NOV 5, 2015

Bertualang, Menjelajah Hutan Kalimantan Demi Bertemu Dengan Orangutan


Kruing, dengan Taman Nasional Sebangau-nya mungkin tidak terlalu terkenal seperti Tanjung Puting. Pun sebenarnya kedua tempat ini memiliki daya tarik yang sama, yaitu tempat tinggal Orangutan di Kalimantan. Yang membedakan adalah, di Tanjung Putting pengunjung bisa mengamati orang utan dengan mudah, yaitu dengan naik Perahu Kelotok. Sementara di Kruing saya harus berjibaku trekking masuk hutan lebat Kalimant an selama beberapa jam, baru kemudian bisa bertemu Orangutan.

Ada jalur setapak, namun sebagian besar adalah jalanan berupa lahan gambut

“Nanti, cuma trekking satu jam kok” Kata-kata ini mungkin tidak akan pernah saya lupakan seumur hidup. Perlu dicatat, satu jam pemandu setempat dan satu jam versi saya akan sangat berbeda jauh. Karena kemudian saya tahu, saya harus menghabiskan beberapa jam trekking di hutan Taman Nasional Sebangau. Pun kalau sebelumnya saya diberitahu kalau trekking menuju tempat pengamatan Orangutan hanya akan memakan satu jam perjalanan saja.

Sebelum trekking masuk ke hutan Taman Nasional Sebangau, saya harus menempuh perjalanan sejauh 170 Km, berkendara dengan mobil dari Palangkaraya menuju Desa Kruing. Desa ini memang salah satu pintu masuk menuju Taman Nasional Sebangau di Kalimantan Tengah, tempat pengamatan Orangutan yang masih liar berada.

Di Kruing ini ada sebuah taman nasional yang juga merupakan rumah Orangutan di Kalimantan. Iya, di Taman Nasional Sebangau ini terdapat Orangutan yang hidup secara liar lho! Tidak seperti di kebun binatang, atau penangkaran dimana para Orangutan terpenjara dibelakang pagar.

Disini, saya harus trekking dulu masuk ke dalam hutan, secara perlahan, selangkah demi selangkah, hingga bisa bertemu dengan mereka. Perlu usaha yang keras memang, tapi kapan lagi bisa melihat dari dekat salah satu fauna yang katanya masih kerabat dekat manusia ini? Nggak bakal rugi meski bakal kecapekan!

Apalagi saya sangat excited dan tertantang! Ini adalah kali pertama saya masuk ke dalam hutan yang masih liar di Taman Nasional Sebangau. Selain itu destinasi untuk petualang yang satu ini adalah salah satu destinasi di Kalimanan yang membuat hati saya membuncah.

Karena disini saya tak hanya bisa melihat alam liar Kalimantan yang sebenarnya, namun saya bisa bertemu secara langsung Orang Utan. Setelah ini saya tak hanya mengenal mereka lewat cerita atau ensiklopedia saja. Saya akan bertemu langsung!

Untuk menuju tempat dimana si Orangutan ini hidup, memerlukan perjuangan yang lumayan berat. Apalagi ketika musim kemarau sedang berlangsung seperti sekarang ini. Camp WWF, titik awal pengamatan Orangutan yang ada di tengah Taman Nasional sebangau menjadi susah diakses. Ketika air sungai sedang surut, perahu tidak bisa mencapai camp. Dibandingkan dengan ketika musim hujan, untuk menuju ke camp WWF tadi hanya tinggal naik perahu dengan estimasi perjalanan sekitar 1 jam dari dermaga terdekat.

Dari dermaga ini, sampai ke WWF Camp perlu trekking selama 3 jam

Sial memang, ketika musim kemarau seperti ini air sungai kering kerontang, sehingga perahu dari Dermaga Baun Bango, yang ada di Kecamatan Kamipang, Desa Katingan, Kalimantan Tengah hanya bisa mengantarkan sampai muara Sungai Punggu Alas yang merupakan muara sungai tempat perjalanan menuju camp WWF.

Lokasi Camp WWF yang berada di kawasan Danau Punggu Alas sendiri masih berada sekitar 4 km dari Sungai Katingan. Itu artinya, mau tidak mau, dari sini saya harus melanjutkan trekking selama satu jam versi porter, atau 2 hinga 3 jam perjalanan versi manusia kota seperti saya. Asik kan? :D

Tunggu dulu, itu masih belum ada apa-apanya, karena saya juga harus trekking di hutan hingga malam hari karena datang terlalu sore di Desa Baun Bango, Kruing yang merupakan pintu masuk menuju Taman Nasional Sebangau. Hasilnya, selama kurang lebih 1 jam saya harus meraba-raba, sambil terus waspada di tengah hutan rimba dengan cahaya penerangan seadanya hingga ke camp WWF Punggu Alas. Entah berapa kali saya mendengar lolongan hewan malam yang kadang membuat bulu kuduk merinding, adrenalin melengking dan akhirnya membuat saya selalu waspada.

Sepanjang perjalanan hingga sampai ke camp WWF Punggu Alas saya hanya berharap tidak bertemu binatang buas atau menginjak ular yang sedang malam mingguan saja. Manusia yang bisa berpikir saja bisa begitu galak kalau diganggu waktu malam minggu-nya. Bagaimana jika ular yang taunya cuma bisa cari makan dan tidur itu terganggu malam minggunya? Ahh, sudahlah! Yang jelas, perjalanan menembus hutan Taman Nasional Sebangau ini ternyata berjalan dengan aman hingga pulang.

Camp WWF Punggu Alas ini sebenarnya adalah rumah untuk para peneliti yang ingin meneliti kehidupan flora dan fauna yang ada di dalam Taman Nasional Sebangau. Karena, Selain Orang Utan, Taman Nasional Sebangau yang luasnya sekitar 568.700 hektar ini juga memiliki banyak penghuni lain. Namun, selain peneliti dan petugas dari WWF, pengunjung awam untuk tujuan wisata edukasi seperti saya juga diperbolehkan dengan persyaratan khusus.

Mengenai flora dan fauna yang ada disini, dari wikipedia sih saya mendapatkan informasi kalau ada sekitar 808 jenis tumbuhan, 15 jenis mamalia, 182 jenis burung, dan 54 spesies ular yang menjadikan Taman Nasional Sebangau sebagai rumah idaman mereka. Meskipun saya kurang tahu data pastinya, namun sepertinya data ini bisa dipercaya.

Karena selama blusukan ke dalam hutan lebat Taman Nasional Sebangau, saya banyak menemukan tanaman yang belum pernah saya ketahui juga beberapa hewan yang sebelumnya hanya bisa saya lihat di ensiklopedia saja. Tentunya tidak ketinggalan pula, saya akhirnya bisa bertemu dengan Orang Utan di alam liar seperti yang diinginkan dong! Meski hanya melihatnya dari jauh :)

Buah ini salah satu makanan kesukaan orang utan

Memang untuk menemui Orang Utan di Taman Nasional Sebangau ini lumayan susah. Kata bapak-bapak dari WWF, biasanya mereka mulai mencari dan mengikuti Orang Utan mulai dari Jam 4 pagi hingga menjelang siang. Karena biasanya pada jam-jam segitu mereka mulai mencari makan. Bapak-bapak dari WWF ini memang berpengalaman, karena itu mereka juga tahu dimana lokasi Orang Utan mencari makanan.

Beruntung karena saya dan tim Terios 7 Wonders yang lain adalah tamu spesial, jadi kami nggak perlu lagi mencari Orang Utan dari pagi buta. Kami hanya tinggal pergi ketika orang utan sudah diketemukan. Dan, kira-kira tepat jam 8 pagi waktu Kalimantan Tengah, kami baru mulai trekking menuju tempat orang utan berada yang berjarak sekiar 900 meter dari Camp WWF Punggu Alas.

Iya, lagi-lagi saya harus trekking melewati jalur yang didominasi oleh akar pepohonan khas hutan tropis yang cukup menyusahkan untuk berjalan. Namun, saya malah begitu menikmatinya, karena trekking di hutan kalimantan itu serasa sedang berada di film Jurrasic Park dimana saya harus berhati-hati dengan dinosaurus yang bisa menerkam kapan saja. Bedanya, kalau di Taman Nasional Sebangau ini saya hanya harus berhati-hati agar tidak menganggu Orang Utan yang sedang makan.

Julia dan Juliana adalah dua Orang Utan yang berhasil saya temui di Taman Nasional Sebangau. Mereka ini adalah Orangutan yang kebetulan posisinya paling dekat dari camp WWF Punggu Alas tempat saya  menginap semalam. Mereka berada hanya berjarak 900 meter dari camp, atau sekitar 30-an menit jalan kaki menembus hutan tropis taman nasional ini.

Meskipun nggak pake lensa tele, cukup senang bisa mengabadikan Orang Utan di alam liar

Waktu pertama kali saya lihat, mereka berdua terlihat sedang asik makan ujung pepohonan. Nampaknya mereka sedang makan dengan bahagia karena di pohon itu sedang ada banyak Buah Karipak yang merupakan salah satu makanan kesukaan mereka. Karena penasaran, saya juga mencoba mencicipi buah ini dong! Ternyata rasanya pahit, entah kenapa mereka begitu suka! Mungkin kalau rasanya manis, bakal rebutan juga deh sama manusia.

Meskipun terlihat tenang, mereka berdua seperti terganggu dengan kehadiran kami. Seakan kami adalah penjajah yang ingin merebut daerah kekuasaan mereka. Karena itu sesekali mereka menggoyang-goyangkan pohon tempat mereka berada, sebagai rasa ketidaksukaan mereka dengan kehadiran kami.

Puncaknya adalah, ketika si ibu Orangutan yang ukurannya lebih besar dari manusia dewasa meloncat pergi dari pohon ke pohon. Karena ingin mengabadikan tingkah laku dari Orangutan, saya dengan ditemani pemandu juga ikut bergerak, mengikuti sambil sesekali mengarahkan kamera kearah Orangutan berada.

Entah kenapa dia meloncat pergi. Apakah memang dia bermaksud untuk mengalihkan perhatian agar anaknya tidak diganggu, atau memang dia sengaja kabur karena merasa tidak nyaman dengan keberadaan kami. Yang jelas, dengan cepat dia melompati pepohonan, dan kemudian menghilang hingga tidak terlihat lagi.

Setelah cukup mengambil dokumentasi, saya dan tim pengamat Orangutan yang lain memutuskan untuk kembali ke camp untuk sarapan, lalu dilanjutkan pulang ke Palangkaraya. Iya, pulang sambil kembali melanjutkan perjalanan menuju destinasi selanjutnya. Dan… itu berarti saya harus kembali trekking selama kurang lebih 3 jam, menyusuri jalur hutan yang menegangkan! Duh!!! Ada yang mau ikutan? Hehee!


Please login to comment
1 COMMENTS
Yayan Yuliansyah
January 19, 2018 at 8:54 AM

cakep gan !!!