Ini Alasannya Kenapa Gunung Bromo Tutup Tiap Hari Raya Nyepi, Bro!

Kawasan Wisata Gunung Bromo pada 25 Maret lalu ditutup. Bukan.. bukan.. Awalnya penutupan bukan karena maraknya wabah virus menular, melainkan untuk merayakan Hari Raya Nyepi 2020.

Ini Alasannya Kenapa Gunung Bromo Tutup Tiap Hari Raya Nyepi, Bro!

Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger dan Semeru (BBTNBTS) mengumumkan, penutupan kawasan wisata Bromo akan ditutup total pada 25 Maret pukul 00.00 WIB sampai 26 Maret pukul 05.00 WIB. Jadi kalau lo udah merencanakan liburan ke Bromo di hari itu, ada baiknya dipercepat kunjungannya, atau mundurin agenda jalan-jalan di sana.

Berdasarkan keputusan pemerintah, Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1942 ditetapkan pada 25 Maret 2020. Penutupan juga dibarengi dengan larangan wisatawan untuk masuk ke kawasan Gunung  Bromo melalui tiga jalur yakni Desa Wonokerto, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Desa Wonokitri, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan, dan pintu masuk Jemplang.

Dari ketentuan yang sudah dibuat, maka wisata wisata Gunung Bromo akan dibuka lagi pada 26 Maret 05.01 WIB. Oh iya, ini penutupan wisata Bromo selalu rutin tiap tahun ya, bro! Jadi ini bukan karena faktor tertentu, melainkan merayakan Hari Raya Nyepi.

Menghormati Suku Tengger

Ini Alasannya Kenapa Gunung Bromo Tutup Tiap Hari Raya Nyepi, Bro!

Image source: wonderfulltosari.com

Suku Tengger merupakan suku asli yang mendiami wilayah Gunung Bromo dan Semeru. Penutupan Gunung Bromo otomatis untuk menghormati Suku Tengger yang memang merayakan Hari Raya Nyepi. Jadi penutupan jalur wisata ini sekaligus menjadi simbol penghormatan kepada adat istiadat dan kearifan lokal di kawasan Bromo.

Fakta-fakta Suku Tengger

Suku Tengger memiliki berbagai upacara kebudayaan. Salah satu yang paling dikenal nih bro, Upacara Yadnya Kasada atau Kasodo. Upacara ini dilakukan setahun sekali dan tempatnya di sebuah pura yang ada di bawah kaki Gunung Bromo. Ya, betul banget, di Pura Luhur Poten Bromo dan dilanjut ke puncak Gunung Bromo.

FYI ya bro, Suku Tengger itu meyakini Gunung Bromo atau Gunung Brahma adalah gunung suci. Makanya upacara digelar di Kaki Gunung Bromo.

Kalau lo belum tahu, Nama Tengger itu diambil dari nama tokoh legendaris yang dianggap sebagai leluhur. Namanya Teng dari akhiran nama Roro Anteng. Lalu Ger dari akhiran nama Joko Seger. Jadi warga Suku Tengger itu percaya kalau mereka keturunan Roro Anteng dan Joko Seger.

Suku Tengger ini hidup dengan adat dan tradisinya sendiri. Mereka nggak terpengaruh modernisasi zaman. Selama berabad-abad suku Tengger bisa mempertahankan karakteristiknya. Akulturasi budaya ditutup rapat-rapat. Ha; itu yang bikin adat dan budayanya masih lestari sampai sekarang. Salut!

Lalu apa sih upacara Yadnya Kasada? Ini upacara sebagai bentuk persembahan untuk Sang Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa dalam agama Hindu). Biasanya upacara ini bentuknya berupa pengiriman kurban kepada leluhurnya yang ada di kawah Gunung Bromo. Yang bikin nih bro, upacara ini dilakukan pada malam hari hingga matahari terbit.

Upacara ini pula yang bikin wisatawan berdatangan ke Gunung Bromo. So, atur ulang lagi jadwal kunjungan lo ke Bromo. Ingat lagi ya, tanggal 25 Maret kawasan wisata ini ditutup sementara. List ulang lagi, siapa tahu lo beruntung dapat kesempatan menyaksikan Upacara Yadnya Kasada.

Penutupan Diperpanjang karen Imbas Corona

Kabar paling anyar, selain ditutup untuk Nyepi, wisata Bromo Tengger Semeru ditutup untuk mencegah penularan Corona. BBTNBTS menunda dan membatasi kegiatan penelitian, pendidikan, dan ekspedisi di kaqasan TNBTS yang melibatkan banyak kontak. Pemberlakuan penutupan sampai 31 Maret 2020.

 

Source:https://travel.detik.com/travel-news/d-4935325/peringati-nyepi-wisata-gunung-bromo-akan-ditutup
Trending Beginner Extreme solo traveling

5 COMMENTS

SHARE
wildan
Makasih infonya
Agus Sungkawa
Selalu mengikuti perkembangan yg ada saat akan berwisata ke Gn.Bromo
Firgiawan
Pengen ke bromo belum pernah
Agung Sutrisno
Suku Tengger itu meyakini Gunung Bromo atau Gunung Brahma adalah gunung suci. Makanya upacara digelar di Kaki Gunung Bromo.
Darmawati
Mantappp