Street Beefs, Klub Tinju Ekstrem di Halaman Belakang Rumah

Satu per satu orang mulai datang ke halaman belakang rumah. Mobil di parkir berjejer di depan, lalu berkumpul di backyard.

Street Beefs, Klub Tinju Ekstrem di Halaman Belakang Rumah

30 Menit kemudian kerumunan makin ramai. Mereka membuat satu lingkaran. Ada satu tenda putih  yang disiapkan berdiri di belakang kerumunan. Mereka masih sabar menunggu sampai akhirnya acara dimulai.

Bukan, ini bukan sedang menunggu garden party dimulai. Kerumunan ini didominasi para laki-laki yang gemar nonton pertarungan tinju. Kalau bingung, kok ada tarung tinju di halaman? Jawabannya, ini adalah arena Street Beefs. Klub tinju yang dilakukan di halaman belakang dengan alas tanah.

Street Beefs ini ramai dibincangkan di Amerika Serikat, tepatnya di Virgina. Jadi para pria di sana gemar menggelar arena tarung tinju di halaman belakang.

Ajang adu jotos ini semata-mata untuk menghilangkan stres dan menyelesaikan perselisihan atau masalah bagi peserta yang masuk arena tarung.

Berkembang Jadi Semacam Klub Tinju

Street Beefs, Klub Tinju Ekstrem di Halaman Belakang Rumah

Image source: Matt McClain/The Washington Post

Street Beefs ini merupakan arena tarung bebas. Chris Wilmore, adalah salah satu pelopornya. Kalau sudah bertanding, kerumunan dengan baju serba hitam berkumpul. Dia tidak banyak bicara, satu pukulan terus menerus menghujani tubuh lawan.

Si Wilmore ini adalah pelaku kriminal dengan kasus penyerangan dan kepemilikan narkoba. Selama di penjara kurang lebih 9 tahun dia belajar tinju di dalam bui.

Bagi dia arena Street Beefs ini sebagai wadah untuk melampiaskan emosi, atau menyelesaikan perselisihan dengan cara yang benar.

Dari mulai di halaman belakang, ide Street Beefs ini justru jadi semacam klub tinju. Wilmore melihatnya, arena tarung ini seperti zona aman di mana mantan narapidana dan pecandu bisa jadi bagian dari sesuatu.

Ratusan Tarung Tinju

Street Beefs, Klub Tinju Ekstrem di Halaman Belakang Rumah

Image source: Matt McClain/The Washington Post

Setidaknya sudah lebih dari 180 perkelahian yang digelar di arena Street Beefs ini. Dan di dalam platform Youtube sudah ada 142 juta kali penayangan.

Saluran YouTube Street Beefs kemudian dikelola oleh Wilmore pada tahun 2009. Sampai 2018 sudah ada 220 video perkelahian yang diunggah. Video paling banyak mencapai 20 juta penanyangan, dan itu dari video yang diunggah sejak tahun 2013.

Pertarungan ini tanpa ada tenaga medis profesional, tidak memerlukan pemeriksaan fisik, dan nggak ada yang namanya tes darah. Jadi orang-orang datang begitu saja ke arena Street Beefs, lalu berkelahi.

Mereka yang kumpul di halaman belakang ini biasanya buruh kasar, pekerja konstruksi, hingga tukang mebel. Ada juga anak muda yang menjajal Street Beefs ini.

Karena sudah didengar banyak orang, malah sampai ada yang terbang dari Milwaukee datang ke arena tarung hanya untuk melepaskan stres dan amarah. Banyak yang datang karena dendam, yang lain datang karena tantangan berkelahi. 'Icy' Mike Pesesko, seorang pelatih MMA dari South Carolina, datang ke Street Beefs untuk berkelahi.

Meski arena tarung ini berlandaskan dendam atau tantangan, di akhir laga tarung selalu ada jabat tangan antar keduanya. Dari sini, banyak juga yang menguji keberanian. 

Segala jenis cedera ditanggung masing-masing peserta, karena sebelum mulai perkelahian, petarung menandatangani formulir yang membebaskan Wilmore dari tanggung jawab jika ada luka. 

 

Source: https://melmagazine.com/en-us/story/in-the-virginia-street-beefs-fight-club-its-fists-up-guns-down
Extreme Action Beginner Extreme solo traveling

5 COMMENTS

SHARE
Agus Sungkawa
Buat para petarung yang punya nyali lebih
Bahar
Nice info
Heni Oen
kayaknya seru juga
Agung Sutrisno
Olah raga adu jotos yang semata-mata untuk menghilangkan stres hi hi
Yadi pitriadi
Menguji nyali banget....