Nggak Disinari Matahari, Kota Rjukan di Norwegia Pasang Cermin Raksasa

Pernah terbayang gimana rasanya hidup tanpa disinari matahari selama berbulan-bulan, bro? Ternyata ada salah satu kota di Norwegia yang nggak mendapatkan sinar matahari selama sekitar enam bulan setiap tahunnya. Mau tau di mana? Simak ulasan lengkapnya berikut ini!

Nggak Disinari Matahari, Kota Rjukan di Norwegia Pasang Cermin Raksasa

Adanya rotasi Bumi membuat semua makhluk hidup merasakan siang dan malam. Secara bergantian matahari akan menyinari berbagai tempat yang ada di Bumi. Namun, bagaimana jadinya kalau kita nggak mendapatkan sinar matahari selama berbulan-bulan lamanya? Seperti salah satu kota di Norwegia.

Dilansir The Atlantic, sebuah kota di Norwegia, yaitu Rjukan menjadi kota yang nggak mendapatkan sinar matahari selama sekitar enam bulan setiap tahunnya. Kota berpenduduk sekitar 3.386 orang ini nggak pernah mendapatkan sinar matahari langsung sejak bulan September hingga Maret.

Geografis Kota yang Dikelilingi Pegunungan

Nggak Disinari Matahari, Kota Rjukan di Norwegia Pasang Cermin Raksasa

Bisa dibayangkan bagaimana rasanya musim dingin saat menyelimuti kota ini. Ternyata ada penyebab kenapa Rjukan nggak mendapatkan sinar matahari, hal ini dikarenakan geografis kota ini yang dikelilingi pegunungan.

Deretan pegunungan menghalangi sinar matahari untuk masuk ke Kota Rjukan dan membuat kota tersebut menjadi gelap setiap hari selama tujuh bulan lamanya.

Menciptakan ‘Matahari’ Sendiri

Nggak Disinari Matahari, Kota Rjukan di Norwegia Pasang Cermin Raksasa

Meski demikian, penduduk setempat nggak kehabisan akal. Mereka pun menciptakan ‘matahari’ untuk kotanya sendiri. Bagaimana caranya? Ide ini datang dari pendiri Kota Rjukan, Sam Eyde. Di tahun 1913, Sam Eyde, berencana untuk membuat cermin raksasa di atas gunung setelah kasihan melihat warganya, karena nggak bisa merasakan hangatnya sinar matahari.

Namun, sayangnya ide dari Sam Eyde nggak dapat direalisasikan karena faktor biaya. Teknologi yang juga belum canggih membuatnya harus gigit jari. Para penduduk pun harus rela naik gondola ke atas lereng gunung kalau mau kena cahaya matahari.

Lalu, selanjutnya di tahun 2013, salah seorang warga yang bekerja di pembangkit hidroelektrik, Martin Andersen, melanjutkan ide Sam Eyde tersebut. Dia membuat tiga cermin khusus berukuran 51 meter persegi dan diletakkan di atas lereng gunung setinggi 450 meter.

Cermin tersebut menggunakan metode heliostat atau untuk memanfaatkan sinar matahari sebagai penerangan. Tetapi, itu nggak mengkonversi panas menjadi energi listrik, melainkan hanya memanfaatkan sinar matahari untuk dipantulkan ke dalam sebuah ruang sebagai penerangan. Cermin bertenaga surya ini pun membuatnya bisa bergerak mengikuti arah matahari untuk memantulkan sinar matahari ke sudut-sudut kota.

Meskipun pemasangan cermin membuat Kota Rjukan menjadi lebih terang dan lebih hangat, ternyata hal ini menuai protes sebagian penduduknya. Hal tersebut dikarenakan pemasangan cermin dianggap menghabiskan banyak biaya untuk beberapa buah cermin.

Selain itu, pemasangan cermin di Kota Rjukan untuk memantulkan sinar matahari juga dianggap sebagai proyek ‘tipuan’, karena kota tetap nggak mendapatkan sinar matahari langsung. Walau sudah mendapat pantulan cahaya matahari, tetap aja suasana kotanya sedikit gelap seperti malam.

Bagaimana menurut lo, bro? Kebayang nggak gimana rasanya tinggal di kota tersebut?

 

Source: kumparan.com
Urban Places Beginner Extreme solo traveling

16 COMMENTS

SHARE
Heni Oen
ada ada aja idenyan
Ldr_Lstyd
cara yang luar biasa
Cecep Jajang
Sanagt kreatif nih
Bahar
Kreatif nii
Kristian Mustafa
Nice info.
agung
tq info ya
Yuniarto ( Tato )
Gunung nya harus di potomg nih
Agus Sungkawa
Kotanya sedikit gelap.
dephy
Cara unik dan kreatif
arief
keren nih seolah2h bisa menciptakan matahari sendiri