Sepenggal Kisah dari Hamparan Pasir di Bromo

Sepenggal Kisah dari Hamparan Pasir di Bromo LANGIT masih gelap gulita, dan mata masih terasa berat akibat tidak tidur di perjalanan semalam. Tetapi dinginnya pagi dan keinginan untuk menyaksikan matahari terbit di puncak Pananjakan, menarik-narik saya dan beberapa kawan untuk terus melanjutkan perjalanan.

Pukul tiga pagi mobil kami tiba di pintu Tosari, Malang. Jeep- jeep berderet menunggu para pengunjung yang ingin mengikuti sunrise tour ini. “Harus naik jeep ya, pak?” tanya saya pada seorang bapak paruh baya yang cuma memakai kaos dan sarung di tengah dinginnya pagi ini. “Betul sekali, karena nanti jalan yang dilewati bukan jaan biasa lagi, tapi udah mulai naik gunung, harus pake mobil yang 4WDm. Mobil biasa nggak mungkin sampai atas,” ujar bapak itu, Pak Kasim namanya, warga asli Tengger yang selanjutnya akan menjadi pemandu kami selama di Taman Nasional Bromo-Tengger Semeru ini.

bromo-wira-9

Mobil jeep yang kami tumpangi pun melaju kencang, menembus hutan lebat Pananjakan dengan kabutnya yang tebal. Suasananya mengerikan, jika tidak ingin disebut mistis. Jalan berbelok curam dengan jarak pandang tidak sampai lima meter membuat jantung saya berdebar. Ditambah Pak Kasim mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. “Apa kelihatan jalan-nya kalau kabut tebal begini, pak?” tanya saya heran. “Bapak sudah hapal jalannya mas, setiap pagi memang seperti ini kondisinya,” jawab si bapak santai sambil menghisap rokoknya. Saya cuma bisa meringis sambil terus berpegangan ke pintu mobil.

Suhunya pasti sekitar 10 derajat Celsius, lebih dari itu dua lapis jaket tebal saya pasti tidak mampu menahan dinginnya Bromo di pagi buta ini. “Kita sudah sampai di Pananjakan,” ujar pak Kasim. Di depan kami jeep-jeep sudah parkir memanjang rapi yang juga membawa para pemburu sunrise. Di sini banyak tersedia warung-warung yang menjajakan makanan, terlihat juga beberapa orang menawarkan jaket-jaket tebal untuk disewakan. Di ketinggian seperti ini, mie rebus hangat dengan telur adalah sebuah keniscayaan!

Hari masih gelap, tetapi ratusan orang sudah antusias menyambut atraksi matahari terbit di Puncak Panan- jakan. Puluhan tripod dengan lensa-lensa putih panjang siap menerkam wajah-wajah Bromo. “Kalau bulan Juni biasanya setiap pagi selalu cerah. Bromo, Batok, dan Semeru semua terlihat dari Pananjakan,” pak Kasim menjelaskan. Di sini, tidak hanya wisatawan lokal yang memenuhi area Pananjakan, tetapi wajah-wajah bule juga tidak sedikit yang berada disini. Maklum, selain Bali, icon Indonesia yang terkenal di luar sana adalah Bromo. Bahkan buku panduan perjalanan Lonely Planet mendeskripsikan Bromo seperti ini, “A lunaresque landcape of epic proportions and surreal beauty, Gunung Bromo is one of Indonesia’s most breathtaking sights.”

bromo-wira-6

Waktu menunjukkan pukul 05.25 pagi, mentari mulai menampakan dirinya namun kabut masih tebal. Orang-orang mulai gelisah, tetapi tiba-tiba sedikit semburat mentari muncul! “Yeahhhhh!!”, semua bersorak sambil bertepuk tangan. Sesaat kemudian, matahari tertutup kabut kembali. “Ooooowwh...,” penonton pun kecewa. Kejadian terus berulang beberapa kali, dan setiap matahari mun- cul, dengan serempak para sunrise hunter ini menjadi seperti penonton acara Empat Mata-nya Tukul Arwana. “Eaaaa eaaa..,” sahut orang-orang secara serempak saat matahari muncul, sebelum kemudian menghilang kembali. Ini adalah drama paling lucu sepanjang sejarah saya menyaksikan sunrise. Akhir cerita, kabut tebal menutupi, dan pandangan postcard klasik Bromo tidak bisa terlihat. Begitulah alam, kita tidak bisa menebak apa yang akan terjadi.

bromo-wira-3

“Mau ke Bromo dulu atau ke Lautan pasir?” tanya pak Kasim. Setelah sedikit kecewa dengan atraksi sunrise yang gagal, saya memilih ke Lautan Pasir, dengan alasan bahwa orang lain biasanya akan ke Gunung Bromo terlebih dahulu, sehingga di Lautan pasir pasti akan sepi!

Perlahan jeep mulai menuruni Pananjakan. Anehnya, tiba-tiba kabut menghilang, berganti dengan panas terik matahari. Melihat ke atas, kabut masih tebal menutupi Pananjakan, ternyata kami telah menembus awan. Gu- nung Bromo dan Gunung Batok terlihat angkuh berdiri di kejauhan sana. Pemandangan lautan pasir beserta savanna yang luas mengingatkan saya pada film Jurassic Park. Jurang-jurang menganga lebar di sepanjang jalan turun membuat saya selalu mengingatkan pak Kasim untuk berhati-hati.

bromo-wira-5

“Dulu pernah ada mobil Kijang yang nekat lewat jalur ini, hampir terperosok ke jurang karena tidak kuat,” pak Kasim bercerita. Wajar, tanjakan di lembah-lembah Bromo nyaris 60 derajat. Cuma mobil four wheel drive, mobil yang semua rodanya ikut bergerak, yang bisa melewati rintangan ini. “Makanya sekarang mobil pribadi sudah tidak boleh masuk ke Lautan pasir, cuma boleh sampai Cemoro Lawang atau Tosari,” lanjutnya bercerita. Sesaat kemudian saya sudah sampai di dasar kaldera Bromo. Kaldera yang terbentuk dari letusan dahsyat Bromo berabad-abad lalu ini mempunyai lebar kurang lebih 16 kilometer. Uniknya, topografi di kaldera ini berbeda-beda. Di sisi utara, di dominasi oleh lautan pasir. Sedangkan di sisi selatan, bukit-bukit kecil berwarna hijau dan savanna mendominasi. Jeep berhenti di tempat yang orang sebut sebagai bukit Teletubbies. Tidak heran, memang bukit ini mirip sekali dengan tempat tinggal Poo dan kawan-kawannya!

bromo-wira

Angin padang yang bertiup membuat ilalang-ilalang di savanna Tengger membuat suasana makin rindang walapun hawa panas mulai menyengat, sementara debu-debu masih beterbangan mengikuti irama angin. Dugaan saya betul, belum ada wisatawan yang datang kemari. Saya pun puas menikmati angin sepoi-sepoi pagi itu.

Jeep melanjutkan perjalanan kembali, tidak sampai lima menit topografi kaldera sudah berubah menjadi lautan pasir. “Daerah ini bernama Pasir berbisik,” pak Kasim memberitahu saya. Dinamakan demikan karena lokasi ini pernah dipakai syuting film Pasir Berbisik yang dibintangi Christine Hakim tahun 2001 itu. Berkat film tersebut, Bromo menjadi sangat terkenal di kalangan wisatawan. Seperti Belitung yang ikut terkenal karena film Laskar Pelangi. Hari semakin siang, kami melan- jutkan perjalanan menuju Gunung Bromo. “Saya turun disini saja pak,” saya berujar.

“Lho, itu masih jauh mas gunungnya,” kata Pak Kasim. Kemudian saya pun turun di tengah Lautan pasir. Saya pikir, Bromo akan lebih nikmat dijelajahi dengan berjalan kaki! Dari kejauhan terihat Gunung Batok dan Bromo berdiri dengan angkuh. Pura Luhur poten diantara keduanya menambah kesan magis gunung ini. Setelah berjalan beberapa ratus meter di lautan pasir, saya telah tiba di depan Gunung Bromo. Terlihat banyak sekali ojek disini. Bukan ojek motor, tapi ojek kuda! Kuda-kuda ini akan mengantarkan kita ke tangga menuju kawah Bromo. Selanjutnya harus tetap dengan langkah sendiri.

bromo-wira-7

Hati-hati, pasir di Bromo membuat ‘ranjau’ para kuda menjadi tidak terlihat. Tangga menuju puncak kawah Bromo mencapai sekitar 250 buah, jika saya tidak salah hitung, cukup membuat nafas saya terengah-engah. Tapi saat mencapai puncak kawah, kita akan disuguhkan pemandangan yang betul- betul mempesona. Terlihat lembah-lembah curam yang mengelilingi kaldera Tengger, dilapisi kabut tips yang membuat pemandangan makin surreal. Sebetulnya, lautan pasir yang luas ini dahulunya adalah kawah. Setelah letusan dahsyat berabad silam, tinggal kawah yang di gunung Bromo yang masih aktif hingga sekarang. Jadi, kawah Bromo adalah kawah di dalam kawah!

Di kawah Bromo, jelas sekali terlihat kawah yang sangat aktif. Masyarakat Tengger seringkali memberikan sesaji ke kawah ini, terlebih jika pada hari Kasada. Upacara Kasada yang biasa ada pada bulan Juli menjadi daya tarik tersendiri selain pemandangan alam Bromo. Oleh karena itu, upacara adat itu lebih mirip sebuah Festival, banyak sekali orang yang tumpah ruah pada saat itu.

Setelah puas menikmati panorama Bromo yang eksotis, kami kembali ke jeep untuk pulang. Karena matahari sudah meninggi, saat kami melewati jalan pulang, tanjakan pasir di lembah Bromo terlihat dengan sangat jelas elevasinya. Terlihat jauh lebih mengerikan daripada malam hari. Mesin jeep masih meraung-raung kesulitan, sementara saya masih berpegangan erat ke pintu mobil, sambil sesekali berdoa.

bromo-wira-3

Wilderness
SHARE
NO COMMENT YET, BE THE FIRST!