI cabang Toraja, beberapa siswa SMA dan perwakilan dari mapala 09 FT-UH. Pada sosialisasi karst ini, kami juga mempresentasikan hasil pembuatan jalur di Tebing Tinoring dan dapat dilihat bahwa topik ini menjadi topik yang paling menarik untuk didiskusikan oleh para peserta yang hadir kala itu.

 

Pertanyaan pertama muncul dari kak Patrick, ia bertanya bagaimana kami menentukan grade atau tingkatan pada jalur-jalur pemanjatan yang telah kami buat dan bagaimana sistem kami untuk membuat jalur multipitch. Lalu penanya selanjutnya adalah kak Ilank, lebih meminta izin sebenarnya, ia meminta izin untuk memanjati jalur-jalur yang telah kami buat. Lalu dijabaw oleh Najib bahwa kami menentukan grade pemanjatan berdasarkan sistem Yosemite Decimal System, dimana sistem ini banyak digunakan di  Amerika dan menyebar ke Kanada dan daerah Amerika lainnya, juga negara di Asia termasuk Indonesia.

 

Sistem ini mengacu pada 5 tingkatan yang disusun oleh Sierra Club, yaitu kelas 1(Cross Country Hiking), kelas 2 (Scrambing), kelas 3 (Easy Climbing), kelas 4 (Rope Climbing With Belaying), kelas 5 ( pada kelas ini pemanjatan sudah menggunakan tali dan dibutuhkan penguasaan teknik pemanjatan yang baik untuk sampai ke atas. Standar ini dibuat oleh Amerika dibagi menjadi 11 tingkatan yang dimulai dari 5.1 sampai 5.14, semakin tinggi angka dibelakang 5 semakin sulit jalur pemanjatan).

 

GRADE 5.7 dan 5.8 ini menunjukan tingkat kesulitan yang sangat mudah, dijalur pemanjatan masih banyak pegangan dan pijakan yang sangat banyak, berukuran besar mudah didapat dan sudut kemiringannyapun belum 90 derajat.

 

GRADE 5.9 ditingkat ini jalur pemanjatan sudah mulai sulit ini ditandai dengan jarak antara pegangan dan pijakan sudah mulai berjauhan walau demikian masih dalam jumlah yang banyak berukuran besar.

 

GRADE 5.10 pada tingkat ini jalur pemanjatan sudah lebih sulit karena komposisi pegangan dan pijakan sudah bervariasi ada yang besar dan ada yang kecil dan jarak antar pegangan juga pijakan pun sudah mujlai berjauhan, terdapat dua tumpuan tangan dan satu tumpuan kaki  jadi factor keseimbangan sangat berpengaruh ditingkat ini.

 

GRADE 5.11 dan 5.12 tingkat kesulitan semakin tinggi ini dikarenakan letak antara pegangan sudah mulai berjauhan kecil-kecil bahkan banyak yang hanya bisa dipegang oleh beberapa jari saja. Posisi kakipun sudah mulai melebar agar tetap bisa melakukan tumpuan untuk pijakan berikutnya. Factor keseimbangan tubuh sangat berpengaruh. Bentuk tebing pada lintasan pun sangat bervariasi antara tebing gantung dan atap (roof).

 

GRADE 5.13 dan 5.14 ini tingkat tersulit untuk saat ini, kondisi jalur hampir mulus seperti kaca, dibutuhkan teknik, kekuatan dan daya tahan yang sangat bagus untuk bisa menyelesaikan rute ini. Dimana tumpuan untuk pegangan dan pojakan sangat minim di tingkat ini. Tak jarang pemanjat hanya bertumpu pada satu kaki dan satu tangan. Teknik gesekan (friction) sudah sering dipakai bahkan fungsi kaki sesekali berubah menjadi tangan (hooking) ditingkat ini.

 

Selanjutnya, kami membuat jalur multipitch dengan 2 cara yaitu fixed rope dan bor to bor. Pertanyaan tersebut menjadi penutup bagi kami, tak lama setelah itu kami pamit undur diri. Sosialisasi telah usai.

 

What An Amazing Culture!

KMPA GANESHA ITB: MENAPAKI DINDING TERJAL TINORING

KMPA GANESHA ITB: MENAPAKI DINDING TERJAL TINORING. credit: Dokumen KMPA Ganesha ITB

Keesokan harinya kami mengunjungi beberapa tempat wisata iconic yang ada di Toraja, yaitu Kete Ke’su, Buntu Burake, Londa, dan Pango-pango. Saat kami berada di Kete Ke’su, kami menhadiri upacara rambu solo’ adalah upacara kematian yang dilakukan oleh seluruh lapisan sosial masyarakat Toraja. Secara harfiah, Rambu Solo berarti asap yang arahnya ke bawah. Asap yang arahnya ke bawah artinya ritus-ritus persembahan (asap) untuk orang mati yang dilaksanakan sesudah pukul 12 ketika matahari mulai bergerak menurun.

 

Upacara dilakukan begitu khidmat, pada awalnya kami diberikan kertas yang berisi lirik lagu dan kami menyanyikannya. Sampai pada akhirnya kami harus meninggalkan upacara tersebut karena masih harus pergi ke tempat lain. Kami mengunjungi patung yesus yang sangat terkenal dan fenomenal disana, yaitu Buntu Burake. Disana kami melihat bentang alam Toraja yang sangat menawan.

 

Hari selanjutnya kami melanjutkan eksplorasi budaya dengan mengunjungi Londa. Londa terletak di desa Sendan Uai, Kecamatan Sanggalangi, yang berjarak 7 kilometer di sebelah selatan kota Makale, ibu kota kabupaten Tana Toraja dengan ketinggian 826 meter dari permukaan laut dengan posisi koordinat S 03°00’53.4” dan E 119°52’33.1”.Di dalam gua ini terdapat ratusan tengkorak dan ribuan tulang belulang yang sebagian sudah berumur ratusan tahun. Terdapat juga peti-peti mati yang masih baru. Walaupun demikian, udara di dalam gua terasa sejuk dan tidak berbau.

 

 

 

 

 

 

Expert Corner Extreme jungle trekking climbing

20 COMMENTS

SHARE
ga berani saya mahh
Makasih Infonya
Sangat luar biasa
yang jelas nyali nya top bgt dh
sang juara
Mantabs Bro
Ekstrim banget
Mantap ...luar biasa ajib
tq info ya
Nice superadventure