Merangkai Pitutur Alam Jalur Batur

Dilihat 925 kali

Munafik! Meski katamu tak terujar tapi hatimu memendam hasrat. Katanya tidak ingin mendaki puncak tinggi karena fisikmu tak mampu, tapi nyatanya hari ini kamu menyusuri jalur gelap. Merayapi terbing terjal hingga nyaris terjungkal. Nyalimu mungkin setinggi puncak itu. Tapi ingat nyawamu cuma satu dan ia bisa hilang ketika jantungmu tak mampu memompa darah ke seluruh badan tambunmu.

***

Kegagalan menapakan kaki di Kinabalu dua tahun lalu dan berubahnya pola hidup akibat mutasi kerja menggugurkan impian tentang puncak-puncak tinggi. Trip nyaman menjinjing koper menjadi pilihan. Akibatnya badan menggelembung tanpa terkendali hingga angka timbangan menunjukan tiga digit.

5.jpg

Untuk apa olahraga dan mengontrol berat badan, tak akan pernah ada trip ekstrim yang membutuhkan fisik prima dan berat badan ideal. Libur akhir pekan tak jauh-jauh dari pantai, Singapura dan ujung-ujungnya nongkrong sambil melumati kudapan.

Hasil MCU penghujung tahun lalu menyatakan nilai kolesterol sudah di atas ambang normal. Tanpa perlu mengulik berkas hasil MCU, julukan obesitas pun sudah terpampang nyata di perut. Dokter berkali-kali menyarankan untuk berdiet dan berolahraga. Tapi sungguh menjadi langsing bukan motivasi yang kuat. Jika baju lama tak muat berarti ada alasan untuk belanja bukan?

Hingar bingan Kuta dan Ubud membawa saya merepah sepi di sisi danau Batur. Tak ada rencana panjang hanya mengikuti kata hati. Kesibukan pekerjaan tak memberikan kesempatan mencari informasi wisata Bali di google. Hingga akhirnya libur itu tiba dan saya tergagap akan kemana?

Sejujurnya Bali tak pernah masuk daftar destinasi wisata seperti Singapura dan Malaysia. Jika akhirnya saya berada di sini mungkin itu takdirNya. Agar mata ini terbuka, jangan terlalu jumawa dengan trip anti mainstream. Semua tempat yang diciptakan Tuhan itu istimewa, termasuk sawah di belakang rumah yang mungkin kamu anggap biasa saja.

Usai melalui perjalanan panjang Ubud ke Kintamani, laju sepeda motor saya hentikan di atas bukit menuju Besakih . Terkagum melihat keindahan gunung Batur dengan gugusan bukit di sektar gunung seolah menaungi danau berwarna biru hingga toska. Andai tahu Kintamani lebih damai, mungkin sejak beberapa hari lalu tak akan bermalam di Kuta dan Ubud.

“Kapan ya saya bisa menyapa Batur lebih dekat?” Seutas doa melintas di benak.

Tak menunggu hari doa itu dijabah Tuhan. Seorang pria yang baru kenal ketika mencari penginapan menawarkan paket pendakian ke gunung . Meski berkali-kali bibir saya menolak tapi hati saya terlonjak girang. Ya, kata hati tak harus kamu ingkari dengan logika. Berat tubuhmu yang berlebih tak akan mampu membawamu ke puncak sana.

2.jpg

Jam tiga suara ketukan pintu memangkas impian indah. Rasanya hanya sepertiga malam saya tidur. Dalam dekapan dingin udara Kintamani motor saya gas menuju Toya Bungkah , titik awal pendakian. Tanpa memberi jeda beristirahat , pemandu mengajak saya menyusuri jalan setapak gelap. Cahaya pucat bulan sabit bersinar sekenanya merambah dasar hutan pinus. Kesadaran saya belum pulih, rasanya nyawa masih tertinggal sebagian di kamar hotel. Tapi tubuh saya mulai protes kekurangan oksigen. Jantung berdetak semakin kencang berusaha memenuhi asupan oksigen dengan memompa kuat-kuat.

Satu tarikan napas tak cukup dan otak pun memerintahkan paru-paru menghirup udara lebih dalam dan lebih sering. Hingga terdengar suara terengah-engah menakutkan. Sampai di pos satu fisik saya protes hebat. Dada terasa makin sesak bagai di lautan dalam. Batuk pun tak terelakan hingga cairan di dalam dada terburai keluar. Alergi asma yang sudah berpuluh tahun hilang kini datang menyerang.

“Tuhan bagaimana jika….” Pikiran buruk saya tepis. Dengan keyakinan dan doa, napas yang sudah compang-camping saya tata ulang. Langkah kaki diperlambat disesuaikan dengan kecepatan jantung memompa darah, agar ototnya tak lelah lalu berhenti untuk selamanya.

1.jpg

Langkah saya melambat, rombongan meninggalkan saya di belakang bersama seorang pemandu super sabar bernama Komang. Penuh semangat pria berusia 20-an tahun menyemangati saya dengan obrolan. Tapi konsentrasi saya hanya pada napas, celotehnya yang kadang nyeleneh nyaris tak terdengar.

Pelan saya merayapi lereng bukit yang kini dipenuhi rumput tinggi. Jantung dan paru-paru sudah beradaptasi dengan baik, tapi terjalnya jalur pendakian menguji kekuatan kaki. Kadang goyah karena tak mampu menahan beban terlalu berat. Saya harus lebih berhati-hati rasanya tak bijak jika pada akhirnya batu yang saya injak rapuh menimpa pendaki di bawah sana.

Rombongan saya sudah berada jauh di atas. Saya tak berani menatap puncak menjulang, takut semangat mengendur tak kala melihat jarak masih jauh. Pandangan saya luruskan ke depan , memandang optimis jalur yang akan saya lewati. Bukankan begitu seharusnya hidup, rasanya tak bijak jika terlalu sering melihat ke bawah atau ke atas.

4.jpg

Beruntung sebelum matahari terbit saya sampai di puncak. Meski matahari tertutup awan saya masih melihat rona jingga. Abang dan Agung terlihat gagah menjulang tinggi. Saya makin terkagum dengan puncak tinggi di Bali. Hamparan danau pelan-pelan tersapu kabut membuat pagi ini semakin syahdu.

Tiba-tiba Rinjani memuntahkan asap putih. Ia terbatuk. Bulu kuduk saya merinding, apa yang terjadi jika saya berada di puncak sana? Fenomena alam mengundang rasa kagum sekaligus takut. Gunung Batur terakhir meletus di tahun 2005 dan letusan paling dasyat terjadi pada tanggal 2 Agustus dan berakhir 21 September 1926.

Sinar matahari berangsur menyinari sebagian punggung bukit, menyisakan bayangan hitam di kaldera. Saya makin enggan untuk turun ke bawah, terkagum pengalaman mendaki pagi ini. Jalur pendakian Batur tergolong ramah bagi pendaki pemula seperti saya. Ia tak sekejam Kerinci apalagi Rinjani. Namun pengalaman ini bagi sebuah pitutur alam. Bagaimana seharusnya saya menjaga stamina tubuh jika ingin terus menjelajah nusantara dan berpetualang.

Kelak saya ingin tetap bisa traveling di usia senja , 60 tahun bahkan 70 tahun. Bagaimana dengan kamu?

Tips Mendaki Gunung Batur 1. Datanglah ke desa terdekat dari gunung Batur yaitu Toya Bongkah. Di sana anda dapat memperoleh pemandu, untuk harga dapat bernegosiasi.

2. Ada tiga jalur pendakian : pendek, menengah dan panjang. Semakin panjang jalur jelas semakin seru karena di jalur panjang anda juga akan diajak ke goa dipenuhi kristal. Namun pertimbangkan fisik sebagai pendaki pemula.

3. Meski jalur pendek cukup mudah tetap menyewa pemandu agar tidak membuang waktu dan bisa sampai di puncak tepat waktu, saat matahari belum terbit.

4. Meski dengan berkendaraan motor membutuhkan 3 jam perjalanan Kuta-Kintamani, sebaiknya menginap di Kintamani karena pendakian terbaik dimulai saat pukul tiga pagi

4. Bawa telur mentah yang nantinya dapat direbus digundukan tanah yang mengeluarkan uap panas.

5. Untuk rileksasi usai mendaki dapat berendam di sumber air panas yang berada di kaki gunung Batur atau dekat danau Batur.