Road Trip with Strangers: 30 Hari Menjelajah Australia

Salah satu alasan kenapa solo traveling menjadi bagian penting dalam hidup saya adalah karena selain bisa menemukan dunia, traveling bagai sebuah sesi terapi untuk menemukan eksistensi diri. Ketika berjalan sendirian, sebuah perjalanan menjadi representasi arti kebebasan. Bebas untuk menentukan arah tujuan atau berhenti jika diinginkan. Bebas dari segala campur tangan.

Namun, tidak selamanya situasi dan kondisi terjadi seperti yang saya kehendaki. Ketika saya tiba di Perth, kota yang “terkucil” di sudut barat daya Australia, alam Australia yang keras dan luas menjadi tantangan besar untuk berpindah seorang diri. Selain Perth dan Darwin, hampir semua kota besar lainnya tersebar di sisi timur. Dengan tiga buah gurun besar terbentang di tengah-tengahnya, pilihan transportasi publik dari Perth menuju Melbourne hanya dengan pesawat udara. Tetapi jika tidak ingin melewatkan keunikan alam dan keragaman hayati yang hidup di setiap jengkal tanahnya, pilihannya hanya satu: road trip!

Karena tidak memiliki kendaraan, maka saya memutuskan untuk mencari tumpangan melalui sebuah situs pencari rekan seperjalanan. Di sana, sejumlah pejalan yang berasal dari berbagai negara menawarkan beberapa kursi di mobil atau campervan yang mereka miliki, kepada siapa saja yang memiliki tujuan serupa. Bukan berbagi bensin yang mereka cari, tetapi juga pengalaman menjelajah berbagai pelosok Australia dan keseruan yang akan dibagi bersama.

Setelah pencarian selama satu minggu, akhirnya situs tersebut mempertemukan saya dengan sang pemilik mobil, Thomas seorang backpacker berkebangsaan Prancis serta dua calon penumpang lain bernama Aymeric yang juga berkebangsaan Prancis dan Judith dari Jerman. Tanpa saling mengenal sebelumnya, kami sepakat untuk “hidup bersama” di dalam  mobil station wagon tersebut selama 30 hari menuju Melbourne.

Kami berangkat di awal bulan Februari tanpa itinerary. Setiap rute, tempat bermalam hingga pantai atau taman nasional yang hendak dijelajahi akan didiskusikan setiap pagi. Sebelum senja tiba kami akan berhenti di rest area sederhana di tepi jalan untuk mendirikan tenda, menyiapkan makan malam dan duduk tenang menanti bintang di kegelapan. Hari demi hari dilalui dengan berjalan memasuki hutan, memanjat pohon atau tebing batu, bermain-main santai di pantai berpasir putih. Sebuah kehidupan sederhana yang jauh dari segala hingar-bingar kota.

Di satu sisi, kekosongan dan alam liar Australia memberikan kekuatan untuk hidup dalam momen dan terhubung dengan diri sendiri. Di sisi lain, road trip ini juga membangunkan kenyataan “brutal” dari sebuah perjalanan yaitu memaksa setiap orang kehilangan segala kenyamanan yang terasa familiar. Selain harus pandai-pandai menyesuaikan perbedaan keinginan dan karakter setiap orang asing di mobil ini, kami juga harus menghadapi segala permasalahan tak terduga seperti cuaca, salah membaca peta, kehabisan bensin di tengah padang pasir, hingga binatang liar yang bisa membahayakan perjalanan.

Pada akhirnya, bukan destinasi destinasi maupun tempat indah yang menjadikan sebuah perjalanan menjadi berkesan, melainkan orang-orang yang ditemui sepanjang perjalanan, upaya untuk beradaptasi dengan keadaan, dan kesempatan untuk mengenal diri sendiri lebih dalam.

1 COMMENTS

SHARE
inspiratif