Stalaqtit dan Stalagmit di Pulau Kei Udah Coba Belum Bro?

Stalaqtit dan Stalagmit di Pulau Kei Udah Coba Belum Bro? Pertama mendengar nama Kei, yang terbayang di benak saya adalah sosok Jhon Kei yang sudah malang melintang di dalam dunia "persilatan" negeri ini. Sosok beliau itulah yang sudah mengintimidasi alam bawah sadar saya. Alam bawah sadar yang sudah di cuci oleh tayangan-tayangan maupun berita yang terkadang sudah tidak ada lagi bobotnya.

Namun ketika tiba waktunya saya kesana, yang terbayang justru adalah hamparan pasir putih pantai yang sering saya lihat di beragam sosial media yang beredar. Jajaran pohon kelapa yang rapi dan bersamaan meliuk seolah sedang memperagakan sebuah tarian alam dengan koreografer yang sangat sempurna sekali. Belum lagi air lautnya yang jernih, membuat ingin rasanya bisa terbang secepatnya ke kepulauan yang masuk di wilayah Maluku ini.

Explore KEI

Terbang ke Kei sudah tidak susah lagi. Ada beberapa maskapai yang sudah melayani rute dari Ambon maupun Sorong. Bahkan maskapai kebangaan nusantara ini, Garuda Indonesia juga sudah melayani rute dari Ambon maupun ke Sorong juga. Jadi tidak ada alasan untuk masalah transportasi ketika hendak mengunjungi Kei.

Dahulu memang akses menuju ke kepulauan Kei ini masih agak susah. Hanya pesawat-pesawat perintis saja yang terbang ke langit kepulauan Kei. Mengharap dari jadwal kapal dari Pelni, masih sangat jarang sekali. Namun semenjak pembangunan di Kepulauan Kei semakin pesat, semakin baik pulalah dampaknya  terhadap jalur transportasi ini. Bandara di perbaiki sehingga pesawat jenis ATR dan Bombardier sudah bisa mendarat.

Gegap gempita pembangunan mulai terasa sejak terjadi pemekaran wilayah di kepulauan Kei ini. Dahulu hanya ada satu kabupaten yaitu Maluku Tenggara yang beribukota di kota Tual. Nah sekarang ternyata ada pemekaran wilayah. Kota tual sudah mempunya wilayah administrasi sendiri sebagai Kotamadya. Sedangkan Maluku Tenggara ibukotanya bergeser ke Langgur, tempat dimana terdapat bandar udara. Kedua wilayah ini di batasi oleh sebuah selat kecil yang sekilas malah terlihat seperti sungai.

Jam di pergelangan saya masih menunjukkan pukul setengah lima pagi. Namun mata sudah tidak mau terpejam lagi. Hal ini akibat dari aksi tidur cepat yang sudah jarang sekali saya lakukan di beberapa tahun terakhir ini.

Laut di depan cottage tempat saya menginap terlihat begitu tenang sekali. Riak-riak ombak kecil berusaha merusak keheningan yang tersaji di pagi buta itu. Berteman secangkir kopi panas yang saya buat, duduk di pasir pantai sambil memandangi langit yang mulai kemerahan, adalah obat yang paling mujarab untuk membunuh stress. Saya tidak melihat siapapun di sepanjang pantai Ngurbloat pagi itu. Memang letak bungalow yang di kelola oleh om Bob ini, letaknya ada di ujung. Jadi sebuah pagi yang sangat tenang mengawali perjalanan saya di kepulauan Kei yang ternyata bukan hanya ada jhon Kei saja di pulau ini.

Ada apa saja di Kepulauan Kei?

Kei itu pantainya keren!

Explore KEI

Ngomongin Maluku gak sahih tanpa ngomongin Pantai. Dan kepulauan Kei ini juga menawarkan pesona pantai yang sungguh luar biasa sekali. Sebut saja pantai Ngurbloat, sebuah pantai pasir putih yang lembut, bersih dan panjang sekali. Bahkan karena saking panjangnya, pantai ini masuk ke wilayah dua kampung.

Dari pertama melihat foto pantai ini di sosial media sahabat saya, sepertinya tercetus bahwa saya harus berjalan kesini. Melihat dengan mata kepala saya sendiri bagaimana keindahan Kepulauan Kei yang baru menggeliat ini. Dan benar-setelah melihat dengan mata kepala saya sendiri, julukan “mutiara hitam dari timur” yang di sematkan untuk Maluku tidaklah salah. Mutiara hitam, yang justru dengan kehitamannya menyimpan nilai tinggi.

Explore KEI

Jajaran pohon kelapa yang berjajar rapi-memagari pantai yang hampir tiga kilometer panjangnya ini. Saya berjalan menyusur dari ujung-keujung, melihat beragam aktifitas masyarakat-di area pantai yang ditinggali oleh warga. Lembar-lembar daun kelapa dipakai untuk menjemur rumput laut yang banyak dibudidayakan warga di sekita pantai. Menurut keterangan Mario, pemuda lokal yang menemani saya selama berjalan di kepulauan Kei, di ujung pantai ini ada sebuah laguna. Namun sayang ketika saya hendak kesana, air laut sedang pasang. Jadi saya tidak bisa mencapainya dengan hanya berjalan kaki. Butuh sewa perahu untuk menyusur laguna yang kata om Bob indah itu.

Tipikal ombak di pulau ini relatif kecil. Jadi sangat cocok untuk keluarga yang ingin bermain air. Kesempatan langka seperti itu wajib di manfaatkan dong. Menceburkan diri di laut-yang sepi tanpa ada orang lain itu asiknya luar biasa kawan. seperti memiliki pantai pribadi, saya bebas berenang kesana-kemari tak ada yang menggangu.

Explore KEI

Explore GOA!

Bermain air tidak hanya bisa dilakukan di pantai ini saja. Beranjak tidak jauh dari kota Tual, saya menemukan sebuah Goa dengan airnya yang jernih sekali. Segar sekali sepertinya berenang di lokasi itu. Namun sayang, ternyata saya datang terlalu pagi, jadi mulut goa masih tertutup bayangan, sehingga memotret-pun agak susah rasanya. Waktu yang tepat mengunjungi goa ini adalah siang hingga sore hari. Tapi ketika sore datang, akan ada beberapa warga yang mandi di dalam goa ini. Airnya jernih dengan paduan stalaqtit dan stalagmit membuat saya betah berlama-lama disana. Tapi berada di sebuah Goa yang konon kata masyarakat banyak dihuni oleh roh jahat ini sendirian, adrenalin terpacu juga rasanya. Namun ketika kita datang dengan niat baik, ya saya asik aja berenang di goa yang gelap itu. Airnya segar sekali kawan. Cocoklah buat kalian yang menginginkan ritual awet muda ha ha.

Ada satu lagi area untuk bermain air di Kepulauan Kei ini. Terletak di desa Evu, maka pemandian ini dinamai kolam pemandian Evu. Mata air segar yang mengalir deras ditampung dalam sebuah kolam besar yang  biasa digunakan warga untuk mandi. Segar sekali airnya. Melihat bocah-bocah bermain salto-kok rasanya saya terpancing ya. Mencoba mengambil awalan untuk melakukan salto, sayapun mencoba dengan sedikit keraguan. Apakah saya masih bisa melenting keatas untuk salto dan mendarat dengan sempurna ke dalam kolam. Ternyata percobaan saya kurang berhasil. Badan menghempas kepermukaan air-hingga hanya  sedikit rasa sakit yang saya dapat. Untunglah hanya bocah-bocah kecil itu saja yang menertawakan saya.

Explore KEI

Tak menyerah sampai disitu, sayapun kembali mencoba dan mencoba lagi. Tapi memang selalu gagal ha ha. Mungkin tempat awalannya kurang tinggi. Soalnya saya biasa saltonya dari atas ketinggian lima meter seperti yang dipakai oleh para peloncat indah. Tapi jangan membayangkan saya akan melenting dengan indah ya, yang ada hanya langsung terjun bebas kedalam kolam yang dalamnya hingga lima meter ha ha.

Touring keliling pulau!

Kepulauan Kei dibagi kedalam dua bagian. Ada Kei Besar dan Kei Kecil. Nah kebetulan saya hanya mengexplore kepulauan Kei kecil saja. Untuk merasakan sensasi petualangan yang cihui, sewalah motor dan berkelilinglah dengan motor. Peta hanya butuh di lirik saja, selebihnya bertanyalah kepada penduduk sambil berinteraksi dengan mereka. Warga Kepulauan Kei ramah-ramah kok. Mereka akan menunjukan jalan kemana daerah  yang akan kita tuju.

Jalanan yang ada di kepulauan Kei kecil juga sudah relative bagus. Bahkan sudah ada pembangunan jalan baru yang di sebut warga sebagai jalan tol. Memang pengerjaan jalan ini belum sepenuhnya selesai. Tapi memang jalanannya cenderung lurus dan lengang.

Jangan heran ketika di beberapa rumah musik dimainkan dengan sangat keras. Bahkan lagu goyang dumang saya dengar bertalu-talu dengan hentakan volume yang sangat kencang. Tapi memang begitulah warga sini menyemangati diri mereka dalam menjalankan kegiatan sehari-hari. Lagu-lagu ambon dari nona manis Mitha Talahatu juga sering saya dengan sepanjang perjalanan.

Explore KEI

Yang perlu saya garis bawahi dalam perjalanan kali ini adalah, masyarakat Kei itu penolong. Pelajaran buat teman-teman yang ingin menyewa motor untuk berkeliling pulau, pastikan kondisi ban motor tidak gundul. Akibat kelalaian itu, saya harus mendorong motor sejauh lebih dari empat kilometer. Karena memang tambal ban disana sangat susah dijumpai. Dan msekipun ada, bisa dipastikan jam empat sore mereka sudah tutup. Untunglah seorang bapak yang melihat saya kewalahan dengan ban belakang yang terseok-seok. Saya ditunjukkan rumah seorang kakek yang letaknya jauh dari jalan raya, sehingga saya tidak melihatnya. Padahal lokasi itu tadi sudah saya lewati. Dan sore itu saya membakar banyak sekali kalori dalam perjalanan pulang setelah eksplore kepulauan Kei.

Senja yang damai IMG_1434

Percayalah pada saya bahwa kepulauan Kei itu tidak seseram kisah Jhon Kei yang sering kita lihat dramatisasinya di televisi. Saya melihatnya  kecantikan kepulauan Kei ini seindah senyum nona-nona Tual yang pasti akan tersenyum manis ketika kita menyapanya.

Selamat ber-Adventure menikmati keindahan Kei kawan.

Wilderness
SHARE
NO COMMENT YET, BE THE FIRST!