Terdampar di Kedamaian Telaga Taman Hidup

Dilihat 360 kali

Danau di atas gunung memang mempunyai keunikannya tersendiri, nggak banyak pula gunung yang punya sebuah danau. Yang paling terkenal apalagi kalo bukan Ranu Kumbolonya Semeru, yang disebut sebagai surganya Gunung Semeru. Atau Danau Segara Anak punya Gunung Rinjani. Mungkin nggak banyak yang tau kalau ada lagi gunung yang punya danau. Ya, Gunung Argopuro dengan Telaga Taman Hidupnya. Meskipun namanya telaga, ya sama aja deh. Konon, kalau berteriak di sekitar Telaga Taman Hidup nanti akan ada badai datang!

Saya merencanakan pendakian ke Gunung Argopuro bersama seorang teman, Yogi. Segalanya udah disiapkan, termasuk perbekalan selama 5 hari. Kami melalui perjalanan panjang dari Malang menuju Desa Bermi, Probolinggo. Perjalanan kami ke Bermi nggak mudah. Pertama dapat info yang kurang update, dari internet saya tau ada bus dari terminal Probolinggo yang langsung ke Bermi. Dan itu ada cuma ada 2 kali, pagi dan siang. Saat sampai di terminal Probolinggo, ternyata jadwalnya berubah jadi jam 4 sore. Terpaksa kami naik bus lain dan turun di Pajarakan.

Di Pajarakan kami sempat tanya-tanya, tapi dapat info yang ambigu. Ada yang bilang kalau bus ke Bermi biasa lewat sekitar jam 2, ada juga yang bilang kalau busnya itu sore. Akhirnya kami nunggu dulu. Eh begitu udah jam 2 lebih, busnya nggak lewat-lewat. Dari pada buang waktu, kami naik angkutan desa, lalu oper naik ojek ke Bermi. Begitu turun dari angkutan desa, kami langsung diserbu oleh banyak orang. Udah kayak artis. Bedanya ini yang nyerbunya tukang ojek, kami jadi rebutan beberapa tukang ojek. Saya sampai pusing saking banyaknya yang nyerbu. Mungkin gitu ya rasanya jadi artis saat diserbu para fansnya. Mending, lah ini tukang ojek.

DSC05048.JPG

Lalu kami memilih satu dari banyak tukang ojek dan berangkatlah kami ke Bermi. Sesampainya disana saya baru tau kalau pendakian ditutup! Karena malamnya terjadi kebakaran di sekitar jalur pendakian. Perasaan saya campur aduk, antara kecewa dan lega. Kecewa karena udah jauh-jauh datang tapi nggak bisa ndaki. Dan entah kenapa ada perasaan lega. Mungkin karena saya sendiri merasa nggak siap sama pendakian itu.

Setelah ngobrol-ngobrol, ternyata masih ada peluang untuk mendaki meski cuma sampai Telaga Taman Hidup, karena lokasi kebakaran cukup jauh dari telaga. Dari pada balik kanan pulang saat itu juga, kami putuskan untuk mendaki sampai telaga dan ngecamp disana. Sebelum kami, paginya ada satu rombongan pendaki yang mendaki juga sampai telaga.

Kami berangkat sekitar jam setengah 4 sore. Perjalanan diawali dengan melewati persawahan milik warga. Kira-kira 30 menit saja kami mulai memasuki hutan. Vegetasinya rapat. Kata pak polisi di Polsek Kurcil, perjalanan ke telaga memakan waktu sekitar 4 jam. Lama juga. Jauh berarti, lumayan. Pendakian kala itu rasanya saya bener-bener nggak siap, sering banget saya istirahat, carier yang saya gendong berat banget. Sampai saya sering bertukar carier sama Yogi. Biasanya saya jarang tuker-tukeran carier saat ndaki.

Setelah 2 jam berjalan dan hari udah mulai gelap. Kami putuskan untuk mencari lapak untuk mendirikan tenda di sekitar jalur. Perjalanan masih 2 jam lagi, dan kami juga nggak yakin sejauh mana itu. Kondisi kami udah nggak memungkinkan untuk lanjut, capek banget. Untungnya ada sebidang tanah yang cukup untuk mendirikan tenda di samping jalur pendakian.

DSC05217.JPG

Saya merebahkan badan dalam tenda, rasanya nikmat sekali! Meski posisi tanah agak miring dan nggak rata alias berbatu, jauh banget dari kata nyaman kalau dibandingkan dengan empuknya kasur di kostan. Padahal mah Kasur di kostan juga udah tipis. Heuheu.. Namun itu sangat nikmat setelah satu hari perjalanan yang sangat melelahkan. Kemudian kami masak-makan dan dilanjut tidur supaya besoknya kondisi bisa fit.

Esoknya jam setengah 7 pagi kami udah caw meninggalkan lokasi camp. Masih dengan melewati medan yang menanjak di tengah rimba. Baru 2 jam kemudian kami menemukan tanda-tanda telaga, diawali dengan jalur yang tiba-tiba menurun (sebelumnya nggak ada kata turun, nanjak terooos), lalu diikuti dengan petunjuk arah menuju telaga. Akhirnya kami tiba di telaga! Rasanya bak sebuah oase di padang pasir. Kalau ini sebuah telaga di tengah hutan. Telaganya di kelilingi oleh lebatnya hutan, ada sebuah dermaga yang menjorok masuk beberapa meter ke tengah telaga, airnya tenang, damai rasanya berada di sana, ini toh yang namanya Telaga Taman Hidup. Amazing! Nggak kalah kok sama Ranu Kumbolo!

DSC05118.JPG

Saat kami tiba, ada satu gerombolan pendaki yang sedang siap-siap untuk pulang, 6 orang laki-laki semua. Mereka menyapa kami.

“Mas, darimana mas?”, tanya salah satu dari mereka. “Dari Malang mas, kalo masnya?”, jawab saya. “Wah kami juga dari Malang, dari UB”. “Lho kami UB juga, PTIIK”. “Oalah, kalau kami dari FTP”.

Ya, mereka ternyata satu universitas dengan saya dan Yogi. cuma beda fakultas doang. Lalu mereka bercerita kalau mereka awalnya ingin mendaki Gunung Arjuna, tapi saat sampai di pos perizinan, taunya Arjuna tutup. Akibat kebakaran juga, mereka akhirnya berpaling ke Argopuro. Lalu saat ke Argopuro, kondisinya nggak beda jauh. Pendakian di tutup juga. Tapi untungnya boleh mendaki sampai Taman Hidup. Yah nggak jauh beda kayak saya dan Yogi. Niat awal kami juga sebenernya Arjuna, tapi kami tau Arjuno kebakaran dan jalur pendakian ditutup dari berita. Ya sudah kami beralih ke Argopuro, eh kebakaran juga. Yah nasib kami semua sama, berakhir di kedamaian Telaga Taman Hidup.

Saya dan Yogi menuju dermaga ke tengah telaga untuk minum airnya. Air telaganya terlihat nggak terlalu jernih. Yah kalo di gunung mau gimana aja wujudnya tetep diminum. Tapi saat diminum, airnya seger kok. Lelah yang saya rasakan sepanjang perjalanan hilang seketika, sumpah! Yang ada dipikiran saat di perjalanan, kalau sampai akan leyeh-leyeh tiduran. Tapi kenyataannya saya malah asyik menikmati keindahan telaga sambil mengabadikan momen.

Kami rencananya hanya sebentar saja dan pulang saat siang. Kami kemudian masak untuk makan besar kami, karena perbekalan 5 hari tak terealisasi, kami gunakan semampu perut kami menampung. Selagi masak, rombongan dari FTP berpamitan pulang. Entah disengaja atau nggak tahu, ada beberapa dari mereka berteriak. Udah tau kan mitos telaga taman hidup apa? Dan percaya atau tidak, langit tiba-tiba mendung! Waduh masa ada badai, seketika kami langsung mendirikan tenda untuk jaga-jaga kalau terjadi badai. Namun setelah beberapa lama, hujan nggak turun. Hanya muncul kabut yang cukup tebal.

DSC05244.JPG

Setelah makan, kami berkeliling di sekitar telaga. Kami menemukan ada bekas kebakaran dan terlihat seperti baru. Syukurlah kebakaran tersebut bisa padam dan tidak menyebar ke sekitarnya. Setelah puas berkeliling dan langit juga semakin gelap, kami meninggalkan Telaga Taman Hidup. Sewaktu perjalanan turun, baru deh hujan turun dengan deras. Untungnya kami udah dekat dengan desa. Nggak tau deh kalau misalnya masih di telaga, beneran badai kayaknya. Saya juga percaya nggak percaya sama mitos begitu. Tapi yang saya alami memang seperti itu kejadiannya. Jadi kembali ke masing-masing aja mau percaya atau nggak.

Pendakian kali ini saya gagal mendaki sampai ke puncak, memang lagi kebakaran. Tapi nggak bisa dipungkiri kondisi saya juga nggak cukup mampu buat mendaki sampai puncak kalau dilanjutkan, saya nggak yakin. Ini mungkin sebuah isyarat bahwa saya harus kembali lagi dengan kondisi siap mental dan fisik supaya bisa menggapai puncak Argopuro. Meski gagal ke puncak, setidaknya saya merasakan kedamaian berada di Telaga Taman Hidup. Terima kasih Taman Hidup, saya akan kembali!