NOV 5, 2015

Berendam Bersama Hiu di Pulau Karimunjawa

Written by:
Acen Trisusanto

"Ayok mas! Sini nyebur! Aman!" seru Adi, tour guide yang menemani saya selama dua hari ini di Pulau Karimunjawa.

Sebenarnya, dia adalah anak tetangga homestay yang saya tempati, namun kerap kali dia melihat saya berjalan-jalan sendirian di pulau, tanpa rombongan, membuatnya berkenalan dengan saya.

Ya, saat itu, sebelum pulau Karimunjawa menjadi seramai sekarang, saya melakukan perjalanan sebagai solo backpacker ke pulau tersebut.

100_3101

Untung saya dapatkan karena sendirian, saya mendapat diskon tinggal di homestay milik kepala desa setempat. Berkenalan dengan Adi juga membuat saya dapat berkeliling pulau, mengikuti tour laut seperti para peserta rombongan, namun secara gratis. Mengingat Adi adalah anak dari seorang pemilik operator tour di Karimunjawa.

"Tapi Di, kaki aku....." jawab saya sambil melirik kaki saya yang masih membengkak dan mengeluarkan darah.

"Gapapa mas, hiunya udah jinak. Ayo turun!" seru Adi lagi. Tapi saya masih ragu. Sejinak apapun, menurut hemat saya, hiu dapat merasakan bau darah. Bisa saja predator itu menggigit kaki saya hingga putus.

100_3107

Ohya, mengenai kaki saya.

Sehari sebelum mengunjungi penangkaran hiu ini, saya diajak Adi berkeliling pulau dengan sepeda motor miliknya. Saat itu saya mengiyakan karena bosan juga berhari-hari mengikuti tour laut, snorkeling, melihat sunset. Mumpung gratis, saya ingin mencoba melihat Karimunjawa dari daratan.

Ada banyak tempat yang ditunjukkan Adi. Kapal karam di pelabuhan, lalu mangrove tracking yang saat itu bahkan belum dibuka untuk umum, lalu perumahan suku bugis yang jaraknya sangat jauh dari desa Karimun, juga bentuknya yang sangat berbeda dengan rumah rumah yang ada di  sana. Lalu kami bahkan mengunjungi sebuah pantai yang masih asri, masih banyak batu karang besar yang berserakan di pantai.

100_3030

"Eh, kita bisa gak sih nanjak bukit-bukit itu?" tanya saya kepada Adi. Berhubung saya lebih sering mendaki gunung, melihat pulau Karimunjawa yang banyak bukitnya, saya jadi tertarik untuk mendaki.

"Kalau ke sana gak bisa mas, banyak ularnya. Meskipun buta, tapi kalo kepatok ular ini, pasti langsung mati." jawab Adi.

Saya belum mau mati sekarang.

"Tapi mas, aku tunjukkin makamnya Sunan deh, lumayan agak mendaki dikit, tapi aman." lanjutnya. Saya mengangguk mengiyakan.

Sekejap saja saya sudah diajak Adi menuju makam seorang Sunan yang menghabiskan waktunya di pulau ini pada jaman dahulu kala. Memang, hutan di bukit pulau ini masih sangat rapat. Wajar jika masih banyak sekali hewan-hewan liar.

100_3100

Saat selesai mengunjungi makam, kami bergerak cepat turun bukit. Malang bagi saya, tak terasa tanah begitu licin, saya terpelanting lalu menggelinding ke bawah.

"Mas!" seru Adi.

BUKK!

Saya berhentu karena menubruk sebuah pohon. Kaki saya terluka cukup parah hingga membengkak dan mengucur darah.

Kembali ke penangkaran hiu.

"Ayok mas! Gapapa! Saya jagain!" rayu Adi lagi.

Saya masih sangat ragu mengingat kaki kondisi kaki yang masih tidak memungkinkan. Tapi, kapan lagi bisa berenang bersama hiu dan beberapa ikan predator yang dicap telah jinak itu.

100_3133

Di atas jalur penangkaran, saya bergerak sedikit, mencoba menyeret kaki yang masih sangat pegal dan nyeri untuk bergerak. Beberapa pengunjung melihat saya dengan tatapan nyeri.

IMG_0176

"Oke, jagain ya!" saya meyakinkan diri untuk masuk ke kolam penuh hiu ini. Semoga kaki saya masih utuh nanti.

"Pasti, mas!"

100_3144

Perlahan saya menuruni tangga kecil menuju kolam. Hiu hiu yang tadinya menyebar entah kemana mendadak seperti berkumpul, bergerak beramai-ramai menuju saya. Kali ini bukan keraguan yang muncul, namun rasa takut yang meluap-luap. Ingin rasanya saya menangis saja saat itu.

100_3138

Saya mencelupkan kaki saya yang bengkak ke dalam kolam penangkaran. Lalu kaki saya berikutnya. Sekejap, saya sudah berada di tengah-tengah kolam. Dimana beberapa hiu dan predator lainnya berenang mengelilingi saya. Seperti siap menerkam saya kapan saja.

Gemetaran, saya berlarian menuju ke tangga kembali. Namun ditahan oleh Adi.

"Santai mas, aman kok. Sini aku fotoin."

IMG_0234

Kemudian Adi berenang menjauh dari saya. Naik ke permukaan. Meninggalkan saya sendirian di kolam. Saat itu juga, hiu kembali mengitari saya, dan...

"ADI!!"

Klik.


Please login to comment
1 COMMENTS
Dimas Ombai
January 16, 2018 at 8:27 AM

nice share gan !!!