Perjalanan dalam Balutan Motif Tenun

Selama pandemi beberapa bulan terakhir ini, seorang penjelajah yang waktunya habis di jalan sepertiku, hanya bisa membuka kembali memori-memori perjalanan waktu lalu. Begini kisah perjalananku!

Perjalanan dalam Balutan Motif Tenun

Melihat semua memori itu hanya bisa membuat ku geleng-geleng kepala. Ternyata aku sudah berjalan sejauh ini, ya. Lalu tak sengaja melihat kembali sebuah arsip video kala lalu perjalanan ku sempat diliput oleh salah satu televisi swasta.

Seketika teringat pada sebuah wawancara hari itu, di mana reporter yang bertugas bertanya kepadaku: “Kenapa begitu konsisten melakukan kegiatan traveling dengan menggunakan kain tenun sebagai pakaian atau aksesoris?”.

Kenapa Memilih Tenun?

Perjalanan dalam Balutan Motif Tenun

Jawaban yang tidak perlu aku pikirkan, yang begitu saja keluar dengan lugas dari mulutku: “Indonesia itu begitu kaya, budaya dan kearifan lokalnya, salah satunya adalan mahakarya Tenun. Aku cinta tenun sedari kecil. Motifnya yang beragam, kaya dan sarat makna, membuat ku begitu terkagum.

Tapi sayangnya, yang aku tau pada saat itu, tenun kebanyakan digunakan hanya sebagai hiasan d irumah, atau paling maksimal, digunakan hanya pada acara-acara hajatan tertentu. Suatu hari (aku lupa pastinya), aku mulai memberanikan diri untuk menggunakan tenun pada rutinitas sehari-hari, mulai dari kuliah sampai kegiatan traveling.

Ternyata, setelah mencoba memakainya dalam kegiatan traveling, kain dan motif tenun begitu serasi dengan pemandangan alam, ketika aku mengabadikannya melalui lensa kamera. Dari sana, aku mulai lebih sering menggunakan tenun sebagai outfit. Paling tidak ini keren bagi aku sendiri.

Lalu, tanpa disadari, ini menular pada teman-teman terdekat, dimana mereka melihat tenun sebagai sebuat mahakarya, yang seharusnya tidak hanya dipakai untuk ritual-ritual, atau acara besar saja. Kekayaan ini harus kita perkenalkan lebih luas, salah satunya sebagai outfit dalam berkegiatan sehari-hari.

Lalu aku melanjutkan jawabanku: “Kita (Indonesia) boleh saja modern, tapi jangan ke barat-baratan, contohnya Jepang dan Korea, mereka sangat modern, tapi tidak ke barat-baratan”.

Harajuku style, begitu terkenal sampai kepenjuru dunia, itu sangat modern, tapi Jepang sekali, tidak kebarat-baratan. Contoh lain adalah Korea Selatan, di mana pada saat ini, Korean Style, dari K-pop, drama, dan lifestyle orang-orang Korea begitu di gandrungi, tapi sekali lagi itu tidak kebarat-baratan.

Bagaimana dengan Indonesia? Jelas kita juga bisa. Batik sudah begitu mendunia, walau klaim dari negara tentangga begitu kencang berhembus. Tapi kita perlu ingat bahwa kita masih punyatTenun. Jika saja kita bisa memasysrakatkan tenun, maka ini akan jadi lifestyle yang akan membanggakan bagi kami sebagai bangsa. Jadi, mari kita buat masyarakat barat yang ke Indonesia-Indonesia-an….hehehe.

Tenun sebagai Personal Branding

Perjalanan dalam Balutan Motif Tenun

Lalu seketika juga aku teringat dengan perjalanan-perjalanan awalku ketika memulai membentuk personal branding di media sosial. Memang, awalnya, media sosial hanyalah sebuah platform yang kugunakan untuk dokumentasi sederhana kegiatan sehari-hari, sampai pada waktunya aku sadar, di era digital sekarang ini, media sosial adalah wadah yang begitu powerful dalam membentuk citra diri, juga sebagai portofolio

Lalu aku mulai serius mengembangkan media sosial yang aku punya. Pada saat itu media sosial yang begitu serius aku geluti adala Instagram, terlepas aku suka sekali kebebasan berkata-kata di twitter.

Instagram ini adalah hal yang baru, dimana sepertinya masyarakat Indonesia lebih suka melihat dari pada membaca. Aku sudah mempunyai dasar menulis dari twitter, yang perlu lagi aku kembangkan adalah, bagaimana memiliki sense untuk membuat sebuah foto yang bercerita. Dari sanalah, semesta seperti bersatu, membuat ku begitu jernih berpikir menghasilkan ide-ide mengenai personal branding yang ingin aku ciptakan di media sosial. Aku yakin bahwa media sosial adalah sebuah wadah yang bisa membagikan referensi foto yang beragam, tapi jika kita tidak fokus dan konsisten pada satu tema atau segmen, akan sulit mengkategorisasikan diri kita sendiri.

Lantaran aku begitu mencintai kegiatan traveling dan adventure yang sudah diwariskan oleh orang tua dan keluarga besar ku sedari kecil, maka aku memutuskan aku akan membagikan referensi konten seputar kegiatan traveling.

Tapi tidak sampai disitu, aku yakin, pada perjalanannya, akan banyak sekali orang-orang yang akan memiliki interest serupa denganku, yaitu kegiatan traveling. Paling tidak aku harus tau, apa yang membedakanku dengan traveler lain, yang kedepannya, akan membuat ku dikenal sebagai traveler yang seperti apa.

Dalam dunia Branding, ini disebut dengan “top of mind”, seperti saat kita membeli air mineral, yang akan tersebut pasti hanyalah satu brand itu saja, padahal belum tentu brand itu yang kita dapat. Menurut ku, itu juga perlu dilakukan dalam personal branding. Maka dari itu, sampai hari ini, dikenal seorang Schode, seorang traveler yang suka memakai tenun dan membagikan referensi tempat wisata yang tidak biasa.

Jalan-jalan dan Jualan

Perjalanan dalam Balutan Motif Tenun

Ternyata tidak semudah itu, ya? Kita harus punya karakter yang membedakan kita dengan orang lain. Itu yang akan menyelamatkan dan membuat kita bertahan dalam membuat sebuah gagasan atau konten. Tidak hanya harus konsisten tapi juga persisten.

Perjalanan dan tenun, begitu berarti dalam hidupku sejauh ini. Jika ada orang yang tidak percaya kalau kita bisa hidup dari cinta, orang itu harus mengenalkanku. Akan aku ceritakan, bahwa cintaku pada keindahan alam dan mahakarya tenun, bisa membuatku tetap hidup sampai hari ini.

Diawal 2016, dua sahabat ku membangun sebuah brand tenun bernama Awan Ethnic Craft. Pada saat itu mereka hanya bisa membeli beberapa kain tenun dan kemudian dipotong-potong menjadi beberapa bagian lalu dibentuk menjadi gelang dan ikat kepala. Dijualnya pun hanya kepada teman-teman terdekat.

Karena kecintaan yang sama atas perjalanan dan tenun, kami dipertemukan. Memanfaatkan media sosial instagram sebagai media promosi ternyata membuahkan hasil. Dari berjalan-jalan ke daerah-daerah di Indonesia sembari mencari tenun, juga memfoto produk yang kami punya adalah sebuah kebiasaan yang tidak henti-henti kami lakukan sampai hari ini.

Mendaki gunung pun kami tetap membawa kain tenun, begitu juga menjelajah pelosok negeri sampai ke Pulau Sumba dan Kupang. Semata-mata kami lakukan untuk mencari kain tenun Indonesia, dan mengenali motifnya yang berbeda-beda dari setiap pulau.

Proses yang panjang, namun begitu terasa cepat karena kami begitu menikmati perjalanan. Awal 2016, media instagram yang kami gunakan untuk mempromosikan produk tenun yang kami kembangkan ini hanya memiliki kurang dari 1.000 followers, dan hari ini, followers kami sudah mencapai angka 288.000 followers. Tentu ini adalah sebuah pencapaian yang luar biasa. Rasanya baru kemarin kami memulai ini, tapi sampai hari ini, apresiasi terus datang, dan bertambah.

Membudayakan Tenun sebagai Lifestyle

Perjalanan dalam Balutan Motif Tenun

Tenun bukan hanya menjadi identitas pribadiku, tapi juga identitas besar bangsa Indonesia. Kami, di Awan Ethnic Craft percaya, bahwa tenun Indonesia bisa jadi lifestyle yang membanggakan. Tenun bukan semua benda kuno, pun begitu juga bukan sebuah pakaian yang hanya bisa dipakai dalam acara-acara adat atau hajatan besar saja.

Tenun bisa dipakai dalam kegiatan sehari-hari, salah satunya adalah kegiatan traveling. Kami selalu ingin menanamkan pada siapapun yang menggunakan brand kami ini, agar selalu bangga memakain tenun asli Indonesia.

Satu hal lagi yang ingin ku sampaikan, kita mengerjakan sesuatu dengan hati yang tulus, aku percaya semua partikel di alam semesta ini akan bahu-membahu, bersatu untuk membantu mewujudkan cita-cita kita. Salam lestari, terus berjalan untuk memperkenalkan “Negeri Setengah Surga”, dan terus bangga pakai tenun asli Indonesia.

 

Awan (Awan Ethnic Craft) - 2020
My Wave Beginner Extreme solo traveling

10 COMMENTS

SHARE
Ldr_Lstyd
keren eiy
Yuniarto ( Tato )
Unik dan kelihatan seksi
agung
tq info ya
Dewandi amirullah
Indentitas
Heni Oen
tenun yamh harus dilestarikan
Heni Oen
warisan yang perlu dilestarikan
AHMAD ANSORI
eksis dengan melestarikan kain daerah
Falaq Madykautsar
cinta alam dan budaya mengikat menjadi satu kesatuan
agung
tq info ya
Darmawati
Mantappp infonya