Sebuah Analisis: Menyikapi Dampak Dari Proses Destinasi jadi 'Destinasi Wisata'

Promosi yang meng-eksotisme-kan destinasi wisata sebenarnya membawa dampak tersendiri bro. Tapi yang jelas juga ada solusinya untuk isu yang satu ini. Untuk selengkapnya, sila simak bahasan di bawah ini ya!

Sebuah Analisis: Menyikapi Dampak Dari Proses Destinasi jadi 'Destinasi Wisata'

 

Dilansir dari Slate.com, di bahasan Chason Gordon “How a Spot Gets Hot” menjadi inspirasi untuk membuat in-depth yang satu ini.

 

Bali, Wakatobi dan Raja Ampat adalah contoh beberapa destinasi wisata yang selalu mendapatkan embel-embel ‘spot wisata yang mesti lo datangi sebelum mati’. Ya itu kalau judul bahasannya clickbait sih bro. Tapi yang jelas, ada yang berubah dari berbagai destinasi tersebut setelah menjadi ‘destinasi wisata’.

 

Perubahannya tentu secara sederhana ada dua macam. Berubah menjadi lebih baik dan menjadi lebih buruk. Beruntungnya, semua perubahannya ada. Entah ini harus tenang-tenang saja karena seimbang, atau makin gelisah karena tetap ada perubahan yang buruknya.

 

 

Terlalu besar untuk menyebutkan semua perubahan buruknya. Mungkin, bisa disederhanakan menjadi dua hal, yaitu overtourism dan climate change. Menyoroti hal pertama yaitu overtourism – adalah hal yang sangat mungkin terjadi ketika sebuah destinasi menjadi terkenal.

 

Saking terkenal dan ‘terus dikenalkan ke mana-mana’ tentu akan semakin banyak yang datang ke destinasi wisata tersebut. Sebut saja seperti Bali, yang mempunyai momen di mana munculnya begpacker yang dikarenakan oleh overtourism tadi.

 

Di sisi lain selain overtourism – ada salah satu dampak yang akhirnya terjadi di destinasi wisata tersebut: climate change. Contoh, Kutub Utara yang terkenal sebagai destinasi wisata yang eksotis – belum lama ini kembali dikunjungi banyak traveler.

 

Tahu mengapa banyak traveler yang ke sana? Perlu lo ketahui bro kalau mereka ke sana dikarenakan oleh adanya sebuah pemberitaan yang masif kalau es di Kutub Utara meleleh dan ekosistem di sana berubah.

 

Bayangkan, mereka datang ke sana hanya untuk mengetahui bagaimana parahnya kondisi cuaca melelehkan Kutub Utara. Global Warming – ya, ini adalah salah satu penyebab utamanya. Dan banyak dari traveler yang datang ke sana, hanya untuk tahu bagaimana kondisi aktualnya.

 

Terlepas dari hal itu semua, menurut lo nih – apakah baik jika destinasi wisata terlalu dieksotismekan?

***

 

Bagaimana Sebuah Destinasi Menjadi ‘Destinasi Wisata’

Sebuah Analisis: Menyikapi Dampak Dari Proses Destinasi jadi 'Destinasi Wisata'

Sebuah Analisis: Menyikapi Dampak Dari Proses Destinasi jadi "Destinasi Wisata" credit: adventureinyou.net

Mengeksotismekan destinasi wisata – terkadang hal ini secara tidak sadar sudah lo lakukan. Semisalnya, lo pergi ke Bali, ke salah satu pantainya dan lo mengabarkan pada khalayak banyak kalau destinasi wisata ini sangat bagus. Promosi, boleh – tapi mungkin tidak berlebihan ya.

 

Di dalam promosi, terdapat banyak bagian yang akhirnya membuat banyak orang penasaran untuk mendatangi destinasi wisata yang dimaksud. Boleh sih banyak yang datang, asal bertanggung jawab. Karena yang sudah-sudah, ada saja yang meninggalkan atau membuat destinasi tersebut rusak.

 

Ingat taman bunga yang bagus dan akhirnya rusak ketika banyak orang berusaha berfoto di sana dengan menginjak-injak bunga itu sendiri, atau masih ingat ketika ada kapal pesiar yang mampir ke Raja Ampat tapi malah menghancurkan banyak koral dengan jangkar serta bodi bawah kapal tersebut?

 

Memang sih, dalam promosi, tentu tujuannya untuk membuat target bisa dikenal banyak khalayak. Makanya, dengan cara apapun, promosi ini dilakukan. Di zaman sekarang yang terus semakin maju ini, teknologi dan internet tentu berperan sangat penting.

 

Secara tidak sadar – bahkan teknologi dan internet juga akhirnya membentuk tren traveling lho. Dan tren traveling tersebut dianut banyak orang, termasuk para millennial. Apalagi para millennial nih – yang suka sekali bereksplorasi ke destinasi-destinasi tersembunyi.

 

Menurut mereka, sebuah kebanggaan tersendiri bisa menemukan ‘potongan surga yang luar biasa’ di sebuah destinasi wisata. Namun, jelas juga ada konsekuensinya. Kedatangan traveler lain secara masif yang juga akhirnya membuat adanya kemungkinan potongan surga tersebut rusak.

 

Bagaimana Menjaga Sebuah Destinasi yang Sudah Menjadi ‘Destinasi Wisata’?

Sebuah Analisis: Menyikapi Dampak Dari Proses Destinasi jadi 'Destinasi Wisata'

Sebuah Analisis: Menyikapi Dampak Dari Proses Destinasi jadi "Destinasi Wisata" credit: freepik.com

Banyak sekali caranya. Bahkan, hampir semua cara yang ada – sekarang jadi tren traveling juga. Walau tidak semua orang mengikuti – tapi setidaknya ada. Lalu, mengapa cara-cara ini tidak dieksotismekan saja ya?

 

Dari berbagai masalah yang ada di atas, setidaknya ada enam cara yang bisa lo lakukan untuk menyelesaikan berbagi problema sebelumnya. Sebut aja seperti Eco Travel, Responsible Travel, Voluntourism, Rural Traveling, Zero Waste Adventure, dan Sustainable Tourism.

 

Percaya atau tidak – dari enam cara atau enam tren traveling yang bisa lo lakukan itu, semuanya mengerucut mempunyai satu tujuan: melestarikan berbagai destinasi wisata yang keindahannya luar biasa.

 

Responsible Travel dan Zero Waste Adventure kurang lebih mirip. Walau tidak sama persis, tapi dua tren traveling ini mengajarkan kalau lo tidak perlu mengambil apa-apa dan juga tidak meninggalkan apa-apa di destinasi wisata yang lo datangi.

 

Dua tren tersebut – jika dilakukan oleh semua pihak pelaku traveling dan turisme, akan menjadi Eco Travel dan Sustainable Tourism. Dua tema besar itu adalah sebuah cara untuk mewujudkan sistem yang baik untuk semua pelaku turisme.

 

 

Kemudian, untuk mereka yang fokus untuk pengembangan manusia dalam dunia turisme, Voluntourism dan Rural Traveling – bisa menjadi tema besar dalam perjalanan yang akan lo lakukan. Semuanya mengarah ke satu hal: kelestarian.

 

Pertanyaan lanjutan: apa yang sudah lo lakukan untuk kelestarian alam ini?

 

Feature Image – worldlyadventurer.com

In Depth Beginner solo traveling solo backpacker

7 COMMENTS

SHARE
SRI YAYA ASTUTI
jadilah traveler yang bijak
AMBO SOLLE
Keren tempatnya
agung
tq info ya
Agus Sungkawa
Informasi yang sangat menarik
Ricko Pratama Putra
Okey Juga Analisisnya
Firgiawan
Info yang sangat bermanfaat
Yuniarto ( Tato )
Mantap ni Buat referensi