Mendaki Sang Legenda, Gunung Arjuno

Dilihat 621 kali

Saya bersama 3 orang teman sudah berkumpul di Terminal Arjosari ketika waktu Ashar lewat. Mereka sebut saja Faisal, Idang dan Umam. Dari terminal kami naik Bus Restu tujuan Surabaya dan turun di Terminal Pandaan. Kami naik bus kelas ekonomi dengan tarif 7.000rb. Setibanya disana kami lanjut naik mobil semacam angkot gitu ke Tretes seharga 10.000rb/orang. Bilang aja ke supir mau ke Gunung Arjuno, nanti bakal diturunin di pos perizinan Gunung Arjuno. Tapi biasanya mereka udah hapal, kalau pada bawa carier pasti ke Arjuno. Kami sampai di basecamp Arjuno jam 8 malam, lalu mengurus perizinan. Tiket masuknya murah, 10.000rb/orang dan itu udah termasuk asuransi.

Kami pilih mendaki lewat jalur Tretes karena dari info yang kami dapat sumber mata airnya melimpah, setiap pos ada mata airnya. Selain itu treknya jelas, karena jalan yang dilewatin adalah jalurnya mobil jeep yang luasnya beberapa kali lipat daripada jalan setapak biasa.

Kemudian kami mendaki ke Pos 1 yaitu Pet Bocor, disebut begitu karena dulu ada pipa yang bocor gitu. Perjalanan malam hari kami hanya bermodal 1 headlamp + lampu anti badai alias semprong. Sebenernya udah nggak zaman sih bawa lampu anti badai, mana pake minyak tanah, nggak terang pula. Yah, tapi lumayanlah. Sejam trekking, kami sampai Pet Bocor dan langsung gelar tenda. Tenda yang kami bawa saat itu Eiger Ambush! Muat untuk 8 orang, diisi kami ber-4 plus logistik aja masih luas.

welirang-dan-gunung-kembar.jpg

Saat waktunya masak, ada kejadian konyol. Dasar emang nggak ada yang tau cara pake kompor portable yang pake gas butana. Awalnya sih meyakinkan, pasang gas ke kompor, besarin volume keluarnya gas, kasih api dan… BOFFF! Kami semua dengan kompaknya teriak! Api yang muncul gede banget, pasti gara-gara terlalu semangat waktu besarin volume keluarnya gas. Dasar ini kerjaannya Idang. Setelah permasalahan kompor beres, kami akhirnya bisa makan, leganyaaa..

Setelah itu kami semua tidur. Tapi si Faisal ini ada-ada aja. Tengah malem waktu yang lain tidur, ada anjing di sekitar luar tenda. Emang berisik tuh anjing, ganggu orang tidur. Nah Faisal ini berniat ngusir anjing itu, dia udah megang pisau lipat buat nakut-nakutin anjing. Tapi sebelum itu terjadi, Idang bangun dan mencegahnya, Faisal pun batalin niatnya tersebut. Esoknya saat matahari belum terbit, kami bangun dan bergegas lanjut ndaki. Jalurnya lebar dan jelas banget karena jalur berbatu yang disusun sedemikian rupa itu adalah jalan buat mobil jeep yang ngangkut belerang.

Ketika lagi asyik nikmati pendakian, langit mulai terang, tanda matahari akan terbit. Dan bingo! Pas banget kami nemu tempat yang lumayan terbuka untuk menyaksikan matahari terbit. Bonus view Gunung Penanggungan. Epic!! Perjalanan masih dengan trek mobil jeep. Ketika kami ber-4 berjalan beriringan, tiba-tiba aja ada suara langkah kaki di belakang. Siapa? Pendaki? Perasaan kami nggak ada tuh pendaki di belakang, kalau pun ada jaraknya pasti jauh. Kami jalan normal-normal aja, nggak cepet nggak juga lambat, tiap break pun paling lama 10 menit.

Lalu seketika saja kami disalip oleh “makhluk” itu. Dia melihat kami, kami pun melihat dia. Dia mengucap “Pamit mas”, kami pun balas berkata “Monggo mas”. Yaa, dia adalah penambang belerang di Gunung Welirang. Setelah nyalip kami, dia tiba-tiba aja udah hilang dari pandangan. Jalannya cepet banget. Maklum, dia udah terbiasa ndaki lewat jalur itu.

trek-tretes.jpg

Jam 7 pagi kami tiba di pos 2, Kop-kopan. Banyak pendaki yang camp, emang lokasinya point of view banget. Tempatnya yang cukup terbuka bikin leluasa buat lihat Gunung Penanggungan dengan jelas. Lumayan lama kami istirahat. Selain sambil sarapan, tempatnya emang bikin betah. Agak ke atas dari Kop-kopan sebenernya ada air terjun super mini, tapi saat kami ke situ airnya nggak ngalir.

Abis dari situ, trek yang dilalui masih sama, jalurnya jeep. Tapi kali ini kami nemu banyak jalan memotong, karena kalau ngikutin trek jeep mah muter-muter. Dan ada satu momen ketika saya lewat jalan pintas, saya dikagetkan dengan adanya kuburan. Mana kuburannya nggak cuma satu. Saya ngga tahu itu kuburan pendaki yang meninggal di gunung atau bukan. Saya nggak baca tulisan yang ada di batu nisannya. Saya melengos ninggalin tempat itu.

Beberapa jam dilalui, akhirnya kami sampai di Pos Pondokan, dan berakhir pula trek jeep. Karena di situ lokasi jeep mulai mengangkut belerang. Di Pondokan pula yang merupakan titik percabangan untuk ke Puncak Arjuno atau Welirang. Ada juga sumber air, meski ngga sederas di kop-kopan, tapi di situ ada bak penampung airnya. Fyi, pos di sana disebut pondokan karena banyak pondok tempat istirahat penambang belerang.

Sebentar aja kami di Pondokan, karena Lembah Kidang nggak jauh dari situ. 30 menit melewati jalan yang relatif landai kami tiba di Lembah Kidang. Kami pun langsung nyari lapak buat gelar tenda, dan yang paling penting makaaan. Tenang, kali ini nggak ada atraksi debus lagi dari Idang, semua aman terkendali. Di Lembah Kidang juga ada mata air. Beda dari pos-pos sebelumnya, di situ sumber airnya ngalir dari celah-celah batu. Airnya kecil, ngisi satu botol aja lama. Mungkin karena saat itu musim kemarau.

Di Lembah Kidang meskipun hari masih siang, jam 3an, tapi dinginnya parah. Saya tiba-tiba ngerasa dingin. Di dalam tenda, Idang tidur sambil menggigil saking dinginnya. Kemudian saya nyari kayu bakar buat bikin perapian malamnya. Tapi alih-alih nunggu malam, saat itu juga saya bikin perapiannya karena udah kedinginan. Setelah api menyala, hawa menjadi hangat. Setelah masalah dingin teratasi, kami tinggal nunggu gelap untuk makan malam dan yang paling ditunggu, molooor. Tidur saya nyenyak banget malem itu, sampai tengah malam kebangun gara-gara Faisal bangun. Bukan gara-gara ada anjing lagi, tapi akibat dia kedinginan dan minta nyalain perapian.

kop-kopan.jpg

Setelah bangun kami nggak tidur lagi, soalnya mau sekalian summit attack. Jam ½ 1 dini hari kami mulai summit attack. Perjalanan dari Lembah Kidang cuma ada petunjuk berupa tali rapia yang diiket di pohon. Jadi harus bener-bener jeli lihat rapia, mana jalannya kadang bercabang yang bikin bingung. Mana yang summit attack paling awal cuma kami ber-4 pula.

Gara-gara Umam dan Idang cerita yang mistis tentang Arjuno waktu di perjalanan ke Tretes, saya jadi watir sama yang begituan. Jadi di Arjuno itu ada pos namanya Pasar Dieng atau biasa disebut Pasar Setan. Kenapa begitu? Soalnya kalau malam di situ suka ada pasar, iya pasar! Mereka pada dagang di situ. Mereka bukan manusia, tapi “makhluk halus” dalam tanda kutip. Konon, seorang pendaki pernah bermalam di kawasan Pasar Dieng. Saat malam hari, dia mendengar suara gaduh di luar tenda. Dia keluar dan melihat pasar yang ramai. Lalu dia berkeliling dan membeli sebuah jaket. Paginya, suasana di sekitar tendanya sepi. Jaketnya masih ada, tapi uang kembaliannya berubah jadi daun.

Sepanjang perjalanan dari Lembah Kidang awalnya kami sering banget break, apalagi kalo ada tanah datar, tergoda sudah. Tapi saat sampai Pos Pasar Dieng itu kami kompak lanjut terus, nggak ada yang minta break. Pikiran kami kayaknya sama semua waktu di situ makanya kompak.

Lumayan lama perjalanan ke puncak, udah berjam-jam kami belum sampai. Mana kami sempat kena PHP beberapa kali. Jadi saya lihat ada dataran yang paling tinggi diantara yang lain, saya kira itu puncak. Lalu saya berkata, “Puncak udah di depan, udah deket!”. Tapi saat udah sampai, taunya bukan, ternyata ada lagi yang lebih tinggi. Begitu terus beberapa kali. Kami beri nama Arjuno ini Puncak PHP! Dalam arti sebenarnya.

puncak-arjuno.jpg

Kami juga sempet ketipu sama sebuah fenomena alam. Saat saya lihat dari jauh, ada rerumputan tertutupi sesuatu berwarna putih. Saya kira itu abu, soalnya ada bekas api unggun juga. Tapi saat saya lihat dari dekat, itu es! Iya beneran, ketika saya pegang dan itu asli es! Nggak mungkin kan ada yang bawa es balok terus diserut di atas gunung, ngapain coba? Tapi sumpah keren! Pertama kali saya lihat es akibat fenomena alami, bukan hasil bekuin air di freezer. Ini mungkin akibat suhu di situ minus sampai terbentuk es gitu. Nggak kebayang dinginnya gimana.

Akhirnya jam 6 pagi, barengan sama sunrise, kami sampai di Puncak Arjuno! Setelah kena PHP beberapa kali, kami beneran sampai puncaknya! Puncaknya sih nggak luas, ada bebatuan gede sama ada bendera Indonesia + plang Puncak Arjuno. Pemandangannya jangan ditanya, udah sunrise, samudra awan, kelihatan juga tuh Puncak Welirang yang lagi ngebul ngeluarin asap. Juga ada Gunung Kembar. Dalam arti sebenarnya yaa. Emang gunungnya ada 2 kok, terus tingginya hampir sama, makanya dinamain Gunung Kembar.

Itulah perjalanan saya saat mendaki Gunung Arjuno. Perjuangan selama mendaki 3 hari 2 malam terbayar dengan pengalaman tak terlupakan yang diberikan oleh Gunung Arjuno.