MAY 30, 2017

Menyibak Curug Tersembunyi di Kaki Pegunungan Halimun-Salak

Written by:
Acen Trisusanto

Waktu sempit tapi kaki gatal ingin memburu adrenalin? Tenang, jika kamu adalah warga Jakarta dan sekitarnya, Bogor bisa menjadi solusi yang sangat apik dan epik.

Selain beragam pegunungan yang tersedia pada tempatnya seperti Gunung Gede, Gunung Pangrango, Gunung Halimun-Salak, banyak atraksi menarik di kota seribu angkot ini. Salah satunya curug. Alias air terjun.

Dari barisan Sentul dan sekitarnya, terdapat banyak curug dengan jenis dan ketinggian tebing yang berbeda, hingga beragam leuwi (kolam) yang punya diameter dan warna air yang berbeda-beda. Sebuat saja Curug Kencana, Leuwi Hejo, Curug Putri, dan masih banyak lagi.

Tapi, setelah semakin banyak pengunjung dan pungli yang tak terkontrol, membuat jajaran curug di daerah Sentul tak lagi menarik. Akhirnya, bersama Febrian, Wildan, dan Adit, kami berangkat menuju sebuah curug di kaki pegunungan Halimun-Salak.

“Jadi ini curugnya masih belum banyak yang tahu?” tanya gua kepada Wildan, our guide saat itu. Pemburu curug yang mungkin telah hapal lokasi-lokasi curug di Bogor di luar kepala.

“Udah, tapi gak seramai dan sebanyak Sentul, bang. Ntar lo liat sendiri deh!” jawabnya sambil tetap fokus menyetir mobil.

“Curug apa sih namanya, Wil?” tanya gua lagi.

“Curug Pangeran, bang.”

Ya, Curug Pangeran namanya. Lokasi tepatnya ada di sekitar Gunung Bunder, Bogor, yang masih berada di kawasan Gunung Halimun-Salak. Untuk mencapainya, bisa menggunakan kendaraan seperti mobil pribadi maupun motor. Dari Jakarta, mengarah ke Dramaga, Bogor, lalu mengarah ke Gunung Bunder.

“Wah bener bukan ya ini jalannya?” tanya Wildan ke Adit. Terlihat cemas saat melihat jalanan yang rusak dikelilingi hutan pinus.

“Udah ini bener kok!” seru Adit.

“Gua belum pernah lewat sini nih.” Wildan terlihat ragu-ragu.

GLEK. Sangat tersembunyikah Curug Pangeran hingga mudah dilupakan kayak gini? Tapi kesasar di sini pun tetap asik, hutan pinus yang ditawarkan di kanan kiri jalan adalah lokasi tepat buat hunting foto.

Setelah Wildan cukup percaya diri melanjutkan perjalanan, akhirnya kami sampai juga di pintu masuk Curug Pangeran. Ternyata, tak begitu tersembunyi seperti yang gua bayangkan. Tapi benar kata Wildan, Curug Pangeran tak seramai curug-curug di Sentul.

Terbaik adalah, airnya benar-benar berwarna biru-toska! Gak sabar rasanya buat segera nyebur dan menikmati kesegaran kolam alami di muka bumi Bogor ini.

“Sabar bang, ke atas lagi, masih banyak spot yang lebih kacau dari ini.” Katanya sambil tersenyum.

Mata gua berbinar, sambil mengangguk mengiyakan, gua, Febrian, dan Adit segera bergegas mengikuti langkah kaki Wildan. 

Wildan tak main-main dengan ucapannya, semakin beranjak ke atas, kami menemukan pemandangan yang benar-benar memanjakan mata. Bebatuan besar berlumut hijau-kuning hingga leuwi-leuwi kecil yang punya warna tak kalah biru-toska.

“Plis, gua nyebur sekarang!” gua berseru setelah menemukan leuwi biru toska yang terlihat cukup dalam, segera menanggalkan pakaian, dan byur!

“Dingin banget airnya!” seru gua gembira.

Lalu disambut Febrian yang ikut merasakan dingin dan segarnya air leuwi ini.

“Mantap! Bening banget euy!” komentarnya sambil menyibakkan air.

Tak hanya satu lokasi, komplek Curug Pangeran menawarkan banyak leuwi yang bisa dinikmati kesegarannya. Semakin ke atas, air kolam semakin berwarna biru kehijau-hijauan dan semakin dingin segar.

Tapi bukan gua kalau gak nyobain lompat dari ketinggian tebing menuju kolam. Meski tak terlalu tinggi, tebing Curug Pangeran cukup terjal dan punya kontur bebatuan yang tak mudah dilewati. Dibanding Curug Kencana, Sentul, debit air yang terjun juga lebih deras.

Siap tak siap gua harus segera menyelesaikan tantangan ini. Seperti biasa, saat berada di atas ketinggian, terutama ketika ingin terjun bebas, nyali mendadak ciut. Bayangan keseruan melompat dari ketinggian berubah jadi sebuah kengerian. Ternyata gua belum cukup siap melakukan ini. Jantung berdebar sangat kencang. Tiba-tiba muncul perhitungan ketinggian tempat gua terjun dan kedalaman kolam.

“Ayo!” seru Wildan dan Adit dari kejauhan. Menyiapkan kamera buat mengabadikan aksi gua.

“Mendadak ngeri gua!” teriak gua. Sambil cengengesan.

Gua memejamkan mata, membuat hati yakin, bahwa gua sudah melakukan ini berulang kali. Gua mulai berhitung, satu, dua, tiga. Saatnya terjun, now or never!

Gua bersiap, memegang erat kamera aksi, lalu melompat setinggi-tingginya, dan…..

“WUHUHHUUUUUU!!”

Saat badan terhempas di udara, rasa takut dan adrenalin bercampur jadi satu. Terutama karena gua gak memejamkan mata, rasanya, alam sekitar ikut tersedot habis dengan gravitasi.

BYUR!

“Seruuuu paraaahhhhh!” teriak gua ketika muncul lagi ke permukaan air. Kolam Curug Pangeran ternyata cukup dalam dan bening sekali!

“Ayok, Feb, lompat!”

“Gak! Gua dah pake baju!”

End.

Oleh: Acen Trisusanto


Please login to comment
1 COMMENTS
Juang Pratama
January 7, 2018 at 7:19 AM

nice info...