Memahami Tentang Passion, Artisan, dan Brand dari Cetul Leather Art

"Pengennya sih aku dan beberapa pengrajin di Indonesia bisa exibisi keluar untuk performing sekaligus jualan. Mengangkat nama Indonesia". Setidaknya itulah harapan dari seorang artisan Cetul Leather Art. Pria asal Semarang ini sudah 8 tahun merintis menjadi seniman atau pengrajin kulit. 

Memahami Tentang Passion, Artisan, dan Brand dari Cetul Leather Art

Nggak ada niatan dari awal untuk menjadi seorang artisan kulit. Pemantiknya sederhana, berawal dari keinginan memiliki dompet kulit buatan seorang artisan bernama Duane Ballard asal Amerika Serikat.

"Pengen beli dompetnya, 450 dollar, sekitar Rp 6 juta. Mau beli nggak mampu, liat cara buatnya di YouTube pede aja, kayaknya gua bisa bikin," kata pria yang akrab disapa Cetul itu.

Bekal dari berselancar di internet itu, Cetul coba-coba membuat ukiran di media kulit. Peralatan pun seadanya, nggak seperti sekarang yang sudah jauh lebih proper. Di awal-awal, alat untuk mengukir kulit dibuat sendiri dari paku yang seadanya.

Ketokan palu itu akhirnya pertama kali dimulai pada tahun 2012. Dari waktu ke waktu, proses hanya bermodalkan jaringan internet. Belajar mengukir kulit dari YouTube.

"Belajar ngukir kulit di YouTube, guru kita bersama, makanya jangan cari konten receh lah, cari yang inspiratif lah," kata dia.

Dimulai dari Passion

Memahami Tentang Passion, Artisan, dan Brand dari Cetul Leather Art

Image source: instagram.com/cetulleatherart

Lama kelamaan, ukirannya yang dibuat Cetul makin apik. Passion lah yang membawanya menjadi seperti sekarang. Memang benar kata orang, melakukan sesuatu dari hati dan bisa bikin senang, hasil akhirnya nggak pernah mengkhianati. Kuncinya jangan menyerah dan terus belajar.

Hal itu juga yang jadi pilar hidup dari seorang Cetul. Menariknya, gegara profesinya sebagai seniman kulit ini, banyak orang yang justru nggak tahu nama aslinya. Embel-embel Cetul ibaratnya sudah mendarah daging.

"Proses berjalan sendiri karena itu dibilang bisnis juga nggak, ke passion mungkin ya, karena sesuatu yang berkaitan dengan rasa itu menyenangkan. Akhirnya jalan jadi bisnis dan orang tahu aku sebagai Cetul daripada nama asli sendiri, namanya Cetul Leather Art," katanya.

Dari situ, Cetul mulai kepikiran untuk menggeser Cetul menjadi sebuah 'brand'. Di tahun 2014 Cetul mulai membuat branding. Cetul menjadi yang semulanya memproduksi olahan kulit untuk keperluan pribadi, kini menjadi lebih luar untuk didagangkan ke orang banyak.

Nggak mudah untuk membangun image Cetul Leather Art dan betul-betul mendalami dunia perkulitan. Malah dia mengakui selama proses bejalan lebih sering mengalami eror.

Meroket di Tahun 2014

Memahami Tentang Passion, Artisan, dan Brand dari Cetul Leather Art

Image source: instagram.com/cetulleatherart

Seperti yang sudah dijelaskan tadi, passion selalu berbuah manis. Di tahun 2014, event motor custom di Yogyakarta membuat nama Cetul Leather Art harum di mata dunia. Awalnya saat pameran itu ada seorang builder yang tertarik dengan karya Cetul.

Ketika itu Cetul membuat karya di atas kulit jok motor. Jok itu pindah tangan ke seorang builder asal California. "Dia juga baik karena dia post juga, dan itu kasih tau yg buat siapa, dari mana, dari Indonesia," kata Cetul.

Cetul Bukan 'Brand'

Memahami Tentang Passion, Artisan, dan Brand dari Cetul Leather Art

Image source: instagram.com/cetulleatherart

Meski sudah berusia 8 tahun, dia menekankan kalau Cetul Leather Art bukanlah sebuah 'brand' kebanyakan. Penekanannya lebih kepada sebuah seni mengukir di atas kulit. Itu makanya, setiap projek yang dibuat Cetul digarap sendirian.

"Cetul bukan brand, itu lebih ke artisan, bedanya ke manajemen mereka (brand) butuh second parties untuk pengerjaan atau penjualan apapun, sementara kalau aku artisan itu nggak pakai pihak kedua atau ketiga, itu aku kerjain sendiri itu beda artisan dengan brand. Semua masih aku kerjain sendiri, cuma aku punya Cetul Leather Art manajemen itu ada pihak kedua dan ketiga, ada workshop, kita buat untuk brand-brand di luar," kata dia.

Kedepannya, Cetul lagi menggodok dengan salah satu brand lokal untuk membuat sneakers yang bisa dipakai untuk main skateboard dan motoran. Jelas, signature dari Cetul bakal kental banget di sepatu ini.

Harapannya ke depan adalah dia ingin para pengrajin di Indonesia bisa performing di luar negeri. Membawa nama Indonesia lewat karya sentuhan tangan. 

"Nggak cuma kulit, apapun. Banyak pengrajin yang kemampuannya luar biasa. Kita coba sewaktu-waktu ke luar, perform di satu event secara live kita juga jualan, biar dunia internasional taulah," kata dia.

Cetul berpesan ke anak muda yang mau berkarya kalau kuncinya ada jangan pernah berhenti untuk belajar. Proses selalu membawa kebaikan kok.

"Yang pasti nggak ada yang instan, jangan lihat aku sekarang, pasti pikirnya pengen jadi Cetul, tapi lihat bagaimana aku bisa seperti sekarang, lihat prosesnya, karena ini jalan panjang, jangan mudah menyerah, yakin, itu pasti. Belajar tak pernah berhenti. Proses belajar bisa dari mana saja," kata dia.

Jatuh bangun itu hal yang biasa. Namanya juga sedang berusaha, gagal itu pasti pernah dialami, termasuk Cetul sendiri. Tapi dia mengingatkan lagi untuk jangan berhenti belajar dan menerima kegagalan. "Terima saja, Tuhan ada," kata Cetul.

Beginner Extreme solo traveling

26 COMMENTS

SHARE
Sumardiyono
tank infonya
Helmi salim wachdin
Super seni
dimas
mmmaaannnntttaaaapppp...
Muhammad Romli
Nice info
Umar
thank you...
Wafiroel N
thanks infonya
agung
tq info ya
Agus Sungkawa
nice informasi
Hilman rusdiyanto
Kereeeennn
muslimin
Info menarik