Gulat Okol, Tradisi Tarung Menunggu Hujan

Kalau musim kemarau sudah tiba sebagian warga mulai was-was, terutama para petani. Biasanya panen bakal dikebut sebelum matahari terus menerus terik berbulan-bulan. 

Gulat Okol, Tradisi Tarung Menunggu Hujan

Di Jawa Timur, khususnya Pamekasan ada lho tradisi untuk menunggu hujan. Bukan pawang hujan ya, ini bagian tradisi ketika mengalami kesulitan air. Di Kecamatan Palengaan, Kecamatan Pegantenan, Kecamatan Proppo dan Kecamatan Larangan biasanya menggelar tradisi gulat yang namanya dikenal dengan istilah gulat Okol.

Tradisi tarung ini biasanya digelar di tanah lapang yang sudah ditanami pohon tembakau. Kalau tradisi ini sudah dimulai, warga desa langsung merapat. Puluhan penonton membuat lingkaran sebagai pembatas arena. Satu per satu teknik dikeluarkan sebagai strategi dan kekuatan fisik untuk menjatuhkan lawan.

Tata Cara Gulat Okol

Gulat Okol, Tradisi Tarung Menunggu Hujan

Image source: m.medcom.id

Para pegulat diharuskan memakai selendang yang dilingkarkan di bagian tubuh. Selendang inilah yang akan digunakan untuk menjatuhkan satu sama lain dalam gulat okol

Sama seperti gulat pada umumnya, tradisi Okol juga punya satu wasit untuk mengawasi jalanya pertarungan. Peserta bakal dinyatakan menang ketika berhasil menjatuhkan lawannya dengan cara dibanting ke tanah. Sementara lawan dikatakan kalah ketika terbanting dan punggungnya jatuh menyentuh tanah

Konon katanya, tradisi ini digelar sebagai momen menunggu datangnya hujan. Warga sudah biasa melakukan tradisi tarung ini. Warga bersepakat untuk menggelar di satu tempat. Nggak cuma itu aja sih, Okol juga jadi pintu silaturahmi antar warga sehabis panen tembakau.

Jadi meski adu kekuatan di arena tarung Okol, warga atau peserta nggak pernah lanjut pertarungan di luar arena. Alias berkelahi. Karena pada dasarnya, tradisi ini juga untuk silaturahmi dan dianggap hiburan rakyat.

Sejarah Okol

Asal usul tradisi ini berasal dari perkelahian antar warga saat musim kemarau karena rebutan air. Setelah perkelahian itu, beberapa hari kemudian musim hujan turun. Tradisi ini terus dilanjut dan turun temurun sebagai warisan nenek moyang.

Nah, seiring perjalanan waktu, tradisi Okol kemudian dibuat perkumpulan antardesa dan antar kecamatan. Gelaran Okol tiap tahun nggak selalu menetap di satu tempat saja. Pelaksanaannya berpindah-pindah dari desa dan kecamatan, sesuai permintaan masing-masing tokohnya

Antusiasme warga untuk menyaksikan tarung Okol ini selalu meningkat setiap tahunnya. Bahkan warga atau peserta tarungnya bisa datang dari warga asal daerah lain. 

Dalam satu kali pertarungannya, tidak ditentukan durasi waktu dan bergantung kekuatan otot dalam bertahan. Kalau dua peserta sama-sama kuat, maka gulat Okol bisa bertahan sampai lima menit. Kalau peserta yang tidak memiliki pertahanan jitu, gulat bisa bertahan hanya satu menit saja. 

Oh iya, arena tarung ini juga memakai alas jerami. Filosofinya karena jerami menunjukkan berkah panen warga setempat. Jadi selain keamanan supaya minim cedera, tarung Okol ini juga penuh makna.

 

Source: https://regional.kompas.com/read/2015/10/23/19300011/Gulat.Okol.Tradisi.Warga.Menunggu.Hujan.Turun
Urban Action Beginner Extreme solo traveling

11 COMMENTS

SHARE
nugraha
makasih informasinya
Yuniarto ( Tato )
Seru nihhhh
Ldr_Lstyd
nice info
Kristian Mustafa
nice info
Yumna Aditya Prakoso
mantap gan
agung
tq info y
Bahar
Nice info
Heni Oen
seru pake gulat
Heni Oen
tradisi yang unik
Agus Sungkawa
Filosofinya karena jerami menunjukkan berkah panen warga setempat.