Uniknya Tradisi Bau Nyale, Festival Nangkap Cacing di Laut Sumba Barat

Sejumlah orang mendadak merapat ke laut yang sedang surut di Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT). Mereka membawa senter dan ember.

Uniknya Tradisi Bau Nyale, Festival Nangkap Cacing di Laut Sumba Barat

Saat langit masih gelap, orang-orang ini ramai di pinggir laut. Matahari belum tepat di atas kepala. Sambil membawa ember, orang orang ini merogoh dengan tangan mengumpulkan objek yang mereka cari.

Ini bukan kegiatan iseng-iseng aja, tapi tradisi yang selalu dilakukan setahun sekali. Namanya Festival Bau Nyale. Secara singkat, tradisi kuno ini warga diminta untuk menangkap cacing Laut Lombok.

Asal Usul Tradisi Bau Nyale

Uniknya Tradisi Bau Nyale, Festival Nangkap Cacing di Laut Sumba Barat

Image source: tourismindonesia

Tradisi Bau Nyale telah diadakan sejak puluhan bahkan ratusan tahun yang lalu. Menangkap cacing langka ini sudah jadi tradisi yang nggak bisa lepas dari masyarakat Sumba Barat. 

Cacing ini langka karena memang cuma keluar satu tahun sekali di daerah. Makna menangkap nyale juga dimaknai kesuburan bagi masyarakat Sumba Barat.

Buat yang belum tahu, kata Bau sendiri merupakan bahasa Sasak. Sementara kata Nyale adalah jenis cacing laut yang konon biasa hidup di antara celah bebatuan karang di dasar permukaan laut.

Dipercaya Jelmaan Putri Mandalika

Uniknya Tradisi Bau Nyale, Festival Nangkap Cacing di Laut Sumba Barat

Image source: indonesia.travel

Nyale merupakan sebutan jenis cacing laut bagi orang Lombok yang dipercaya sebagai jelmaan Putri Mandalika. Konon putri cantik kerajaan itu memilih menceburkan dirinya ke laut lepas.

Karena kecantikannya itu, Mandalika tak ingin ada peperangan. Sebab dia tahu banyak pangeran datang memperebutkannya. Namun karena tidak ingin ada kerusuhan maka akhirnya diputuskan untuk terjun ke laut itu. 

Lewat tradisi ini, warga mengartikan sudah bertemu dengan putri Mandalika yang menjelma sebagai caci. Meski begitu, belum ada bukti kuat sejarah yang menyatakan Mandalika yang sangat melegenda ini.

Dimulai Sejak Dini Hari Jelang Pagi

Sentar jadi alat paling penting dalam tradisi ini. Butuh kesabaran supaya tangkapan banyak. Cacing pada umumnya licin dan lincah. So, mesti sabar-sabar buat mendapatkan banyak cincin.

Peserta yang ikut tradisi memburu cacing Nyale adalah warga setempat hingga masyarakat Lombok yang ingin berpartisipasi. Nyale merupakan sumber protein yang mengalahkan kandungan protein telur ayam dan susu sapi. Nyale juga mengandung karbohidrat, zat besi dan fosfor yang tinggi.

Buat masyarakat di sana, Nyale disantap dalam keadaan hidup. Karena kaya protein, makanya disanpam dalam keadaan masih hidup. Katanya rasanya manis lho. 

Meski begitu, Nyale juga biasa dimasak menjadi hidangan khas Lombok. Misalnya dimasak dengan kuah santan, dibungkus dan dijadikan pepes atau dicampur dengan sambal. Kalau di Sumatera Barat, sambal nyale disebut Bokosawu Nyale. Campuran membuat sambel ini biasanya menggunakan daun kemangi dan air jeruk. 

Terlepas dari itu, banyak tidaknya Nyale di tepi laut diyakini pertanda akan banyak tidaknya hasil panen para petani. Jadi kalau Nyale gemuk, sehat, dan berwarna-warni, itu tandanya akan mendapatkan kebaikan dan panen yang melimpah. Sedangkan jika nyale kurus dan pucat, justru diyakini akan datang malapetaka. 

 

source: https://travel.detik.com/domestic-destination/d-4397198/mengenal-tradisi-bau-nyale-yang-unik-dari-lombok
Urban Action Beginner Extreme solo traveling

5 COMMENTS

SHARE
Yuniarto ( Tato )
Ngeri sedap
agung
tq info ya
Sumardiyono
tanks infonya
Agus Sungkawa
Tradisi yang melegenda
Bahar
Nuce info