Bakar Tongkang di Bagansiapiapi, Tradisi yang Menarik Perhatian Wisatawan

Ada yang pernah ke Bagansiapiapi? Iya, Bagansiapiapi merupakan sebuah kota di Riau yang punya tradisi bakar tongkang. Bukan sekadar bakar-bakaran, tradisi ini memiliki makna sebagai penghormatan untuk dewa.

Bakar Tongkang di Bagansiapiapi, Tradisi yang Menarik Perhatian Wisatawan

Ritual ini terbuka untuk umum. Siapapun yang datang bisa langsung menyaksikan ritual khas Riau. Nggak heran kalau tradisi ini mampu menyedot banyak wisatawan baik dari dalam maupun luar negeri. 

Ritual bakar tongkang ini tahun lalu berhasil menyedot 76 ribu wisatawan. Puluhan ribu orang itu tumpah ruah. Apa sih yang bikin budaya Bakar Tongkang Bagansiapiapi ini ramai dikunjungi?

Asal-usul Bakar Tongkang

Bakar Tongkang di Bagansiapiapi, Tradisi yang Menarik Perhatian Wisatawan

Image source: Heru/GenPI.co

Tradisi Bakar Tongkang ini diperingati setiap tanggal 16 di bulan kelima setelah perayaan Tahun Baru China atau terkenal dengan istilah Go Gwee Cap Lak. Berdasarkan cerita, tahun 1800-an ada sekitar 18 orang Tionghoa bermigrasi dari dataran China. Mereka menggunakan kapal kayu untuk berlayar.

Di tengah perjalanan, mereka tiba-tiba kehilangan arah. Badai menghantam dua tongkang. Tongkang yang selamat akhirnya sampai di Bagansiapiapi yang saat itu masih berupa hutan. Di dalam tongkang yang selamat itu terdapat patung dewa laut Ki Ong Ya dan Tai Su Ong.

Sebanyak 18 orang yang selamat itu bertekad untuk tidak kembali ke tempat asal. Caranya, mereka membakar kapal tongkang yang mereka gunakan untuk tinggal selamanya di Bagansiapiapi.

Filosofi Ritual Bakar Tongkang

Bakar Tongkang di Bagansiapiapi, Tradisi yang Menarik Perhatian Wisatawan

Image source: Heru/GenPI.co

Acara bakar tongkang ini sudah dimulai sejak tahun 1878. Pada zaman orba, tradisi ini sempat vakum lantaran dilarang. Namun setelah itu, bakar tongkang diaktifkan lagi di era Gus Dur.

Tongkang yg dibuat diarak puluhan ribu warga etnis Tionghoa dari Kelenteng Ing Hok Kiong yang jaraknya sekitar 3 kilometer dari tempat pembakaran. Selain mengarak tongkang, masyarakat Tionghoa juga mengarak berbagai ornamen kepercayaan mereka dan pawai budaya.

Ritual ini disebut mempunyai nilai filosofis, yaitu memulai kehidupan yang baru. Dalam tradisi ini, kapal tongkang yang dibakar cuma replika. Terbakarnya kapal menjadi penanda kalau warga Bagansiapiapi telah melupakan suka duka mereka di masa lalu, dan siap menjalani kehidupan baru. Ritual ini juga menjadi bagian rasa syukur warga kepada Dewa Kie Ong Ya, karena menyelamatkan leluhur mereka dari kesulitan yang mereka hadapi. 

Cara Pelaksanaan Bakar Tongkang

Sebelum sampai ke tahap pembakaran kapal tongkang yang menjadi puncak ritual, kegiatan ini diawali dengan sembahyang untuk mengundang Dewa Langit (Chia Thi Kong) yang diselenggarakan di kelenteng Ing Hock Khing.

Setelah itu bakal ada upacara pawai mengantar dewa langit dan pengarakan pigura Thi Kong Tan menuju ke lokasi bakar tongkang. Ritual selanjutnya itu adalah membakar replika kapal tongkang itu. Jadi dalam ritual ini kapal yang dibakar hanya replika.  

Sebelum akhirnya dibakar, kapal disimpan dulu selama semalam di klenteng Hok Hok Eng. Sehabis itu, baru deh kapal melewati serangkaian pemberkatan dan dibawa ke pembakaran.  Tempat pembakarannya biasanya berupa tanah lapang atau pinggir laut.

Replika kapal yang dibakar sendiri mempunyai tinggi 8,5 meter, lebar 1,7 meter, dan berat sebesar 400 kg. Karena popularitasnya, tradisi tahunan ini berhasil masuk menjadi salah satu nominasi 'Anugerah Pesona Indonesia' untuk kategori festival budaya terpopuler.

Kalau lo mau ke Riau untuk melihat langsung Festival Bakar Tongkang, sebaiknya datang di pertengahan tahun. 

 

source: https://review.bukalapak.com/travel/mengenal-ritual-bakar-tongkang-di-bagansiapiapi-riau-85078
Urban Action Beginner Extreme solo traveling

7 COMMENTS

SHARE
agung
tq info ya
Yumna Aditya Prakoso
keren gan tapi buang duit wkwk
dephy
dibalik keriuhan acara ada filosofi yang sangat dalam diacara bakar tongkang ini
Yuniarto ( Tato )
wahhh unik nih
Bahar
Tradisi yg unik
Agus Sungkawa
Ragam Budaya dan tradisi
Heni Oen
Peringatan untuk leluhur